
Mia keluar dari ruko setelah mencuci wajahnya. Sesuatu yang selalu membuatnya rileks dan nyaman. Tapi setelah keluar, Mia tidak mendapati Audrey di sana. Padahal jarak mereka hanya berselang sepuluh menit.
"Kemana anak itu?" gumam Mia yang memiliki firasat buruk. "Ya Tuhan, kenapa rasanya hatiku tak nyaman ya?" Mia menyentuh dadanya dan menoleh ke sana kemari. Saat melihat ada jejak sepatu nomor 20 yang Mia kenal jelas itu milik siapa. Audrey.
"Mungkin aku harus mengikutinya." Mia memutuskan berjalan dengan panduan jejak sepatu. Setelah berjalan hampir semenit, akhirnya Mia menemukan Audrey. Tapi, Anak itu tampak ditarik oleh seorang pria. Audrey berteriak minta tolong, terdengar sangat cemas dan ketakutan.
Melihat itu, membuat Mia segera menarik tangan Audrey dan buru-buru menggendongnya.
"Kamu mau apa dengan anak saya?!" teriak pria yang sebelumnya menarik tangan anak itu.
Kening Mia mengerut. Dia sangat tahu seperti apa anaknya. "Enak saja, ini anak saya!"
Karena teriakan Mia, semua banyak orang yang mengalihkan pandangannya.
"Kembalikan anak saya, kamu jangan macam-macam padanya!" sang pria terus berusaha mengklaim kalau anak itu adalah miliknya.
Tentu saja Mia tidak terima, "Saya sudah melahirkan dan membesarkannya! Kamu mau berbuat apa sampai menarik tangannya huh?!"
__ADS_1
"Heh wanita, coba turunkan anak itu dan lihat baik-baik. Dia siapa?" suara pria itu merendah.
"Tidak," jawab Mia menolak. "Saya tidak mungkin percaya pada anda yang mau berbuat kejahatan pada anak saya. Permisi!" Mia berjalan pergi dari hadapan pria itu.
Namun saat melihat Audrey berdiri di hadapan, Mia mengerutkan kening. 'Sebenarnya apa yang terjadi saat ini.'
"Mama kenapa menggendong anak orang?" suara Audrey yang kebingungan.
Untuk itu Mia menurunkan anak yang digendongnya tersebut. Dan melihat secara bergantian wajah Audrey dan anak yang seklilas mirip dengan Audrey. Dari rambutnya yang lurus, dan memakai seragam yang sama percis seperti Audrey.
"Siapa kamu nak?" tanya Mia terkejut, Audrey dan anak sebelahnya hanya memiliki sedikit perbedaan, hanya sedikit. Audrey memiliki poni sedangkan anak sebelahnya tidak.
'Aku ingat, hanya memiliki satu anak. Tapi kenapa yang ditangkap mataku ada dua?" Mia berpikir keras.
Tiba-tiba teringat satu hal. Dahulu, ia divonis hamil bayi kembar. Tapi salah satu bayinya tidak selamat bahkan Mia melihat jasatnya dengan mata kepalanya sendiri. Jasat bayi itu memang laki-laki, bukan perempuan.
"Kamu …" Mia menunjuk
__ADS_1
"Ma …"
HAH?! Apa lagi ini?
"Maaf dek, Tante salah orang. Sekarang kembali ke Ayah kamu saja ya. Sini biar Tante antar," ajak Mia karena tidak ingin buat masalah semakin runyam.
Beruntungnya anak itu nurut. Mia mendekat ke arah pria yang sebelumnya menunggu dengan berkacak pinggang.
"Sudah puas bermain-main dengan anak saya?" tegur pria itu dengan tatapan kesalnya.
"Maaf. Tadi saya kehilangan anak, dia melarikan diri setelah berdebat. Karena melihat anak yang mirip dengan anak saya yang ditarik-tarik anda, saya pikir anak itu anak saya. Padahal bukan. Maaf sekali lagi ya."
Mia sampai menundukkan kepalanya berkali-kali karena rasa bersalah. Kemudian menyerahkan anak perempuan itu.
Mia khawatir masalah ini akan disampai ke rana hukum seperti kantor polisi. Tapi pria bertubuh sedikit gempal dan perut buncitnya itu tampak tidak terlalu mempermasalahkannya.
Saat Mia berbalik, justru Audrey sudah menghilang.
__ADS_1
"Mau lari kemana lagi anak itu?" Mia sampai mengatur nafasnya berkali-kali karena lelah. Entah dia dikerjai atau gimana, sampai mendapat masalah seaneh ini.