
Di tempat lain.
Setelah perjalanan udara selama 3 jam, akhirnya Tessa dan Samuel keluar dari pesawat.
Tidak banyak hal yang terjadi, Tessa hanya tidur dan bangun ketika Samuel membangunkannya untuk makan. Jujur saja, udara di pesawat ini mengundang rasa ngantuk seperti apartement Samuel. Bedanya, saat di Apartement Samuel, Tessa bekerja sehingga rasa kantuknya menghilang.
Setelah waktu landing pesawat, Tessa dan Samuel mengemas barang-barangnya dan keluar mengikuti penumpang lain.
Samuel hanya menggendong tas taptopnya sedangkan Tessa mendorong koper. Tessa sangat takjup karena mereka telah sampai ke kota G--kota besar yang menjadi pusat industri terbesar negara. Orang-orang di pusat industri kebanyakan kaya-kaya, kecuali buruh pabrik yang menetap untuk mencari nafkah.
Lingkungan bandara yang besar, dan tampak begitu mewah. Jika ada yang memperhatikan Tessa, pasti mereka akan mengatakan kalau Tessa ini kampungan. Lihat saja, Tessa terus berdecak kagum bagai anak kecil yang baru melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya.
"Aku harap kamu tidak terlalu terlalu terpesona," tegur Samuel dengan nada rendah dan wajah dinginnya itu.
Tessa mengalihkan pandangannya ke arah Samuel, ketika melihat wajah datar pria itu, ia diam untuk meminimalisir kemarahan, di mana dia sedang bertanya dalam hati, 'Kenapa dengan tuan Samuel ya?'
"Saya minta maaf tuan." jawab Tessa dengan sopan dan penuh rasa bersalah. Di kepalanya, sedang bertanya-tanya, 'Apa ada kesalahan besar yang kubuat hingga tuan Samuel tampak semenakutkan ini?'
__ADS_1
"Hey, kamu mau kemana?" Samuel menarik lengan Tessa ketika gadis itu berjalan berlawanan arah. Dan Samuel baru menyadarinya ketika Tessa hampir memasuki kerumunan orang yang hendak masuk ke pesawat tujuan kota H.
Karena keterkejutan, tanpa sadar Tessa meninju dada kanan Samuel
BUGH!
"Akh!" Samuel mendesis dan mengelus dadanya.
Jelas ini gerakan refleks, tapi cukup membuatnya merasa sangat amat bersalah.
Samuel menatap Tessa untuk sepersekian detiknya hingga pergi dari sana tanpa berbicara. Otomatis Tessa mengikuti, ia sangat takut jika Samuel meninggalkannya di kota yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
"Tunggu tuan!" Tessa berusaha menggapai Samuel untuk jalan bersama. Tapi langkah pria bertubuh tinggi itu sangatlah cepat. Tessa yang bertumbuh kecil selalu berusaha mengejar dengan sedikit berlari, tapi sulit. Berkali-kali bertabrakan dengan orang lain, dan terus meminta maaf.
Sedangkan dalam benak Samuel, ia hanya bermain-main dengan Tessa. Rasa sakit akibat dipukul itu tidak ada apa-apanya. Samuel hanya berakting.
'Dia sudah membuatku lelah mencarinya, sekarang aku akan balas dia dengan menghilang secepat kilat!' batin Samuel tersenyum jahat.
__ADS_1
Tapi sepertinya semesta tidak membiarkan Tessa berpisah dengan Samuel. Tessa dapat menemukan Samuel di luar bangunan bandara.
"Tuan!" panggil Tessa dengan nafas terengah-engah.
Samuel hanya menoleh tanpa bicara.
"Jangan tinggalin saya lagi, rasanya lelah!"
Samuel tersenyum tipis hampir tidak dapat terlihat. Dia menepuk bahu Tessa dan berkata, "Begitu rasa lelahku ketika kamu pergi ke arah yang berbeda."
"Maaf. Maafkan saya. Saya janji tidak akan melamun!"
Sebelum Samuel menjawab, muncul taxi di hadapan. Samuel segera mengangkat tangannya untuk menghentikan taxi itu.
Saat Samuel sudah masuk, Tessa malah hanya berdiri di luar taxi. Untuk itu Samuel menurunkan jendela taxi dan berkata, "Kamu yakin akan berdiri di sini saja?"
"Eh?" Tessa baru sadar akan tingkah konyolnya. 'Aduh, sebenarnya ada apa denganku?' ucap batin Tessa yang bingung dengan tingkah dirinya sendiri.
__ADS_1