Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
47. Akulah Pemenangnya!


__ADS_3

Awalnya, Samuel tidak tahu kenapa semuanya menjadi berbelit seperti ini. Ia sudah mengetes apakah Mia masih seperti Mianya yang dahulu–malu malu tapi mau? Ternyata iya. Dan hal ini membuat Samuel lebih pede untuk tidak menuruti keinginan bocah perempuan menyebalkan bernama Audrey itu.


Tapi perkataan Mia setelah ditanyakan perihal janji oleh Audrey, membuat semuanya sangat aneh. Kebahagiaan apa yang dimaksudkannya? Perihal kebahagiaan yang dimaksud Mia masih menjadi misteri dalam pikiran Samuel.


Menurut sudut pandangnya sendiri, Mia tidak bahagia. Mia tertekan karena sejak awal memang sudah dijodohkan dengan Dimas. Tentang cinta yang muncul dalam pernikahan, Samuel akui itu pasti ada. Tapi Dimas sudah membuat akhir kisah pernikahan Mia menjadi sangat buruk.


Di detik-detik langkah Samuel meninggalkan rumah itu, Mia sempat meneriaki suatu hal padanya, "Kebahagiaan yang kumaksud adalah mas Dimas yang tidak pernah membuatku kesulitan dan menderita, dia memanjakan ku selayaknya suami terbaik. Dan kekilafan mas Dimas sebenarnya karena membantu mantannya sendiri."


Samuel berbalik, meski begitu pemikirannya tertuju pada, 'kekhilafan karena membantu mantan'. Jika Samuel menjadi Mia, maka kesalahan sekecil apapun tidak dapat ditolerir.


Hanya saja Samuel bukan Mia. Dan seperti karakter wanita itu sejak awal yang Samuel kenal adalah pemaaf.


Jadinya Samuel menguatkan hati, dan kembali ke hadapan Mia. "Semoga pernikahan keduamu dengan pria yang sama, akan langgeng dan bahagia seperti keinginamu," katanya dengan mata yang mulai memanas.


Mia membalas dengan anggukan. Menyentuh salah satu tangan pria di hadapannya dan berkata, "Walau kita pasangan di masalalu, aku harap tidak akan menjadi orang lain setelah memiliki kehidupan sendiri."


Sumpah demi apapun, Samuel tidak ingin berpisah dengan Mia. Ia mencintai Mia yang menjadi alasan dia berkembang pesat hingga sekarang.


Ia telah belajar, berusaha hingga bisa bekerja di sebuah perusahaan Entertainment–milik keluarganya dan menjadi sutradara, ia sudah mengembangkan banyak judul film terlaris. Ia kaya, sangat kaya. Tapi, sebuah ketidakadilan diterimanya. Mia tidak menerima cintanya itu. Padahal, ia akan memanjakan Mia seperti janjinya dahulu.


Dan untuk alasan ini, Samuel memutuskan bertanya sekali lagi, "Kamu yakin mantan suamimu tidak akan mengulanginya?"


Mia menutup mata sejenak dan berkata setelah merasa siap, "Waktu, kita tidak tahu. Tapi selama seseorang mau berubah, aku yakin dengan perceraian sementara ini, Dimas jadi tahu, dia membutuhkanku dan putri kami."


"Baiklah kalau begitu." Samuel melepas genggaman tangan Mia, menyentuh pipi wanita itu dan tersenyum tipis. "Aku ingin kamu tersenyum untukku dengan tulus untuk terakhir kali."


Dan Mia menuruti keinginan Samuel dengan tersenyum.

__ADS_1


"Semoga senyuman ini yang selalu terhias di wajahmu walau pasanganmu bukan aku."


Samuel pergi dari rumah Mia, mengendarai mobil dan menangis sedih di sana. Bukan dia tidak ingin berjuang, tapi stikma buruk masyarakat akan melekat padanya jika menjadi pebinor. Ia seorang sutrada--yang otomatis merupakan public figure. Karir, bahkan perusahaan milik keluarga akan terancam. Rasanya sayang jika pengorbanan keluarga mendirikan perusahaan entertaiment sebesar itu hancur karena skandal.


