
Di sebuah cafe, Karina terlihat duduk sendirian sambil memainkan ponselnya. entah apa yang terjadi, saat Johan mengetahui jika Karina datang bersama Sandra. pria itu langsung membatalkan janjinya.
Hal itu langsung memicu kekesalan Sandra. semua ini benar-benar sangat mencurigakan. Karina yang notabanenya tidak tahu apapun hanya bisa mengiyakan dengan berjuta pertanyaan yang berkutat dalam kepalanya.
"Sayang," Nicko menyapa Karina dan langsung duduk tepat di hadapan sang empu mengukir senyuman. "Dimana Johan?" lanjutnya bertanya.
Karina menggelengkan kepalanya, wanita cantik itu lantas menghela nafas kasar lalu berkata. "jika tahu akan begini, lebih baik langsung pulang. mereka benar-benar sangat misterius!" gerutu Karina sebal.
"Siapa?" Nicko yang tidak mengerti dan tidak mengetahui apapun hanya bisa melemparkan pertanyaan pada kekasihnya.
"Johan dan Sandra, aku rasa mereka berdua terlibat scandal." celetuk Karina sembarangan.
"Scandal?" Nicko menyeringai saat melihat ekspresi Karina yang menggemaskan.
"Kau tahu kan, sebelum meninggal. Helen pernah mengamuk di rumah sakit dan menuduh Sandra dan Johan menjalin hubungan." Karina menyodorkan segelas jus yang sudah ia pesan, "Aku yakin. tuduhannya bukan hanya sekedar cemburu buta."
Terlihat dari ekspresinya, Nicko seolah tak begitu tertarik dengan sesuatu yang terjadi antara Johan dan rekan kerja Karina tersebut. pria itu berprinsip. untuk apa memikirkan hubungan orang lain, sedangkan hubungan yang Nicko jalani dengan Karina belum sepenuhnya sempurna.
"Baiklah, kita ganti topiknya." Nicko meraih segelas jus untuk meminumnya, "Apa rencana mu sekarang?"
"Rencana apa?"
Nicko meraih wajah Karina dan mengelusnya, "rencana hubungan kita, kau sudah siap?"
Spontan Karina menggelengkan kepalanya penuh kecemasan. "Tidak, bagaimana jika Ibumu mengusirku. bagaimana jika dia tidak menerimaku?" sejenak Karina menelan salivanya dengan bersusah payah. "Aku takut Nicko, aku belum siap." lirih Karina merengek.
__ADS_1
"Aku ada bersama..."
"Bruk..." Nicko tak berhasil menyelesaikan ucapannya, saat ada seseorang yang menyenggol dan menumpahkan sebuah jus mengenai kemeja dan jasnya. pria itu mengeratkan giginya kesal, bola matanya bergerak untuk melihat wajah sang pelaku. "Si..." umapatannya terhenti saat melihat seorang gadis kecil yang berdiri di sebelahnya dengan wajah memelas.
"Paman, maafkan aku." rengek gadis kecil itu dengan mata menggenang.
Seketika ekspresi wajah Nicko berubah. sedangkan Karina langsung memberikan beberapa helai tisu pada sang kekasih. untuk membersihkan pakaiannya.
"Lain kali berhati-hatilah," Karina meraih tubuh gadis kecil itu. "dimana Ayah dan Ibumu?"
Dengan tangan yang bergetar, gadis kecil itu menunjuk ke salah satu arah. "Di... disana, Bibi."
"Kembalilah, jangan biarkan mereka mencarimu. jika kau hilang mereka pasti akan sangat cemas."
Nicko tertegun, pandangannya sama sekali tak lepas dari wajah cantik Karina.
"Empat..." sahutnya sambil menunjukan kelima jari tangan kirinya.
Karina terkekeh, ia langsung melipat satu jari anak itu sambil berkata. "Baiklah, empat. ini yang benar."
Nicko menyadarinya, mungkin jika pada waktu itu ia tak membuat kesalahan. mereka juga akan memiliki putra atau putri yang berusia serupa dengan anak kecil tersebut. ada sesuatu yang Nicko harapkan sekarang, semoga saja Karina tak memikirkan hal yang sama dengannya. karena jika iya, Karina pasti akan kembali mengingat kesalahan dan kenangan pahitnya bersama Nicko.
"Dah, Bibi." ucap gadis kecil itu sambil berlalu menuju kemeja orang tuanya.
Karina mengangguk, ia melambaikan tangannya sambil melebarkan senyuman. "Jika saja aku tidak keguguran, mungkin anak kita sudah berusia sepertinya."
__ADS_1
Baru saja Nicko memikirkannya, Karina langsung berkata demikian yang berarti jika wanita itu kembali mengingat kenangan pahitnya.
"Karina aku..."
"Ayo kita pulang," Karina beranjak. ia kembali meraih beberapa helai tisu lalu merapikan jas dan kemeja Nicko agar terlihat lebih baik.
Ekspresi Karina terlihat santai. sentuhan lembutnya saat membantu Nicko menyeka pakaian langsung membuat pria itu keheranan.
"Kau tidak marah?" tanya Nicko khawatir meraih tangan Karina.
"Marah?" Karina memiringkan senyumnya, "bukankah kita berdua sudah berjanji untuk memulainya kembali dari awal. setelah menikah, kau harus bekerja keras untuk membuatku hamil. tidak ada protes!"
Nicko langsung memeluk Karina sambil memejamkan matanya. merasakan hangat dan kenyamanan dari tubuh sang empu.
"Nicko! kau tidak waras? ini tempat umum!" gerutu Karina mencoba melepaskan dirinya yang terdekap.
"Sebentar saja, biarkan mereka semua tahu jika kau hanya milikku." lirih Nicko manja dengan suara parau.
Karina mengerjap menahan rasa malunya.
"Aku mencintaimu, terima kasih sudah memberikan ku kesempatan." Nicko melepaskan pelukannya memandang wajah Karina. Namun, pria tersebut malah melakukan sesuatu yang semakin membuat Karina dan semua orang terkejut. Cup... kecupan lembut Nicko berikan hingga sukses membuat mata Karina membulat. seluruh pengunjung cafe bahkan di buat tercengang sekaligus takjub.
"Paman itu, dia mengginggit bibir, Bibi." celetuk gadis kecil yang langsung memancing kesadaran ibunnya untuk menutupi mata anak tersebut.
Kenapa Karina sangat sulit untuk memahami kekasihnya. bahkan setiap gerak-gerik Nicko pemikirannya sulit untuk Karina artikan. tak menampik jika sesekali Karina masih saja merasakan sedikit kekhawatiran. Namun, tindakan gila Nicko dalam memberikan pembuktian sukses membuat Karina terkesan.
__ADS_1
Nicko melakukannya dengan penuh keberanian dan tanpa beban. ia merasa dunia hanya milik dirinya dan Karina seorang. tak perduli di manapun, kapanpun dan bagaimanapun. Nicko benar-benar menepati janjinya untuk membuktikan pada seluruh dunia jika Karina hanya miliknya.
LIKE KOMEN DAN VOTENYA...