
Lanjutan_POV Dimas
Pagi hari setelah semalam aku memberikan seluruh keinginan Mia istriku untuk terakhirnya kalinya, tidak aku dapati Mia atau pun Audrey di kamarnya. Seluruh pakaian dalam lemari menghilang, sampai koper pun tidak ada.
Kamar itu tertinggal rapi, dengan ranjang, lemari serta meja belajar yang kosong.
Seketika aku panik, "Mereka ke mana?" aku khawatir Mia dan Audrey keluar dari rumah saat aku dan Sarah tidur. Apa mereka baik-baik saja di luar sana? Tapi siapa yang menemani mereka keluar dari rumah ini? Mengingat seluruh barang yang mereka bawa tidak mungkin ringan jika seandainya Mia dan Audrey membawa semuanya. Akh! Aku menyesal telah memintanya pergi kapanpun yang dia mau. Seharusnya aku melihat Mereka setidaknya untuk terakhir kalinya.
"Kenapa mas?" suara Sarah berbunyi, mungkin setelah ia mendengar kekhawatiranku.
"Mia dan Audrey tidak ada!" jawabku pusing.
"Lah, kenapa mereka pergi? Yang sudah tidak betahnya mereka tinggal di rumah ini?" kata-kata Sarah, entah bagaimana membuatku tersinggung.
'Apa dia senang, Mia tidak tinggal di sini lagi?' pikirku menerka-nerka
*****
POV Mia. Di malam sebelumnya.
__ADS_1
Jujur saja, aku tidak bisa tidur. Hari sudah menunjukkan pukul dua subuh, namun mata ini menolak tidur meski tubuh ku berlaku sebaliknya.
Ponselku berdering, menandakan ada orang yang menghubungi. Awalnya kuabaikan, karena sekarang sudah pukul dua subuh, tidak seharusnya seseorang menelponku selarut ini.
Tapi penelepon itu terus mengganggu, sehingga kuangkatlah panggilan itu. Tidak disangka, Ayra yang menelepon.
"Hallo Ara, kenapa dek?" kataku pada awalnya.
"Kak, Ayra sudah temukan tempat tinggal kakak yang dekat dari rumahku dan sekolah Audrey!"
"Hah? Apa!" jelas saja aku terkejut. Ayra, entah bagaimana dia masih memikirkan perihal rumah di malam suntuk begini.
"Iya kak, Ayra mau kakak dapat tempat tinggal secepatnya," jawab Ayra penuh semangat.
"Ini kak, lihat rumahnya, sebenarnya bukan rumah sih, tapi ruko. Ara baru berkunjung ke sana bersama mas Dean." Ayra berbicara sambil menunjukkan beberapa foto sebuah bangunan ruko berlantai 2 dengan cat berwarna putih dan biru.
'Sampai adek ipar pun ikut campur.. ajaib!' aku ternganga mendengar pencapaian tak masuk akal yang adikku ciptakan.
"Ayo kak, kakak keluar, Ayra dan mas Dean sudah di depan rumah kakak ini."
__ADS_1
"Apa?!" aku tak habis pikir, semuanya di luar nalarku.
"Sudah kak, tutup mulut kakak dan keluar dari kamar! Atau, aku suruh saja mas Dean bunyikan klakson supaya kakak ipar dan tetangga bangun?" ucapan adikku seperti ancaman, sehingga meski tubuhku ingin tidur, aku harus menjumpai adikku di luar rumah.
Dengan perlahan ku buka pintu utama, dan benar kata Ayra, mobil mereka ada di jalan depan rumah mas Dimas.
Jujur saja aku tercengang, adiku sudah melakukan sesuatu di luar pemikiranku.
Di subuh-subuh buta, kulangkahkan kaki ini mendekati mobil Ayra.
"Kenapa harus semalam ini sih dek?" tanyaku protes.
"Supaya perasaan kakak lebih tenang." Ayra menjawab dengan enteng.
Tentu saja aku menggeleng tidak percaya.
"Kakak malah tak enak pada adek ipar, maafkan aku ya adek ipar, kamu jadi repot karena ku," kataku sedih.
"Tidak masalah kak, aku senang membantu," jawab suami adikku ini.
__ADS_1
"Padahal kan kak, mas Dean hanya tidak mau jatah malam jumatannya hilang," kata Ayra berbisik padaku.
Nah, sekarang aku paham semuanya.