Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
13. Pembelaan


__ADS_3

Dan benar saja.


Mas Dimas memutuskan sesuatu yang tidak masuk akal.


"Mas akan ikut Sarah buat check up."


Aku menutup mata dan bernafas lebih sering karena sesak yang kurasa.


Tega kamu mas! batinku berteriak.


"Ini uang masuk Audrey." Aku mendengar mas Dimas berbicara. Seketika mataku terbuka dan melihat uang yang diberikan mas Dimas.


"Hanya segini?" aku kesal. Mas Dimas hanya memberi satu juta.


"Kurang ya?"


Aku mengangguk. Mas Dimas menambah lima ratus lagi.


"Kurang," jawabku ketus.


Kulihat kening mas Dimas mengerut. "Sebenarnya mau berapa?" mas Dimas bertanya dengan lembut.


"Mana ada uang pendaftaran hanya satu juta. Tiga juta mas!" jawabku kesal.

__ADS_1


Mas Dimas mengeluarkan isi dompetnya, menyerahkan kartu miliknya kepadaku. Tentu saja aku tersenyum dalam hati.


"Sini satu setengah jutanya," pinta mas Dimas. Tentu saja aku memberikannya.


"Mas … kenapa malah kasih ATM Mas sama si Mia. Terus kitanya makan apa di luar nanti?" Sarah merajuk.


Hal ini membuatku tersenyum miring, ingin tahu jawaban mas Dimas.


"Biarkan saja, lagipula uangnya untuk biaya sekolah Audrey. Mas yakin Mia tidak akan mengambil uang sekenanya."


"Tapi bisa saja dia mengambil lebih kali ini," balas Sarah tidak terima.


Perdebatan ini terus berlanjut. Tapi aku senang, karena sebanyak apapun tuduhan yang dilontarkan Sarah untukku, mas Dimas tetap menyangkalnya dan berkata, "Tidak Sarah! Mia tidak pernah korupsi!"


Saat mas Dimas terus mencegah Sarah menyerang ku, akhirnya mas Dimas yang tampak sudah kesal mulai berbicara.


"Sebenarnya kamu mau apa, Sarah? Kita pergi ke rumah sakit buat check up atau tidak? Soalnya berdebat denganmu sudah menghabiskan setengah jam waktuku."


"Ya … ya sudah, ayo!" Sarah memasang tampang cemberut. Aku yang memperhatikannya sedari tadi hanya bisa menggeleng kepala.


'Tujuan dia mau buat apa sih waktu memutuskan menikah dengan mas Dimas? Hartanya atau mas Dimas nya? Hadeehh … memanglah, pemikiran pelakor agak lain!'


"Ayo Audrey, temani mama," ucapku mengajak putriku.

__ADS_1


Terlebih dahulu, ku hubungi Ayra untuk mengantarku ke sekolah dekat perumahannya itu. Dan Ayra dengan senang hati menjemput kami. Dalam satu jam Ayra sudah sampai di depan rumah. Suara klakson mobil nya dibunyikan yang membuatku segera masuk mobilnya.


"Kenapa wajahmu agak lain, kak?" tanya Ayra yang mungkin aneh dengan wajahku.


"Kau tahu dek, ada sesuatu yang menggemparkan ku baru-baru ini!" kataku penuh semangat.


"Apa itu?" Ayra nampak kepo.


"Mas Dimas … hari ini membelaku!"


"Uhuk! Membela? Membela dalam hal apa ini?" tanyanya penasaran.


Aku mulai menceritakan semua hal yang jelas berada di luar kendaliku, itu direspon terkejut dan tidak percaya oleh Ayra. "Yang benar kakak?"


"Iya, dek. Aku saja tidak percaya, coba deh tanyakan sama Audrey. Dia jadi saksi kok."


Ayra menghentikan mobilnya di pinggir jalan hanya untuk bertanya pada Audrey.


"Papa kamu membela Mama ya, sayang?" tanya Ayra penasaran.


"Iya Tante. Tadi berantamnya Papa sama Mama Sarah juga sengit, Audrey sampai takut Mama dihajar, tapi Papa tidak memperbolehkan Mama Sarah menyentuh Mama Mia."


Ayra masih menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Sehingga aku memegang bahunya dan berkata, "Itu hanya sebagian kecil perhatian mas Dimas untuk Audrey setelah ku beritahu kalau Audrey mulai membencinya," kataku menerangkan.

__ADS_1


__ADS_2