
POV Dimas.
Mia sudah berubah. Dia tidak selembut dan sebaik dahulu. Matanya penuh dendam dan kemarahan, serta emosi yang meledak-ledak. Aku tahu semua disebabkan olehku, dan aku merasa ikut andil dalam perubahannya. Huh. Aku menyesal karena berkali-kali memutuskan pilihan salah. Akhirnya, aku menerima bagianku. Bagian yang akan ku sesali seumur hidup.
"Aku tidak berniat mengambil apapun yang kamu miliki sekarang, Mia. Tapi aku berharap kamu menerima aku berdekatan dengan Audrey. Mau bagaimana pun, dia anakku." Aku berharap Mia menyetujuinya. Ya, aku berharap.
"Hem anakmu? Selama ini bukankah mas Dimas selalu memilih pilihan yang salah? Bagaimana kalau Audrey bukan anakmu Mas, tapi anak orang lain?" suara Mia begitu merendahkan. Dia begitu membenciku saat ini.
"Aku percaya Audrey putriku, Mia. Jangan memisahkan aku dengannya." Ingin rasanya menangis karena Mia berkata seperti itu. Aku tahu aku Papanya, dia darah dagingku. Lagipula selama 7 tahun kebersamaan kami, Mia tidak pernah berdekatan dengan pria lain, ia sangat setia hingga kesetiaannya kubalas dengan pengkhianatan.
"Mas sampai menangis seperti itu. Sekarang tahu kan rasanya sakit tidak diakui? Seperti itulah perasaanku sewaktu berjuang untuk Audrey di rumah kamu. Sedap kan rasanya?" lagi-lagi Mia meledek. Aku hanya bisa terdiam menahan seluruh sesak di dada ini.
Namun tiba-tiba aku ingat mempunyai hadiah untuk Audrey di hari ulangtahunnya. Ku keluarkan ponsel dari saku, "Aku sudah mengurus seluruh harta atas nama Audrey, bukan namaku lagi, Mia. Aku ingin Audrey menikmati segala yang pernah kita kerjakan. Tolong berikan aku dekat dengannya."
Terlihat alis Mia terangkat. "Memang kapan aku mengatakan mas Dimas tidak boleh berdekatan dengan Audrey?"
__ADS_1
"Tadi?"
"Aku hanya berindikasi, siapa tahu saja kan aku selingkuh?"
Baru kali ini ada seseorang yang mau secara terang-terangan membuka perselingkuhan. Tapi aku menggeleng, "Kamu setia, Mia. Aku sadar sudah bersalah padamu. Maafkan aku." Tak terasa air mata ini keluar. Aku menangis, sedih mendalam terasa. "Tega kamu Mia …"
POV Mia
Kata orang, lelaki yang menangis karena suatu hal, itu berarti dia tulus, dan menyesal.
Aku tahu Mas Dimas pria baik. Tapi satu kesalahannya menikahi janda menyebalkan telah menyakiti hatiku. Waktu 6 bulan bulan bulan sesuatu yang mudah ku lewati.
"Boleh-boleh saja sih Mas berdekatan dengan Audrey." Terlalu kasihan, akhirnya aku mengatakan seperti itu.
Terlihat kesenangan di mata mas Dimas. Tiba-tiba dia memelukku, dan berucap banyak-banyak terimakasih.
__ADS_1
"Kamu memang istri idaman!" begitu katanya.
Hah? Istri? Aku baru sadar masih menjadi istrinya.
"Mia, aku akan– eh? Anggap aku tidak ada."
Pandanganku beralih melihat seseorang yang baru berbicara, dia adalah Ayra, baru naik ke lantai atas, dan terlihat menatapku penuh tanya. Dan posisiku dengan mas Dimas? Hem, mungkin sudah disalah sangka olehnya.
Segera ku lepaskan pelukan Dimas, dan mendatangi Ayra.
"Mau apa dek?"
"Hem, tidak ada. Kakak lanjutkan saja." begitu kata adikku.
"Lanjutkan apa nya maksudmu?"
__ADS_1
"Hem … Oh iya, aku lupa." Ayra menepuk jidatnya. Adikku yang pelupa ini seolah lupa kalau aku dan mas Dimas sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu pasti berpikir kakak dan kakak iparmu tidak berselisih kan?"