Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
52. Halu


__ADS_3

POV Tessa.


"Sudahlah, jangan terlalu serius menjalani hidup ini. Akan sangat sulit bagimu memahamiku jika melihat situs menyebalkan itu," ucap Samuel dengan senyum.


Situs apa coba? Aku berusaha berpikir keras maksud pria di samping ku ini.


"Nah, aku yakin kamu pasti bingung." dia malah menebak hal semacam itu saat ini.


"Ya tentu saja saya bingung Tuan," jawabku jujur.


"Situs web loh. Semua berita kan dimuat di dalam sana, aku yakin kamu sudah membaca banyak berita tentangku. Bagiku, mereka menuliskan berbagai hal yang terlalu membesar-besarkan namaku."


"Lah, itu kan sesuatu yang bagus Tuan. Seharusnya tuan bangga dibicarakan oleh semua orang. Apalagi mengenai sesuatu yang bagus." aku mengancungi majikanku dengan jempol sambil menutup sebelah mata. Tersenyum girang yang berkata kalau aku jelas suka dibicarakan oleh semua orang, menjadi terkenal adalah impianku, itu pasti menyenangkan!

__ADS_1


"Nyatanya mereka membuatku seperti dewa yang bisa apa saja. Padahal ingin terkenal melalui artikel yang dibuatnya. Lebih baik jangan terlalu percaya. Lihat saja bagaimana aku melakukan pekerjaan ku, tidak semenakjubkan berita itu kan?" begitu penjelasan Samuel. Tapi, setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga sih. Semua tidak seperti berita. Baiklah, aku mulai paham kenapa Samuel berbeda hari ini.


POV Author.


Sepanjang perjalanan, Tessa dan Samuel berbicara banyak hal. Keduanya berbagi begitu banyak cerita yang terfokus pada hubungan pribadi.


Tapi Samuel dalam sesi curhat ini, Samuel yang paling mendominasi. Karena Tessa sudah mengaku tidak pernah pacaran karena merupakan anak yang sulit bergabung dengan masyarakat. Tessa suka berbicara empat mata–yang tentunya bertolak belakang dengan tradisi semua manusia di dunia.


Teruntuk Samuel, Dia menceritakan betapa patah hatinya ketika melihat seorang wanita yang dicintainya tetap memilih mantan padahal jelas sang mantan sudah mematahkan hati wanita yang Samuel cintai itu.


Maka Samuel membiarkan Tessa pulang ke rumah setelah jam kerjanya Tessa selesai yaitu jam 19.00, untuk mengurangi resiko kekerasan dalam hubungan pelayan–majikan. Apalagi Tessa masih anak muda, Samuel tidak ingin merusak masa depan Tessa.


Di sela sesi curhat ini, tak terasa waktu berjalan, dan mereka sudah sampai ke bandara. Samuel memesan dua tiket kelas bisnis untuk Tessa dan dirinya. Seusai memesan, Samuel berbisik pada Tessa.

__ADS_1


"Kita beli pakaianmu ya."


Deg, deg, deg.


Jantung Tessa berdetak lebih cepat dari biasanya. Pipinya memerah dan matanya membulat besar. Sulit rasanya dikatakan, keduanya terlalu berdempetan meski tujuannya hanya berbicara seusai berbisik.


"Tessa, kamu tidak apa kan?" tanya Samuel terkejut dengan reaksi gadis muda di hadapannya itu.


"Hem, tidak-tidak. Saya tidak apa-apa, tuan." Tessa tersenyum namun berbicara dengan suara gemetar.


"Oh, oke. Ya sudah, ayo pergi." Samuel menarik tangan Tessa untuk pergi ke mall terdekat. Mereka berencana akan berjalan-jalan selama 2 jam sebelum keberangkatan pesawat.


Bagi Tessa yang baru pertama kali merasakan bersentuhan tangan dengan pria ini merupakan momen tergila yang pernah ia hadapi. Jika tidak ingat dia bekerja sebagai asisten, maka mungkin Tessa sudah pingsan.

__ADS_1


Dalam hatinya, Tessa seakan berteriak dalam hati, 'Oh Tuhan, rasanya aku ingin seperti ini terus menerus! Apakah Samuel jadi jodohku, hahahaha... itu tidak mungkin. Aku rasa ini setara dengan impian para penggemar aktris yang hanya sekedar halu.'


__ADS_2