
Nicko terus menjaga Karina pada saat kekasihnya tersebut sedang dalam penanganan. cemas dan takut, rasa itu sudah bercampur menjadi satu. ia berpikir, bagaimana jika sesuatu terjadi pada Karina dan bayinya? noda darah yang menempel di tubuh dan pakaian Nicko, cukup membuktikan. jika Karina benar-benar sedang terluka parah.
"Maafkan aku, sayang. aku sudah menyakiti perasaanmu. aku bahkan tidak bisa menjagamu dan calon bayi kita." lirih Nicko penuh sesal.
Sampai detik ini, Karina masih belum sadarkan diri. dokter juga belum mengatakan apapun, penanganan yang mereka berikan berlangsung cukup lama. hingga detik ini Nicko masih menunggu, kekhawatirannya sama sekali tidak berkurang.
Nicko merasa sangat menyesal, ia merasa dirinya sudah begitu jahat. meskipun, kenyataannya Nicko benar-benar sangat mencintai gadis tersebut. kehadiran Karina sukses membawa begitu banyak perubahan padanya. itulah alasan, kenapa Nicko menghempas jauh niatannya untuk meninggalkan Karina.
"Bertahan Karina, demi aku dan calon anak kita." gumam Nicko menyematkan harapan.
Awalnya Helen tidak ingin mengatakan segalanya pada Johan. tapi saat pria itu datang, Helen terus di cecar sampai pada akhirnya wanita itupun berkata. "Semua karna aku yang sudah membuat perjanjian gila dengan Nicko."
"Perjanjian gila?" Johan memincingkan matanya semakin penasaran, "katakan, apa perjanjian itu?" pekik Johan menyudutkan.
Setetes air mata Helen mengalir, ia sendiripun tak kuasa menahan tangis saat melihat keadaan Karina yang kritis. hal itu semakin membuat Helen merasa bersalah, meskipun awalnya Helen tak berniat melakukan hal tersebut.
Beberapa waktu sebelumnya, saat Helen berada di Bar Danger, tepatnya dalam secret room dimana didalamnya terdapat begitu banyak orang kaya yang bertaruh di atas meja judi.
"Shi*t!" Helen mengumpat kesal, saat ia berhasil kembali Nicko kalahkan.
"Apa ini Helen? kenapa kau bisa kalah lagi darinya?" ucap Vano yang berhasil membuat wanita itu merasa telah diragukan.
"Sepertinya kali ini aku tidak bisa memberimu pinjaman," ucap Nicko sambil menuangkan sebotol vodka kedalam gelas lalu meneguknya.
__ADS_1
Helen mendengus kesal, "Kenapa? bukankah aku ini temanmu?" gerutu wanita itu jengkel. tak hanya mengkategorikan diri sebagai teman, Helen merasa jika Nicko sangatlah tidak adil karena Helen nyaris setiap saat menghamburkan uangnya di tempat tersebut.
"Apa jaminan yang akan kau berikan kali ini?" tanya Nicko menyeringai.
"Jaminan?" Helen terkekeh kemudian berkata, "ternyata kau sangat perhitungan!"
"Aku akan menganggap seluruh hutangmu lunas, asal kau bisa memenuhi syarat yang aku berikan."
Helen mendalamkan kerutan di dahinya. hutang yang ia miliki berjumlah fantastis, seketika kecurigaan Helen muncul dan berpikir jika Nicko akan meminta tubuhnya untuk di jadikan sebagai jaminan. "Aku bersedia,"
"Kau bersedia? aku bahkan belum mengatakan syarat yang aku inginkan." celetuk Nicko disertai kekehan kecil.
"Memangnya apa syarat yang kau inginkan?" tanya Helen penasaran menajamkan tatapan.
Helen membulatkan matanya, hal tersebut cukup mengejutkan. bagaimana mungkin dirinya tega menjaminkan Karina untuk menutupi semua hutangnya, sedangkan Karina sendiri adalah sahabat yang sudah Helen anggap sebagai adik sendiri.
"Jangan bodoh, Nicko. itu tidak akan pernah kulakukan, dia tidak sepertiku!"
Nicko menganggukan kepalanya perlahan, "itu alasanku, kenapa aku menginginkannya."
"Itu tidak akan pernah terjadi!" tegas Helen menolak.
"Maka kau harus melunasi hutangmu, ku beri waktu sampai besok malam."
__ADS_1
Helen mengeratkan giginya, sejenak wanitaitu berpikir. bagaimana mungkin Helen bisa melunasi hutangnya, sedangkan waktu yang Nicko berikan hanya satu malam.
"Apa yang akan kau lakukan pada Karina?"
Nicko menyunggingkan senyumnya, kedua alisnya terangkat karena merasa sudah berhasil membuat Helen tidak memiliki pilihan. "Hanya untuk bersenang-senang, aku tidak akan melukainya."
"Apa kau tidak waras, jangan pernah berpikir untuk merusaknya!" tegas Helen penuh penekanan.
Nicko menghela nafas panjang, pria itu beranjak melangkah menuju sisi ruangan untuk menikmati pemandangan malam melalui kaca jendela. "Baiklah, agar hal ini tidak semakin rumit. kau cukup mengenalkan ku padanya."
"Kau begitu yakin, Nicko. Karina adalah wanita yang sulit untuk di taklukan. jadi jangan pernah berpikir untuk melakukan hal buruk padanya!" pekik Helen menatap Nicko dengan sorot mematikan.
"Kau meragukan ku?" Nicko mengeluarkan dompet dan mengeluarkan sebuah kartu tanpa limit lalu memberikannya pada Helen, "Ini bonus,"
"Tidak, aku tidak akan menjual Karina padamu!" tolak Helen bersungguh-sungguh.
"Hanya untuk mengenalkannya padaku, kau yakin ingin menolak kesempatan ini?" ucap Nicko dengan sorot membujuk.
Helen menelan ludah getir, sejenak ia berpikir lalu berkata. "Apa jaminannya jika kau tidak akan melakukan hal buruk pada Karina?"
"Dengar! kau tidak perlu mengetahui hal itu, aku hanya akan mendekatinya. jika Karina tidak berhasil aku taklukan, maka aku akan menyerah. lalu hutangmu masih akan ku anggap lunas," ucap Nicko menjelaskan.
Helen terdiam, mungkin seharusnya ia menerima tawaran tersebut. ini kesempatan bagus, sedangkan Karina. Helen akan berusaha untuk membuat Karina supaya tidak terjebak dalam jeratan Nicko.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTEEEEEE