
Ditempat lain, Maria sudah berdiri di hadapan pintu ruangan pribadi Karina. setelah mendapat panggilan dari Nicko, Ibu beranak satu itupun langsung bergegas menemui adiknya. Maria tahu betul bagaimana sikap Karina yang tak pernah ingin menyeret orang lain dalam sakit hatinya.
Setetes air mata Maria mengalir saat matanya tak sengaja mengintip Karina sedang menangis dalam ruangannya. hal itu justru membuat Maria berpikir, seberapa dalam luka yang Karina milik? berapa lama luka itu menyelimuti Karina?.
"Sia"l! aku benar-benar gagal," Maria mulai mendorong pintu ruangan Karina perlahan dengan sorot mata datar memandang lemah sang adik.
"Kak..." tangisan Karina terhenti seketika, Dokter cantik itu terkejut dan langsung beranjak membalas tatapan Maria dengan sorot heran.
"Maafkan aku," Maria langsung memeluk erat tubuh Karina, menumpahkan kerinduan dan rasa yang terpendam saat itu juga. "sebagai kakak, aku terlalu buruk untuk mu," lirih Maria memohon.
Karina terpaku, bibirnya terasa kelu. entah apa yang Maria maksud dan lakukan. sungguh, Karina sama sekali tidak mengerti. karena menurut Karina. sejauh ini, Maria sudah bersikap sewajarnya sebagai seorang Kakak.
"Seharusnya, saat itu aku tidak memberitahu kalian tentang apa yang aku lihat. seharusnya aku menyimpan luka itu sendirian, maafkan aku Karina. aku-lah penyebab kesedihan dan kehancuran yang kalian rasakan." ucap Maria histeris yang kembali memancing air mata Karina untuk keluar dari pelupuknya.
"Ini tidak ada kaitannya dengan, Kakak. Ayah adalah penyebab segalanya. kehancuran ini tidak akan terjadi, jika Ayah tidak melakukan kesalahan." Karina membalas pelukan Maria sambil mengelus punggungnya penuh kasih sayang, "Jangan bahas pria itu lagi, kita sudah sepakat untuk menghapus pria itu dari memori ingatan kita berdua. aku tidak perduli, jika orang akan mengaggap kita jahat. kenyataannya yang mengatakan itu semua adalah orang yang belum pernah berada dan merasakan bagaimana sakitnya menjadi kita."
Flashback...
Maria dengan mengenakan seragam sekolahnya turun dari jemputan sekolah yang mengantarnya kembali pulang. gadis yang akan beranjak memasuki usia belasan tahun itupun melangkah, menginjak satu persatu anak tangga di depan rumahnya.
"Ayah..." Maria dengan mata redupnya melirik kesebuah mobil asing yang terparkir di luar garasi mobilnya.
"Mama..." Jerit tangis Karina kecil langsung membuat Maria berlari mendorong masuk pintu utama. Maria terus mengabsen setiap detail ruangan, untuk mencari keberadaan sang adik.
Ekspresi wajah Maria berubah seketika, saat melihat Karina histeris ketakutan menumpahkan sebuah akuarium kecil yang gadis kecil itu mainkan.
__ADS_1
"Karina," Maria langsung mengulurkan telunjuknya, membiarkan sang adik menggenggam erat jarinya lalu beranjak.
"Kakak..." Karina menghentikan tangisannya memeluk Maria spontan, saat sang Kakak datang.
"Apa yang kau lakukan disini Karina? dimana pelayan? kenapa kau sendirian." tanya Maria membawa Karina kecil keatas sofa lalu mendudukkannya.
Karina dengan ekspresi polosnya hanya bisa diam. senyum indahnya tercipta, saat merasakan perhatian dan kasih sayang Maria padanya yang begitu besar.
"Ayah..." Karina menunjuk kelantai atas.
Maria tertegun, sorot matanya langsung mengikuti gerakan tangan Karina. "Kau tunggu disini, aku akan melihat Ayah." ujar Maria pada sang adik.
Karina mengangguk polos, gadis kecil itu lantas memeluk boneka kecilnya dan membiarkan Maria pergi menuju lantai atas tanpa merengek.
"Apa yang kau lakukan pada pelayan itu? bagaimana jika dia mengadu pada istrimu?"
