
Otak Mia tiba-tiba ngeblank. Kepintarannya menurun drastis dan tidak melawan. Tatapan Samuel seolah menyihirnya. Sampai tidak merasakan Samuel sudah melangkah memasuki rumahnya. Saat Samuel mendudukkannya di sofa, barulah Mia sadar.
"Kenapa kamu masuk ke rumahku?" tanya Mia pura-pura kesal. Walau sebenarnya ia berharap lelaki itu masuk dan di sini. Jujur saja, dia tidak munafik menolak Samuel. Karena hati wanita itu kembali menjadi milik Samuel setelah sempat dicuri oleh Dimas.
"Hari sudah malam, banyak nyamuk. Lagipun, aku mau bicara banyak hal kepadamu tanpa gangguan dua orang menyebalkan itu," balas Samuel dengan tatapan sungguh-sungguhnya.
Sejenak Mia seperti kembali tersihir, dia sangat ingin semakin dekat dan semakin dekat lagi dengan pria yang dahulu memenangkan hatinya di antara banyaknya pria yang dahulu selalu mengejar. Tapi kembali tersadar, ketika mendengar Samuel berkata 'dua orang menyebalkan itu'.
"Apa maksudmu menyebalkan? Audrey-ku maksudmu? Tidak-tidak, aku tidak akan membiarkanmu merendahkan putriku," kata Mia dengan ekspresi kesal.
Mendengar hal seperti itu membuat Samuel menyalahkan dirinya, Argh! Tidak seharusnya aku bicara buruk tentang putrinya Audrey. Bodoh-bodoh-bodoh, Kenapa tidak memikirkan kata-katamu sendiri sih, Samuel?! Seharusnya selangkah lagi kau bisa dekat dengannya.
__ADS_1
"Hem, maafkan aku. Maksudku, dua orang menyebalkan itu ... adalah Dimas."
"Hah? Dimas kan hanya satu," kata Mia mengerutkan kening bingung.
"Itu--" Samuel menggaruk tengkuknya. Bingung apa kata yang pas untuk menyakinkan Mia kalau dia tidak membenci putri tunggal Mia.
"Katakan dalam 30 detik, atau aku akan mengusirmu dari rumah ini, Samuel. Aku tidak mau ada masalah kalau kita hanya berduaan dalam satu rumah," ucap Mia dengan nada rendah yang menandakan dia tidak akan tersihir lagi dengan tatapan pria yang memikat itu.
'Oh iya, aku baru sadar.' Samuel tersenyum dan berjalan mendekati Mia setelah menyimpan sebuah jawaban di pikirannya. Dengan lancangnya Samuel melingkarkan tangan di perut Mia, dan mengistirahatkan dagu di pucuk kepala Mia seperti saat dahulu, mereka masih pacaran.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mia sedikit memberontak.
__ADS_1
Samuel bingung karena dulu, saat masih kuliah dan pacaran, Mia paling suka dipeluk seperti ini dari belakang, tapi kembali lagi, dia sadar kalau 8 tahun kebersamaan dengan pria lain sudah membuat kenangan dan kebiasaan menghilang.
"Akan kulepaskan," ucap Samuel sedih.
"Katakan alasanmu." Mia duduk di sofa dan memandang Samuel yang masih berdiri. Mia berlaku seperti Ibu yang sedang menghukum putranya karena sebuah kesalahan.
"Aku tidak bermaksud mengatakan dua orang manusia menyebalkan itu adalah Audrey. Sebenarnya hanya mantan suamimu itu. Dua kali dia merusak hatimu yang tulus, pertama saat kamu dijodohkan dengannya, dan yang kedua saat mungkin dalam delapan tahun kebersamaan, kamu sudah mencintainya tapi dia berkhianat, aku memang tidak tahu bagaimana kisah lengkap cerita kalian selama 8 tahun ini, tapi aku tau kalau, kamu sudah mencintainya, Mia."
"Dari mana kamu tahu?" tanya Mia terkejut.
"Wanita mana yang mau menerima mantan suaminya setelah apa yang dilakukan kalau tidak cinta mati? Aku tahu 8 tahun bukan waktu yang mudah untuk kamu lewati apalagi dia yang sudah merebutmu dari aku." Hati Samuel bersorak girang karena kejeniusannya, dia mampu membuat Mia luluh.
__ADS_1