
Next day...
"Mmmm..." Karina menggerakan tubuhnya yang terbaring lemah tak berdaya di atas sofa. "Aku dimana?" lirih Karina sambil meringis, merasakan sakit di bagian kepalanya.
"Kau berada di caffe, ku."
Karina tersentak, ia langsung beranjak duduk saat suara tidak asing dari seseorang mengetuk pendengarannya. "Kau?"
"Kau terkejut? bagaimana keadaanmu? sudah lebih baik? dokter baru saja pergi." Nicko mendekati Karina lalu duduk sejajar dengan gadis cantik tersebut.
"Ma... maaf sudah membuatmu repot, aku akan kembali sekarang." Karina langsung mendirikan tubuhnya yang lemah, "Ah..."
Nicko dengan sigap menangkap tubuh indah tersebut. bahkan untuk berdiri saja Karina nampak kesulitan, bagaimana Nicko akan membiarkan wanita tersebut sendirian. "Duduklah, aku akan mengantarmu pulang."
Karina menggelengkan kepalanya yang terasa pusing, "Tidak. aku tak ingin merepotkanmu lagi, ini sudah cukup."
"Karina," Nicko memandang lekat wajah gadis itu sambil mengelus wajahnya perlahan. "jangan takut, maaf jika sikapku sebelumnya sudah sangat keterlaluan. aku hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu." imbuh Nicko lembut penuh ketulusan.
Sulit untuk di pungkiri, tatapan Nicko begitu mengintimidasinya. hal itu sukses membuat jantung Karina berdebar-debar.
"Katakan, siapa pria itu. kenapa dia memaksamu?" tanya Nicko perhatian.
Karina tertunduk, wajahnya memanas seketika saat Nicko melontarkan kalimat pertanyaan tersebut. bisa Karina ingat dengan jelas jika sebelumnya ia datang mengunjungi sebuah caffe. niat hati ingin menenangkan diri, dikala dirinya terjebak hujan saat berjalan menuju pulang. Namun, siapa sangka. Karina justru malah di pertemukan dengan pria yang sangat ia benci yang tidak lain adalah Ayahnya.
Trauma, sepertinya kata tersebut sudah mengakar dalam dirinya. setiap kali melihat wajah sang Ayah. ia kembali di seret oleh bayang-bayang masa lalu, saat umur gadis tersebut belum beranjak dewasa.
__ADS_1
Karina melihat dengan jelas bagaimana Ayahnya memperlakukan Ibunya dengan sangat jahat. memukul, menghardik dan juga meninggalkan Karina beserta Maria di usia yang masih terbilang kanak-kanak kala itu. Padahal Renita, Ibu dari Karina tergolong kedalam wanita cantik dan berbakat. memiliki bisnis desainer personal, tanpa mengandalkan siapapun ia bisa dengan mudah membangun bisnis di bidang fashion.
"Dia adalah Ayahku," sejenak Karina mengerjap menghentikan ucapannya, "sudahlah, lupakan saja. terima kasih sudah menolongku. aku sama sekali tidak tahu jika caffe ini adalah milikmu." ucap Karina, berbeda dari sebelumnya. kali ini gadis tersebut terdengar jauh lebih santai dalam menghadapi Nicko. sepertinya Karina cukup tahu diri, ia tak ingin berdebat dengan penolongnya.
"Tapi saat kau tidak sadarkan diri, kau terus berteriak dan mengatakan jika dia adalah pria yang jahat." Nicko terus saja mencari celah untuk mengoreksi kehidupan Karina, baik di masa sekarang maupun dimasa lalunya.
"Ia sudah meninggalkan Ibuku, ia juga sudah menelantarkan ku. apa ucapan ku salah saat aku mengatakan jika dia bukanlah pria yang baik?"
Nicko hanya tersenyum getir menanggapi apa yang Karina jelaskan padanya. sejauh ini, ia cukup mengerti masalah yang menimpa seorang putri dan Ayahnya tersebut.
