
Pagi harinya.
Aku bangun dan kembali memulai hari. Berusaha bertahan karena aku bingung mau lakukan apa jika saja minta cerai dari Mas Dimas.
Aku mandi bersama Audrey. Tapi tatapan anakku terus tertuju pada wajahku.
"Kenapa Audrey? Kok natap wajah mama terus?" tanyaku bingung.
"Hem, mama menangis ya?"
Aku tersenyum palsu. "Hem, tidak sayang. Mama baik-baik saja," jawabku asal.
"Tapi mata mama bengkak. Kata guru kalau mata bengkak itu tandanya nangis."
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Malu rasanya mengakui jika aku menangis semalaman.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku memakaikan pakaian Audrey, menyendok bekal dan memasukkannya ke dalam tas.
Kemudian aku menemaninya berangkat ke sekolah. Rumah masih sepi, karena aku tau, pasti dua sejoli itu masih di kamar.
Sengaja, hari ini aku hanya memasak makanan untuk diri sendiri dan anakku. Untuk Sarah, biarlah wanita brengsek pengadu domba itu memasak makanannya sendiri. Sudah cukup aku dibodoh-bodohi olehnya selama tiga bulan ini.
__ADS_1
Rencananya, setelah mengantar Audrey aku akan ke rumah Ayra. Rumahnya cukup jauh dari sini. Maka dari itu aku harus menyiapkan uang lebih jika ke rumahnya. Tapi, aku malah lupa membawa ongkosku. Alhasil harus kembali ke rumah.
"Mia, kenapa kamu belum memasak buat Sarah, hem? Kamu lupa dia sedang hamil?" kata mas Dimas yang menghadang ku di depan pintu.
Aku berdecak kesal. "Waktu aku hamil Audrey aku masak sendiri loh mas. Kenapa si Sarah harus aku yang masakin?"
"Tapi dia ngidamnya mau makan masakan mu," kata mas Dimas tanpa memikirkan perasaanku.
Hal ini membuatku menghela nafas. "Eh Mas. Selalu makan masakan ku bukan ngidam namanya. Orang ngidam berbeda tiap harinya, tapi si Sarah terus maunya makan masakan ku. Mas tidak curiga, dia tidak bisa masak? Oh, aku paham ini alasan si Sarah dicerai suami masa lalunya. Karena dia tidak bisa masak!" aku melangkah tanpa memperdulikan suamiku yang marah di belakangku.
Setelah mendapat uang lebih, aku pergi dari rumah.
"Jalan-jalan, suntuk rasanya terus di rumah!" jawabku singkat.
Mas Dimas tidak mengatakan apapun, sehingga aku bisa dengan bebas keluar dari rumah.
Setelah menempuh perjalanan selama sejam menggunakan angkot, aku sampai ke rumah adikku Ayra.
Aku memencet bel rumahnya, saat dia membuka pintu, tampak senyuman di wajahnya. "Kakak?!" tanyanya terkejut. Tiba-tiba Dia memelukku erat, "Kakak sudah lama tidak datang!" aku merasakan Ayra sedikit menangis.
"Kakak sibuk dengan kehidupan kakak, Dek. Jadi sering lupa kalau punya adik," kataku bercanda.
__ADS_1
"Ah, kakak kejam! Lupa sama adik sendiri!"
Aku tersenyum lucu. Kemudian mencapit pipi tembem adikku, "Kamu masih manja seperti dahulu dek."
"Pada kakak tetap boleh kan?" tanya Ayra mengajukan kelonggaran.
"Sangat boleh."
Ayra tersenyum senang, kemudian merangkul pinggangku dari samping. "Ayo masuk kak," katanya.
Aku masuk ke dalam rumah mewah adikku. Di dinding terpajang foto pernikahan, foto anak kembar Ayra saat masih kecil, hingga besar berusia 10 tahun.
Ya, Ayra lebih dahulu menikah. Aku berusia tiga puluh tahun ini. Sedangkan adikku berusia 29 tahun.
Jadi adikku sudah menikah saat dirinya berusia 19 tahun. Ia dijebak mantan kekasihnya sendiri membuatnya hamil dan melahirkan di usia yang terbilang muda.
Sedangkan pria yang melakukan itu adalah suami Ayra sekarang, dia adalah pebisnis sukses yang kebetulan menjadi pria playboy.
Tapi tenang, Ayra hidup sangat mewah dan penuh kasih sayang serta perhatian dari suaminya sekarang karena dia berhasil menaklukkan sifat playboy adik iparku ini.
"Kakak datang karena apa?" tanya Ayra setelah dia menghidangkan teh dan cemilan di atas meja.
__ADS_1