"Dia tidak akan mengadu, aku sudah menyuruhnya membeli sesuatu di luar. dan saat wanita tua itu kembali, urusan kita berdua di ranjanng sudah selesai."
Maria bisa mengenali dengan jelas suara tersebut. itu adalah pembicaraan Arman dengan Janne. beruntung saat itu pintu tidak terkunci. pada akhirnya Maria harus melihat sesuatu yang belum pantas untuk dilihat oleh anak seusianya.
"Ayah..." Maria menjatuhkan air matanya dengan suara terendah. Dunianya seakan hancur. dari sanalah, Maria mulai menumbuhkan rasa kebencian terhadap Arman yang berani mengkhianati Ibunya.
Awalnya Maria diam. ia memilih bungkam dan tak ingin menceritakan apa yang ia lihat kepada siapapun. Namun, kebohongan sang Ayah benar-benar membuatnya sangat muak. malam dimana saat Ibu dan Ayahnya bertengkar kembali. Maria langsung memeluk sang Ibu dan menceritakan semua yang ia lihat di hadapan Arman.
"Bohong," Arman menghampiri Maria dan menarik paksa tubuhnya dari Marina. "Dasar anak kecil tidak tahu diri, beraninya kau..." Plakkk... tamparan keras Arman daratkan tepat di pipi kanan Maria. hal itu juga disaksikan langsung oleh Karina.
__ADS_1
"Apa kau tidak waras, beraninya kau menyakiti putrimu sendiri." Maria mendorong tubuh Arman dan langsung meraih juga memeluk tubuh Maria yang tidak berdaya.
Karina membisu, sorot matanya terus mengarah pada Maria yang sedang menangis dalam pelukan ibunya. Indra penglihatan, pendengaran, serta daya ingat Karina terus merekam dan mencerna kejadian tersebut. sulit untuk di bayangkan, bagaimana perasaan anak seusia Karina menyaksikan tindak kekerasan yang di lakukan langsung oleh Ayahnya.
Tak berhenti di sana, setiap kali Marina mengatakan sesuatu dari mulutnya. hal itu langsung memicu kekesalan Arman, hingga pria itu kembali mendaratkan pukulan dan tamparan pada Marina dengan emosi yang memuncak.
"Tidak..." Karina meneteskan air matanya melangkah perlahan mendekati Arman. "Ayah..." Karina menatap polos sang Ayah penuh kesedihan.
"Ahhh... Kalian semua tidak berguna!" Arman mendorong Karina dari hadapannya hingga gadis kecil itu terjatuh memecah tangisannya. "Ayah..." jerit Karina histeris.
Apa yang bisa Marina lakukan? untuk situasi sulit seperti ini. yang ia pedulikan hanya anak-anaknya. Maria dan Karina wanita itu dudukan tepat di sebelahnya, Marina beranjak membongkar isi lemari Arman dan mengeluarkan semua pakaiannya.
"Pergi kau dari rumahku, kau yang sama sekali tidak berguna! beraninya kau menyakiti putri-putriku!" Bruak... koper yang berisikan beberapa pakaian dan setelan Marina lemparkan keluar kamar. "yang terjadi hari ini, akan aku jadikan bukti di pengadilan!"
"Pengadilan?" Arma tercengang, ia memang berkhianat. Namun, Arman sama sekali tidak berniat untuk berpisah dan memutuskan hubungan dengan Marina. "kau jangah bodoh, Marina. bagaimana dengan Karina dan Maria."
"Kau sama sekali bukan Ayahku! pergi!" pekik Maria menyela.
Gigi Arman mengerat, sorot mematikannya tertuju pada Maria. "Beraninya kau..."
"Cukup!" Marina langsung menghadang Arman, "Pergi dari sini atau aku akan memanggil polisi." tegas Marina mengancam.
Tindakan yang tepat, Karina tubuh Marina sudah tak bisa lagi menampung lebam yang Arman berikan. bukan kali pertama pria itu melakukan kekerasan, sesuatu yang tidak bisa maafkan adalah, saat kedua putrinya harus terlibat menjadi korban kebengisan Arman.
LIKE KOMEN DAN VOTEE...
__ADS_1