Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 69


__ADS_3

Johan berlari menuju parkiran mobil saat Sandra berlalu meninggalkannya. entah harus dengan cara apa Johan menjelaskannya. sungguh, bukannya tidak mengerti. melainkan, Johan masih belum memiliki begitu banyak keberanian. pria itu berpikir, saat Sandra menerimanya saja itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi apa yang Helen inginkan. Namun, tanpa Johan sadari. sikapnya telah membuat perasaan Sandra terluka.


"Helen, kau benar-benar menyeret, ku. ke dalam masalah rumit!" batin Johan frustasi sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sandra sendiri memang merasa sikapnya sudah keterlaluan. ia meluapkan amarahnya pada Johan di hadapan semua orang. Namun, bagaimana dengan perasaannya. wanita mana yang akan tahan, setelah mendapati perlakuan dingin yang kekasihnya sendiri anggap santai.


Seolah sedang mempermainkan kesabarannya, Sandra memilih untuk selangkah lebih tegas. karena tak ingin lebih lama terjerat luka.


"Sandra..." setelah mobil yang Johan kemudikan terhenti di belakang taksi. pria itu langsung keluar mendekati kekasihnya. "tolong mengeretilah, aku tahu apa yang kau inginkan. tapi aku butuh waktu."


Sandra menatap kearah Johan dengan ekspresi penuh kecewa. "Aku tidak butuh pengertian mu, bukankah semuanya sudah cukup jelas? kau dan aku sudah tidak ada hubungan." tegasnya menekan nada pembicaraan.


Johan mencoba menekan rasa canggungnya. sejenak ia mengerjap, sambil memaksa berpikir jika Sandra sekarang benar-benar kekasihnya. "Oke, baik. tolong maafkan aku," sahutnya memohon tulus.


Sandra membisu, ia mencoba meredam rasa kecewanya guna memberikan kesempatan pada sang kekasih.


"Aku tahu ini semua salahku, jadi tolong maafkan aku." imbuh Johan menyusutkan bahunya.


Ternyata Sandra memang sudah benar-benar jatuh cinta. kemarahannya menciut seketika, saat ia melihat sorot penyesalan Johan yang terus mengintimidasinya. "Apa sikapku keterlaluan?" Sandra mendalamkan tatapan memangkas jaraknya, "Kau sendiri yang meminta ku untuk menjadi kekasihmu. setelah semua itu ku iyakan, sikapmu justru malah seperti orang lain bagiku."


Johan mengepalkan tangannya. perasaannya menjadi tidak karuan saat pria itu melihat cairan bening mengalir membasahi pipi Sandra. ingin rasanya Johan meraih pipi tersebut untuk menyeka air matanya. akan tetapi semua itu benar-benar tak mampu untuk ia lakukan.


"Bahkan aku semakin yakin, jika kau melakukannya hanya demi keuntungan mu sendiri." imbuh Sandra yang langsung membuat Johan terperangah seketika. "ini semua demi Helen bukan? Helen yang memintamu untuk menjadikan diriku sebagai kekasihmu?" Sandra menderaskan tangisannya.


"Tidak... aku..." Johan langsung meraih bibir Sandra dan memagu*tnya tanpa permisi.

__ADS_1


Sandra tertegun, bola matanya melebar seketika saat menyadari jika Johan mulai berani untuk mencium bibirnya. Sandra tahu, jika ciuman yang Johan berikan hanyalah sebuah tameng untuk melerai kemarahan. ia juga tahu, jika Johan tak bersungguh-sungguh atas tindakannya. Namun, entah mengapa Sandra sangat menyukainya meskipun pada akhirnya menolak dengan cara mendorong tubuh Johan dan memalingkan wajah. "Pergilah," titah Sandra dingin sebelum pada akhirnya melangkah masuk meninggalkan Johan.


"Tidak! aku ingin bersamamu!" tolak Johan mengekor.


"Tidak ada gunanya. aku benar-benar sudah muak. kau benar-benar sudah melatih kesabaran ku!" tukas Sandra memperdalam langkah kakinya.


