
"Mama!" terdengar pekikan Audrey dari arah folding gate, ia datang dengan amarah yang menggebu. "Jadi benar kata Papa, Mama bersama om Muel lagi!" cecar Audrey yang mengejutkan Mia ataupun Samuel.
Mereka memang berada dalam satu rumah. Tapi posisi Mia ataupun Samuel tidak seperti tindakan melanggar norma. Meski begitupun, Audrey tetap saja marah. Persetan dengan semua sifat baik dan lembut yang dimilikinya. Audrey akan tetap marah jika Mamanya ada yang merebut.
'Yah anak itu lagi.' dalam hati, Samuel kesal. Audrey sungguh menyebalkan. 'Mungkin untuk lain kali aku akan membawa Mia pergi dari rumah ini tanpa Audrey, si menyebalkan itu.' pikir Samuel.
Mia tampak menatap Audrey tanpa berbicara. Ia tidak menyangkal kenyataan kalau dia sedang bersama Samuel.
"Mama jahat! Kenapa Mama mengkhianati Papa … Mama kejam! Mama adalah Ibu terburuk di dunia!" ucap Audrey dengan tangis memilukan. "Mama udah janji sama Papa supaya kembali setelah melihat kesetiaan Papa. Papa jelas sudah setia, Papa hanya khilaf bersama wanita lain dan menduakan Mama, tapi Mama malah kembali sama mantan, hiks, hiks, hiks ... Kata mama janji tetap janji, tapi Mama tidak menepatinya."
Samuel yang ada di ruangan itu hanya mampu menggelengkan kepala dan berkata dalam hatinya, Anak usia 7 tahun sudah tahu tentang pacar-pacaran bahkan hubungan pernikahan seperti ini? Sangat mengherankan. Tapi apa mungkin semua sudah merupakan skenario si Dimas sialan itu?! pikir Samuel berasumsi.
"Maafkan Mama ya, Nak. Mama hampir lupa sama janji mama sendiri. Mama janji akan kembali pada Papamu setelah ini," ucap Mia yang tersadar akan tindakan bodohnya.
Samuel yang mendengar ucapan Miapun tercengang. Semudah itu?! Bukankah seharusnya Mia tidak salah? Hidup seperti keinginannya adalah pilihan. Alasan mereka bercerai juga masuk akal, karena wanita lain. Tapi kenapa Mia seolah terkekang dalam belenggu pria bodoh bernama Dimas itu.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu. Kenapa kamu semudah itu menyerah, Mia? Bukankah sedari awal kamu sendiri yang mau pisah? Sekarang balikan semudah itu karena anak ini?" tanya Samuel sambil mendekat. Ia belum paham dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.
"Jadi gini Om," kata Audrey dengan suaranya yang sudah membaik dan ceria, dampak perkataan Mia.
"Apa." Samuel menatap Audrey jengah.
"Jadi, Mama pernah bilang sama Papa kalau Mama akan kembali sama Papa setelah melihat Papa sudah berubah. Audrey sendiri yang jadi saksi, walau waktu Mama dan Papa bicara, Audrey pura-pura tidur. Jadinya, Papa setuju dan Papa berusaha menunjukkan kalau Papa serius dengan Mama. Audrey hanya berusaha mengingatkan Mama dengan janjinya, dan untungnya Mama segera sadar. Audrey senang deh!" jelas Audrey panjang lebar.
Segera Samuel menggeleng dan menepuk jidatnya. 'Situasi apa yang sedang kuhadapi kini?' Samuel tidak paham apapun.
"Jadi kan om, karena tidak mungkin Om muel bisa bersama Mama, lebih baik Om Muel pergi dari rumah ini. Oke."
Seketika alis anak kecil itu terangkat. Dia berlari dan duduk di pangkuan Mia. "Ma! Om Muel ga mau pergi!" kata anak itu manja.
Sejujurnya Samuel sangat berharap Mia tidak menuruti keinginan putri menyebalkannya itu. Tapi Mia berlaku sebaliknya.
__ADS_1
"Sejak awal, aku tidak berharap kamu dekat denganku, Samuel. Aku sudah memiliki keluarga."
Samuel kembali tercengang dengan jawaban wanita di hadapannya. "Kamu yakin dengan kata-kata itu?" tanyanya tidak percaya.
Mia tampak menghela nafas. "Aku sudah bahagia, Samuel. Aku hidup seperti keinginan ku. Aku tidak memiliki cinta di hati ini lagi untuk mu. Hubungan kita adalah masalalu, sekarang aku bersama Dimas, itu sudah cukup. Carilah wanita lain yang pantas kau jadikan istri, tapi bukan aku."
Mendengar jawaban Mia, Samuel sampai memohon -mohon. Berharap Mia tidak sedang hilang akal saat ini.
"–Kamu yakin?"
"Yah, aku yakin," jawaban Mia terkesan penuh beban. Jelas saja Samuel dapat melihatnya dengan jelas. "Tatap aku, Mia. Apa hidup yang kini kau jalani sudah baik?"
Mia tidak berani menatap pria bertubuh tinggi di hadapannya, karena ia tidak bisa membohongi hatinya yang kembali terikat pada Samuel. "Aku yakin sudah bahagia. Ini ... ini hanya perlu waktu untuk memperbaikinya."
Samuel memijat kepalanya yang pening. "Aku yakin kamu tidak baik-baik saja, Mia. Tatap aku sekarang, aku hanya mau membawamu ke dunia yang kamu impikan, yang kita impikan selama ini. Punya istana, kolam berenang, anak-anak yang cantik dan tampan bermain bahkan memberangkatkan rumah kita –"
__ADS_1
"Itu dulu, Samuel. Tapi Aku sudah bahagia. Aku akan menikah lagi dengan mas Dimas. Bahagia versiku adalah seperti ini; berapa kali harus kutegaskan!" ucap Mia dengan suara lantang di akhirnya.
Samuel sampai menganga. "Bab-baiklah. Aku akan pergi."