"Seluruh tubuhku terasa panas, apa kau tidak menyalakan pendingin ruangannya?" ucap Karina dengan mata yang melirik kekiri dan kekanan mencari pendingin ruangan.
"Ini sudah cukup dingin," Nicko menggaruk kepalanya yang tidak gatal sejenak. "Maaf aku sudah lancang memberimu minyak angin."
"Ja... jangan marah, itu hanya di bagian hidung mu saja." kegugupan Nicko seolah telah mengatakan, jika pria itu sedang berbohong.
"Benarkah?" Karina memangkas jarak, menatap wajah Nicko intens. "tapi perutku juga terasa panas."
Nicko tertawa canggung tidak berani menatap wajah Karina. "sedikit, aku khawatir karena kau terus saja mengigau dan tak kunjung bangun."
"Hanya menyentuh perut?" Karina mengerutkan dahinya sambil memperdalam tatapan dengan sorot mematikan.
Nicko menganggukan kepalanya dengan cepat, meskipun pada kenyataannya ia sedikit mengambil keuntungan saat gadis itu tak sadarkan diri.
"Tahan Nicko, dia tidak seperti para gadis yang kau kenal. dia berbeda, sekali saja kau membuat kesalahan maka mangsamu akan terlepas untuk selamanya." batin pria tersebut mengingatkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Suatu kebiasaan buruk, Nicko tak bisa menahan dirinya saat ia sedang berhadapan dengan seorang wanita cantik yang membuatnya tertarik. ingin rasanya Nicko mengecup bibir tipis Karina yang terlihat basah, membelai wajah cantiknya yang nyaris tanpa cacat.
"Tuhan, kenapa gadis ini sangat sulit untuk aku taklukan."
Sikap polos dan kelembutan Karina nampak sempurna di mata Nicko. Helen benar, jika Nicko memaksa Karina dan mengejar gadis itu secara terang-terangan. itu semua hanya akan membuat Karina semakin menjauh darinya. sekarang Nicko merasa sebaliknya, pemuda itu merasa jika Karina sudah selangkah lebih dekat dengannya.
"Karina boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Apa?" gadis itu memalingkan wajahnya membalas tatapan Nicko dengan mata redupnya.
Nicko menghela nafas panjang, ia mencoba menata emosinya agar tak terpancing dalam menghadapi Karina. "Kenapa kau terus mengabaikan pesan dan panggilanku? apa aku sudah membuatmu terganggu?"
Karina menggelengkan kepalanya perlahan, "Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku tidak suka memainkan ponsel berjam-jam hanya untuk saling bertukar pesan ataupun berbicara dengan seseorang. sesekali aku melihat ponselku," sejenak Karina terdiam sambil menilai sorot mata Nicko yang menonjolkan harapan. "Kau boleh berkunjung jika perlu sesuatu, lagi pula. tempat tinggal kita berdua tidak jauh bukan? asal kau bisa menjaga sikapmu, maka aku tidak akan mengabaikan mu." imbuh Karina memancarkan senyuman.
Nicko tertegun, sepertinya memang dialah yang salah. ia kurang memahami wanita seperti Karina. bagaimana mungkin wanita sepolos dan selugu di hadapannya bersedia menerima pria yang baru saja beberapa kali ia temui. bahkan sikap dan prilaku Nicko lebih kesebuah paksaan, tentu Karina tidak akan pernah bisa menyukainya jika cara tersebut ia pakai seperti menghadapi sebuah jalan*g
"Baiklah aku mengerti," celetuk Nicko penuh semangat.
"Mengerti apa?" tanya Karina terkejut penasaran.
Nicko menggelengkan kepalanya tanpa memudarkan senyuman. Karina benar-benar sukses membuat pemuda tersebut menggilainya. bahkan segala sesuatu yang Karina lakukan, dimata Nicko begitu menggemaskan.
"Tuhan, kenapa ia sangat menggoda." gumam Nicko prustasi, "Apa aku bisa menunggu selama itu?"
LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONG SAYANG...
__ADS_1