Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
22. Seperti Ini Setiap Hari?


__ADS_3

POV Mia.


Pemikiran sultan memang agak beda.


"Kakak akan berusaha mencicil ruko ini sama kamu setiap gajian, dek," ucapku karena merasa sungkan. Adek ku terlalu 'royal' mengenai uang kalau begini.


"Ara senang kok, bantuin kakak. Jadi tidak perlu membayar. Semangat berjuang yang pernah kakak berikan sama Ara sewaktu hati mas Dean bukan sama Ara sudah berbuah kak. Mas Dean sudah takluk sama Ara, dan 87% dari seluruh gaji mas Dean adalah milikku, serta sudah 10 tahun, sejak masa itu, kini kakak harus menikmati buah perkataan kakak." Sepertinya Ayra sedang berusaha meyakinkanku.


"Aku memaksa dek, aku akan berusaha membayar. Anggap saja aku sedang menyewa padamu."


Akhirnya Ayra mau, "Ya sudah kalau begitu, aku akan katakan, semangat kerjanya ya kak. Hasilkan uang yang banyak untuk kebutuhan kalian dan cicilan rumah ini. Dan supaya tidak memberatkan kakak, sebaiknya 20% dari penghasilan kakak itu saja yang kakak dijadikan bayaran."


Uh! Gemasnya. Yang ada adikku membuatku berada di zona nyaman.


"Kalau 1M, kakak akan beri 5 juta sebulan, begitu saja. Lantaran kamu tahu lah, kakak tidak mau berhutang." Jawabku sesingkat mungkin.

__ADS_1


"Hem, oke. Asalkan kakak harus makan kenyang dan segala kebutuhan Audrey harus terpenuhi. Aku tidak mau memberatkan kakak, apalagi sebentar lagi kakak akan jadi janda, aku tahu itu sulit meski amit-amit aku mengalaminya."


Akhirnya kami masuk ke dalam ruko itu. Tidak disangkanya, semua sudah berisi. Mulai lantai pertama, berisi meja kasir dan rak berjualan.


"Mungkin, sementara ini kakak harus berjualan. Jadi aku meminta mas Dean mengirim rak berjualan."


"Se-Subuh ini?" tanyaku semakin tidak paham jalur pemikiran adikku.


"Hem, kakak tidak perlu memikirkan berapa harganya."


Di rumah Dimas.


POV Dimas.


Aku menatap seksama layar CCTV yang memperlihatkan gerak-gerik Mia dari pukul 7 malam sampai 3 subuh saat mobil adik iparku menancap gas ke suatu tempat. Semua tampak sudah direncanakan, dan entah mengapa hatiku sakit dengan tidak adanya Mia dan Audrey.

__ADS_1


Segalanya cukup membingungkan untukku, 'Apa keputusanku kali ini lagi-lagi tidak tepat sasaran atau salah? Mia jelas berkata ia tidak ingin ada Sarah di rumah ini, dan semuanya di luar nalar ku. Lantara selama ini Sarah begitu baik, dia tampak seperti perempuan tertindas yang wajib dibela.'


Entahlah, aku bingung.


"Mas … aku lapar, tidak ada lauk kah?" suara Sarah dari dapur. Seketika pikiran ini mencetak satu pertanyaan, 'Sarah mau menyuruhku masak?'


Ku datangi Sarah supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Melihat segala bumbu masak, ikan dan daging mentah bahkan sayur ada di kulkas.


"Tinggal masak kenapa sih? Semua sudah tersedia di kulkas. Minggu ini kamu kan tidak mual-mual lagi, jadi masak lah," pintaku dengan lembut.


Baru kali ini kusadari, Sarah tidak pernah memasak. Semua disiapkan Mia, segala keperluanku mulai dari pakaian sampai makanan.


Sedangkan Sarah? Aku hanya melihatnya santai-santai sambil bermain hp atau menonton televisi di kamar. Awalnya kupikir Sarah melakukannya karena kehamilan, namun apakah Mia selalu disuruh-suruh seperti ini dengan nada suara cempreng Sarah yang membudekkan telinga?


"Iya iya deh! Aku masak!" sekilas terlihat Sarah merotasikan bola matanya. Dia seolah tidak ikhlas melakukan tugas yang seharusnya dikerjakan para wanita pada umum nya.

__ADS_1


__ADS_2