Di sisi lain, Dimas tepuk tangan bahagia setelah tahu putrinya Audrey berhasil menjalankan misi. Ya, semua kejadian hari ini, Dimas yang tentukan. Melalui Audrey yang Dimas tahu sangat sayang dirinya dan Mia, sudah memanas-manasi Audrey sejak anak itu tahu kedua orangtuanya sudah bercerai.


"Siapapun laki-laki yang dekat sama Mama, kamu harus tidak suka sama dia ya, sayang?" ucap Dimas memulai.


"Kenapa Pa?" tanya Audrey kebingungan.


"Kamu mau keluarga kita bersama lagi kan?" tanya Dimas.


"Iya. Audrey rindu kebersamaan kita sebelum Papa menikah sama Mama Sarah!"


"Nah kalau gitu, kamu harus perhatikan tingkah mama. Jangan dia sampai dekat dengan pria manapun, kecuali sama papa. Kamu harus marah sama mama kalau dia senyum sama laki-laki lain, oke?"


Alasan Dimas selalu datang setiap pulang kerja dan membawakan beberapa oleh-oleh dari luar adalah untuk menagih perjanjiannya dengan Audrey.


"Mama ada dekat sama orang lain, sayang?" bisik Dimas setiap Mia tidak berkumpul dengan keduanya.


"Belum pa! Mama melakukan kerjaan seperti biasanya!"


"Baguslah kalau begitu."


Dimas senang. Mantan istrinya ternyata masih setia meski dia pernah melakukan tindakan menyakitkan hati.


Namun seminggu lalu, Dimas mendengar berita memanaskan hati dari Audrey.

__ADS_1


"Papa papa! Mama punya laki-laki lain, mereka kayak orang dekat gitu. Audrey khawatir dia menjauhkan mama dari kita!'' kata Audrey dengan emosi.


"Lah? Siapa, kenapa dia beraninya dekat dengan Mama kamu, sayang?" tanya Dimas khawatir.


"Namanya ... Om Muel! Dia orangnya tinggiii, badannya besar dan kayak orang luar negeri gitu."


"Ketemunya di mana? Kalian baru dari Pantai kan? Ah, pasti orang itu hanya pengunjung pantai," ucap Dimas lagi, tidak ingin berburuk sangka.


"Iya pa, tapi bicara mereka beda! Papa harus tahu, Mama dan Audrey dibawa ke restoran papa!"


"Mereka ngapain aja?" tanya Dimas penasaran.


"Enggak ngapa-ngapain sih pa. Hanya makan dan kadang bicara tentang masa lalu. Audrey tidak suka dengannya, usaha buat pertahanin mama dan om Samuel di restoran tapi papa tidak kunjung datang juga!"


"Harusnya kamu jauhin mama dari om Samuel itu. Jangan biarkan mereka lama-lama di sana."


"Audrey pikir, Papa akan turun dari kantor dan melihat mereka, ternyata Papa pulang sehari kemudian," kata Audrey kesal.


"Oh, maafkan papa ya. Papa ada kerjaan, kan papa udah bilang. Papa ada kerjaan, itu berarti papa tidak ada di kantor papa."


Di pertemuan pertama dengan pria bernama Samuel itu, Dimas pura-pura tidak tahu apapun, bahkan mereka akrab–yang sebenarnya Dimas sedang berusaha mengorek informasi dari Samuel. Di pertemuan ketiga, barulah mereka tatap-tatap tajam dan membuat Mia tidak nyaman, sedangkan dipertemuan keempat Dimas dan Samuel seperti berkompetisi kalau salah satunya adalah manusia terpenting dalam hidup Mia, tapi Mia tidak suka ada adu mulut yang berakhir mengeluarkan keduanya dari rumah.


"Aku yakin akan memenangkan kompetisi kali ini!" Dimas berpikir kalau ini adalah kompetisi, dalam 3 hari, ia harus menjauhkan Samuel dari hidup Mia. Atau semua yang dimiliknya akan menghilang.


Tidak tahunya, hari ini Samuel berhasil tersingkirkan berkat bantuan Audrey.


"Kamu benar anak ayah!" ucap Dimas mengancungi Audrey jempol.

__ADS_1


"Makasih Pa!" balas Audrey memeluk Dimas. "Tapi setelah ini, Papa wajib nikahi Mama ya?"


__ADS_2