Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
14. Suamiku Orang Kaya


__ADS_3

Sebelum pergi ke calon sekolah Audrey, aku mencairkan dana tiga juta di ATM suamiku. Aku terkejut, lantaran mas Dimas memiliki uang 300 juta dalam ATMnya.


"Pantas saja mas Dimas berani mengambil dua istri," aku terkekeh dengan pikiran ku sendiri.


Tapi jujur ya, meski sudah tujuh tahun menjadi istri mas Dimas, aku tidak tahu jika mas Dimas memiliki uang sebanyak itu. Lantaran mas Dimas tidak pernah memberikanku ATM, hanya uang belanjaan sebulan, itu saja.


Dan entah setan apa yang merasuki jiwa mas Dimas sampai dia dengan baik hatinya 'membuka' rahasianya yaitu uang sebanyak! ini.


Jujur saja, jiwa ingin mengambil semua uang itu kemudian pergi menghilang jauh dari Mas Dimas meronta-ronta.


Aku ingin segera mengakhiri semua ini, bosan dengan kehidupan pernikahan, terutama melihat Sarah yang kelakuannya semena-mena.


Sebab aku tahu Mas Dimas tidak pernah membutuhkanku melainkan Sarah, maka mungkin memilih pergi darinya adalah keputusan yang tepat.


Tapi, aku kembali pada realita. Aku tidak boleh mencuri. Hal gila seperti itu, jika kulakukan dapat membuatku masuk penjara dan berakhir menyenangkan si jahat Sarah.

__ADS_1


"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus sportif!" Aku berusaha berpikir waras. Jelas-jelas masih membutuhkan mas Dimas untuk ku habiskan hartanya.


Mengingat harta almarhum ayah angkat ku sangat menyayangiku hingga memberikan hartanya kepada mas Dimas demi menjalin kelangsungan hidupku bersama pria kere seperti mas Dimas.


Kalau tidak salah, sampai 100 juta hanya untuk membangun usaha jualan kecil-kecilan yang sekarang sudah berkembang ratusan kali lipat banyaknya.


Bisa terbilang, mas Dimas sudah menjadi orang kaya. Tapi dimulai dari pemberian dana oleh ayah angkatku yang sampai sekarang tidak kunjung dibalikkan. Huh.


Aku keluar dari mesin ATM. Di sana, ada Ayra sedang memakan cemilan bersama Audrey dalam ramai pengunjung. Segera ku menghampiri mereka.


"Mama!" Audrey berlari memelukku yang segera ku angkat dia dan ku gendong.


"Itu, kami makan itu," Audrey menunjuk selusin bungkus plastik kripik Cheetos yang dibeli Ayra saat aku mencairkan uang.


"Sudah selesai mencairkan uangnya?" tanya Ayra yang segera kuangguki.

__ADS_1


"Sudah."


Kami pergi ke calon sekolah Ayra, mendaftar nama Ayra di sekolahnya serta melakukan ujian kelayakan apakah dia layak masuk sekolah barunya itu.


Uang masuk, serta seluruh biaya masuk sekolah sebulan sudah ku bayar. Semua menghabiskan 3 juta rupiah. Perlu dua jam-an juga kami di sana. Dan pulang ke rumah Ayra sambil berbincang-bincang.


Alhasil, kami pulang tepat pukul lima sore dan Sarah kembali bersikap semena-mena terhadapku.


"Sudah puas shopping nya? Aku lihat, anakmu sudah punya jam tangan dan kalung mahal seperti ini."


Aku menatap matanya tajam, rasa kesal kembali menyelimuti ku. Jika saja bisa, sudah ku hajar dia sepuas ku. Enak saja dia menuduhku melakukan hal yang tidak ku lakukan.


"Kalau tidak tahu apapun, jangan menuduh!" aku menggandeng tangan anakku dan pergi ke kamar. Di sana, kami mencoba pakaian baru Audrey.


"Sebentar lagi kamu sudah masuk SD, sayang … Selamat ya," kataku senang.

__ADS_1


Tak henti-hentinya Audrey menunjukkan senyum, anakku tampak gembira dan itulah yang kuinginkan.


"Karena sebentar lagi kamu masuk SD, Mama mau kamu semakin giat belajarnya. Mama ingin kamu menjadi anak kebanggaan Mama ya sayang. Mama akan berusaha sebaik mungkin untuk keberlangsungan kehidupan kita ke depan," kataku memperingatkan, bahwa kehidupan anakku tidak lagi dihantui mas Dimas maupun istri barunya itu.


__ADS_2