Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 26


__ADS_3

"Ahhh..." Karina menjerit saat wanita itu terbangun dari tidurnya dengan keadaan tubuh yang sudah terdekap oleh Nicko.


Nicko tersentak, spontan pria tersebut melepaskan Karina dengan ekspresi terkejut. "Ada apa?" tanya Nicko datar.


"Kenapa kau disini, kenapa kau memelukku?" gerutu Karina mencecar kesal.


"Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. aku akan ikut kemanapun kau pergi," ucap Nicko menggoda tersenyum tipis.


Semalam setelah keduanya beradu mulut. Karina memilih untuk menikmati udara segar dari balkon apartemennya. segala usaha untuk mengusir Nicko keluar sudah Karina kerahkan. bahkan saat Karina hendak terlelap, Nicko memang masih berada dalam ruangan tersebut. berbaring di atas sofa seolah tertidur, saat Karina membangunkannya Nicko justru tidak bergerak hingga Karina kembali mengingat jika Nicko memang sulit untuk di bangunkan, saat pria itu sudah nyaman dalam posisi tidurnya.


"Berhenti bicara, dan cepatlah keluar dari kamarku." pekik Karina mengusir.


"Tidak akan," sahut Nicko cepat dan langsung membaringkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur Karina.


Karina berdecak, wanita tersebut lantas menarik Nicko secara paksa untuk segera membawa pria itu keluar dari dalam apartemennya.


"Cukup sayang, sampai kapan kau akan begini. tolong beri aku kesempatan." ucap Nicko memohon sambil berjalan mundur.


Tak ada tanggapan dari Karina, wanita itu tetap bersi keras untuk mengusir Nicko dari kamarnya. kebencian Karina memang sudah membutakan segalanya, bahkan cintanya saat ini seolah sudah tak ada lagi artinya. Di mata Karina, Nicko tetaplah penjahat atas segala kehancurannya.


"Keluar!" bentak gadis itu mendorong paksa tubuh Nicko.


"Aku akan tetap disini bersamamu!" sahut Nicko menolak, sambil berpegangan pada bingkai pintu.

__ADS_1


"Jika tidak aku akan berteriak," Karina menatap tajam kearah Nicko sambil mengancam.


"Berteriaklah," celetuk Nicko menantang.


Karina menatap benci kearah Nicko, sejenak ia terdiam lalu mengalihkan sorot matanya pada seorang pria paruh baya yang melewatinya. "Tolong, ada pria jahat yang ingin memperkosa... mmm"


Nicko membulatkan matanya, Karina ternyata memang benar-benar nekat. ia langsung menutup mulut Karina. Namun, usahanya gagal karena beberapa orang sudah memperhatikan dan mulai mendekatinya.


"Apa yang kau lakukan? kau akan melukai wanita itu?" tanya pria paruh baya mengintrogasi.


Nicko menelan ludah getir. kepalanya menggeleng kemudian berkata, "Dia istriku, kamu sedang bertengkar. tolong jangan salah paham."


"Bohongmmm..." Nicko kembali menutup mulut Karina saat wanita itu hendak membantahnya.


Karina mengangkat satu alisnya. batinnya cukup merasa puas, karena setelah ini Nicko tidak akan memiliki alasan lagi untuk mendekatinya.


"Euuu...." Nicko berpikir, ia mengalihkan sorot matanya menatap Karina yang sedang melemparkan senyum licik padanya. "Sudah aku katakan, kita berdua sedang bertengkar. dia memaksaku untuk melepas cincin itu, aku sedang berusaha mempertahankan pernikahan kami. tolong jangan ikut campur." tukas Nicko memeluk erat Karin, "jangan marah lagi sayang, aku tahu kau sangat kehilangan bayi kita. itu semua kesalahanku, setelah ini aku berjanji akan berusaha keras untuk membuatmu hamil lagi." ucap Nicko memohon dengan ekspresi memelas.


Karina mengerutkan dahinya, wanita tersebut langsung menatap pria paruh baya dan seorang wanita tua secara bergiliran. "Dia bohong, tolong percaya padaku. dia ini penjahat." ucap Karina meyakinkan.


"Maafkan aku, Nak. tapi kami tidak bisa percaya padamu begitu saja, bukti itu tidak cukup. wanita ini terus saja mengatakan jika kau penjahat."


Karina melepas paksa Nicko yang begitu erat memeluk tubuhnya dari belakang. "Kau dengar itu? pergilah sekarang sebelum aku memanggil pihak keamanan." celetuk Karina menatap sinis.

__ADS_1


"Ah tunggu sebentar," Nicko mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, entah apa yang akan pria itu lakukan. Namun, sepertinya Nicko akan memberikan sebuah alasan untuk mengamankan posisinya sekarang. "Ini," Nicko memperlihatkan beberapa gambar dirinya dan Karina pada semua orang yang berada disana. "Kupikir ini cukup untuk membuktikannya pada kalian,"


Karina kembali membantah, ia mengibaskan tangannya kemudian berkata. "Dia orang jahat, foto itu diambil saat kami masih bersama sebelumnya."


"Ah, yang ini juga." Nicko kembali memperlihatkan layar ponsel yang berisi foto dirinya dan Karina.


"Astaga, kau memotretnya." celetuk wanita paruh baya terkejut saat melihat gambar Karina yang sedang tidur dalam dekapannya, dengan keaadan tubuh telanjang yang di tutupi selimut.


"Apa itu?" tanya Karina penasaran berusaha merebut.


Nicko langsung mengamankan ponsel miliknya sehingga Karina tidak berhasil untuk mengambil ponsel tersebut. "Aku bahkan memiliki rekaman videonya, kau ingin lihat?" tukas Nicko meyakinkan.


"Ahhh tidak," Nenek tersebut menggelengkan kepalanya seolah menolak apa yang Nicko tawarkan. "itu privasi kalian, berbaikanlah. kalian bisa membuat anak sebanyak mungkin, usia kalian masih sangat muda. jangan permainkan pernikahan." imbuh Nenek itu menasehati lalu berlalu pergi di ikuti yang lainnya.


Karina mengalihkan menajamkan tatapannya pada Nicko. wanita itu terlihat begitu sangat penasaran, entah bukti apa yang Nicko berikan hingga sukses membuat semua orang disana percaya.


"Ayo kita lakukan sekarang." ucap Nicko mengajak.


"Apa?" sahut Karina bertanya heran mengerutkan dahi.


"Kau tidak dengar apa yang dikatakan nenek itu? kehilangan anak bukanlah akhir dari segalanya. kita bisa membuatnya sebanyak mungkin di usia kita yang sekarang." celoteh Nicko menggoda mengelus wajah Karina.


"Kau bermimpi!" Bruak... Karina langsung membanting pintu apartemennya, meninggalkan Nicko begitu saja diluar sana.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTEEE...


__ADS_2