Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai

Pasti Lebih Bahagia Setelah Dicerai
16. Galau


__ADS_3

"Kenapa mas datang kemari?" aku bertanya dengan ketus. Berusaha menyembunyikan debaran aneh yang ada dada ini.


"Memangnya tidak boleh mas datang ke kamar istri mas sendiri?" Suara lembut mas Dimas membuatku begitu meleleh. Sebenarnya ada apa dengan hatiku, ini cukup aneh!


"Bukan tidak boleh, tapi kenapa baru sekarang?" aku bertanya tanpa berpikir panjang.


Dan jawaban mas Dimas membuatku mati kutu. "Jadi kamu mau mas temui tiap hari, begitu?"


"Hem, bukan begitu juga!" aku salting.


"Jadi?" mas Dimas bertanya dengan kekehan. Tidak ada kemarahan terpancar di wajahnya yang tampan itu, dia sangat ramah dan membuatku teringat akan mas Dimas sebelum menikahi Sarah.


"Lihatlah, pipimu sudah memerah. Tadi datang hanya untuk mengatakan maaf. Belum mas menjawab, kamu sudah meninggalkan mas. Sebenarnya kamu mau apa, Mia? Berusaha bertahan demi mendapatkan seluruh hakmu, sebelum akhirnya minta cerai dari mas, begitu Mia?"


Aku terkejut, mas Dimas tahu semuanya? "Dari mana mas tahu?"


"Buku diary mu. Dia yang menjelaskan semuanya," jawab mas Dimas.

__ADS_1


"Kenapa mas baca buku diary ku!? Mas tau kan batas privasi?" tanyaku kesal.


"Ya, mas tahu itu. Tapi, mas bingung dengan sikap kamu. Jadi berusaha mencari alasan kamu berubah setelah mas menikahi Sarah, dan menemukan kamu berusaha mengambil seluruh harta mas, kemudian pergi dengan damai."


Bodohnya aku..! ku gelengkan kepalaku, bingung dengan keadaan yang sedang menghampiri. Kenapa bisa dengan bodohnya menuliskan isi hati dalam buku diary! Tanpa mengingat jika mas Dimas sudah menikahi ku selama 7 tahun yang pastinya lebih mengenalku dari yang kupikirkan.


"Mas sudah memaafkan mu tentang emosimu semalam. Mas sadar mas sudah salah, egois, dan selalu mengambil keputusan tanpa mengingat kamu perlu didengarkan."


"Lalu mas mau ceraikan Sarah dan kembali hidup bahagia?" tanyaku senang.


"Bukan begitu juga." Jawaban mas Dimas membuatku geram.


"Sarah sedang hamil, mas juga masih mencintainya, dan …"


"Hentikan bacotanmu, mas! Pasti mas mau ke sini buat ejek Mia karena tidak bisa membuat Mas bahagia kan?" kataku kesal.


'Yah, marah nya kambuh lagi,' gumam mas Dimas yang masih dapat kudengar. "Bukan begitu maksud, mas. Mas hanya mau membebaskan mu dari semua ini seperti keinginanmu."

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat tentang perceraian "Jadi mas …"


Suamiku mengangguk. "Ya, mas mau membebaskan mu dari derita ini. Maaf sudah membuatmu terkekang selama ini." Mas Dimas memelukku meski pelukan itu sesingkat itu.


"Anggap saja kita tidak pernah bertemu ya, jalani hidupmu dengan baik," bisik mas Dimas dengan senyum tipis-tipis.


Entah mengapa hatiku sakit dengan perpisahan ini.


Mas Dimas mengeluarkan sesuatu dari sakunya, "Ini, ATM yang pernah Mas berikan padamu. Seharusnya kamu jangan mengembalikannya, sekalian untuk mengembalikan uang pemberian Ayah mertua. Mas tidak sempat mengembalikannya, bahkan ketika Ayah mertua sudah meninggal. Tapi tenang, mas sudah menambahnya menjadi 450 juta seperti yang kamu inginkan. Kamu pasti khawatir tentang uang setelah perpisahan, di mana kamu dan Audrey akan tinggal, bahkan apa yang kalian makan. Aku hanya minta satu hal, supaya uangnya berkembang menjadi berkali-kali lipat maka buat usahamu di tempat yang kamu inginkan. Masalah kapan kamu pergi dari rumah ini, itu keputusanmu."


"Jadi mas mau mengusirku?" tanyaku tidak percaya.


"Tidak, mas tidak akan mengusir wanita yang sudah membantu mas berkembang sehebat ini, maaf karena sudah menggoreskan luka di hatimu dengan segala keputusan mas. Mas juga tidak akan memaksa, tapi kita hidup sendiri-sendiri saja seperti keinginanmu."


Entah mengapa semuanya terasa begitu sulit untukku. Rasa tak rela mendadak merajai pikiranku. Tapi kembali lagi, mas Dimas sudah membaca diary ku, semua tersimpan di sana. Isi kepalaku, opiniku, bahkan segala rencana yang ku siapkan.


"Tapi mas harap, kamu jangan pernah membenci segala yang telah terjadi ada kita selama ini," pesan mas Dimas sambil mencium keningku.

__ADS_1


Pipi ini seketika memerah, mataku membulat besar. Aku meleleh, jujur saja. Saat mas Dimas keluar, aku masih terpaku dalam ingatanku.


Kenapa di masa akhir seperti ini mas Dimas memberikan hal 'semanis' ini? Akh, aku galau!


__ADS_2