
POV Dimas.
"Audrey mau Papa tidur di kamar yang sama dengan Audrey dan Mama."
Ucapan putriku bagai sesuatu yang menusuk jantung ini.
Setelah perceraian yang memisahkan kami sebulan lalu, aku berusaha mengikat tali silaturahmi dan hubungan darah yang seharusnya terjadi sejak awal.
Tapi, dari segala usaha itu, hanya satu yang tidak boleh dilakukan. Tidur bersama dalam satu ruangan, satu ranjang. Masih kuingat betapa Mia datang dengan kemarahan besar. Sehingga kuputuskan untuk pergi dari rumah Mia.
"Papa mau kemana?" Audrey menghentikan langkahnya saat melihat aku duduk di motor dan mulai menghidupkan mesin.
Tentu saja aku terdiam sebentar. Berpikir, jawaban apa yang tepat untuk Audrey.
"Papa ada urusan, maaf ya sayang." Aku mengacak rambut Audrey dan segera pergi.
"Dimas!" kupelankan laju motor saat tiba-tiba mendengar seseorang menyerukan namaku.
Melihat lewat kaca spion, dan menemukan Dean, berdiri di pagar rumahnya yang besar dan menatapku.
__ADS_1
Kuputar balik arah, dan turun dari motor.
"Kenapa adek Ipar?" tanyaku lembut.
"Wajahmu tampak begitu kusut hari ini. Karena aku sedang kesepian, aku mau ajak kamu berbicara sebentar," kata Dean penuh semangat.
"Lah? Kesepian, Memangnya kemana adik ipar Ayra dan keponakan?"
"Hem, mereka shoping. Biasalah, kerjaan para wanita. Apalagi seluruh anak-anak dibawanya, hehehe."
Aku memperlihatkan senyum seadanya. Miris rasanya melihat rumah tangga Dean dan istrinya Ayra begitu harmonis. Bahkan sudah 12 tahun pernikahan tetap langgeng seolah badai pernikahan tidak menghampiri mereka.
"Jadi gini, Dek …"
"Oh ya, duduk dulu. Duduk, kasihan berdiri terus capek." Dia menghentikan pembicaraanku.
Setelah duduk, akupun menceritakan segala kerisauan hati ini. Memang Aku dan Dean jarang bertemu, hanya sekali dua kali tapi aku yakin Dean bisa memberikan solusi terbaik tanpa membongkar rahasia pada orang lain. Yang istilah kerennya ‘gosip’.
"Oh, aku paham. Jadi kamu mau minta pendapat aku tentang tidur dengan mantan istri mengatasnamakan Audrey. Tapi, tidak ada niatan lain kan?" kata Dean memastikan.
__ADS_1
"Tidak ada dek, Audrey yang minta dan aku langsung menyetujuinya. Hanya saja, Mia tidak sependapat denganku. Katanya takut dosa.
Dean tampak berpikir begitupun aku yang terdiam menunggu jawabannya.
"Masalah yang cukup rumit, "kata Dean bergumam.
"Jadi, apa pendapat kamu?" tanyaku memastikan.
"Kalau menurutku sih itu bukan termasuk zina karena kalian kan hanya tidur satu ruangan dan satu ranjang bukan untuk berhubungan badan."
"Alasannya?" tanyaku sedikit tidak percaya.
"Sewaktu aku masih kecil dan belum jadi apa-apa, kami sekeluarga pulang kampung dan tidur satu ruangan. Bahkan 1 tikar bersama keluarga-yang lainnya. Dan itu tidak termasuk zina karena memang ingin mengikat kebersamaan. Sedangkan untuk masalahmu, karena keinginan Audrey kan, bukan hal lain."
Aku senang sampai memeluk akrab ala pria adik iparku Dean karena pemikiran lelaki itu yang bagiku sangat luar biasa.
tapi nyata nenek kembali pada satu titik, "Bagaimana caraku menjelaskan pada Mia tentang ini? "
***
__ADS_1
Hallo, author suka deh kalau ada komentar. Berasa ada yang nungguin dan buat semangat. Jadi selain like, author harap setidaknya ada 10 user yang beri komentar tiap babnya, hehe (maaf) maksa.