Keadaan rumah memang sangat begitu gelap, sehingga membuat Sandra harus menyalakan senter dari ponselnya. mau bagaimana lagi? Christian sudah lebih dulu meninggalkan rumah dan hidup bersama Renata. sedangkan Ayah mereka di tugaskan untuk menghadiri sebuah acara penting di luar kota tentang peresmian rumah sakit yang di bangun oleh rekan seprofesinya.


"Sia*l!" umpat Sandra kesal sambil berjalan untuk menekan saklar lampu yang berada dalam beberapa ruangan.


"Biarkan aku membantu mu," ucap Johan mencoba mencairkan suasana. Namun, sepertinya usaha Johan terbilang cukup sia-sia. sebab, Sandra sudah tak menganggap jika pria itu sedang berada tepat di belakang ataupun di sisinya.


"Huh..." Sandra menghela nafas lega, saat lampu terakhir yang berada di ruang belakang sudah ia nyalakan. gadis cantik itu sejenak menjatuhkan bokongnya di sebuah kursi yang berada tepat di sisi kolam renang seraya bergumam. "Dia benar-benar tidak berbakat."


Sandra mengabaikan dan memilih untuk menjelajah media sosialnya. bisa Sandra lihat dengan jelas rasa keterpaksaan Johan saat pria itu menciumnya dengan tubuh yang bergetar.


"Aku akan berusaha, tolong berikan aku kesempatan!" lirih Johan merebut ponsel yang sedang Sandra mainkan.


"Cukup Johan, kau benar-benar membuatku muak! keputusanku sudah bulat. untuk apa menjalin hubungan atas dasar keterpaksaan? sekarang ataupun nanti, hubungan ini tetap akan berakhir juga. Helen pasti akan mengerti! kita berdua tidak memiliki kepribadian yang cocok!" pekik Sandra memberikan penjelasan penuh penekanan.


Seketika Johan teringat akan sesuatu. bayang-bayang Helen seketika melintas dalam pemikirannya. ucapan yang baru saja Sandra katakan pernah ia dengar, entah itu kapan.


"Jangan memaksaku Johan. kau terlalu baik untukku, kita sama sekali tidak cocok. kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku! aku tak ingin membuatmu kecewa! bukankan terlalu naif, jika aku bersedia menjadi kekasihmu?"


"Helen?"

__ADS_1


Sandra terperangah, ia melirik ke kiri dan ke kanan sejenak saat Johan menatapnya dengan sorot mata kosong sambil menyebut nama Helen. "Astaga..." Sandra tersenyum getir sambil beranjak membalas tatapan Johan dengan ekspresi kesal. "dugaan ku benar! kau hanya menjadikanku sebagai alat untuk melupakan cintamu sebelumnya!"


Glek... Johan terlihat semakin khawatir. tanpa sadar, ia kembali memantik api kemarahan Sandra. seperti yang dirinya ketahui, jika Sandra adalah seorang gadis yang sangat mudah tersinggung dan sering berburuk sangka pada seseorang. "Aku... tolong jangan salah paham..."


"Salah paham? kau benar-benar menjijikan!" Byur... secara reflek Sandra mendorong tubuh Johan hingga pria itu jatuh kedalam kolam.


Johan mencoba menahan nafasnya saat tubuhnya terhempas kedalam air. namun, Johan tak berhasil menata rasa takutnya lalu berteriak ke permukaan, "Sandra... aku tidak bisa ber... renang..."


"Jangan bercanda! aku benar-benar membencimu!" cetus Sandra melipat tangannya penuh kekesalan. seketika ekspresi wajah Sandra berubah, cukup memakan waktu. Johan tak hentinya memberontak di dalam air sambil berteriak meminta pertolongan. "Johan, kau serius?" tanya Sandra cemas.


Tak ada tanggapan, Johan masih saja berkutat dengan rasa takutnya sambil berusaha meraih pinggiran kolam.


"Johan..." Sandra langsung menenggelamkan dirinya kedalam air, ia berenang mendekati Johan kemudian meraih tubuh pria tersebut dan memeluknya melangkah ketepian.


Ya, kedalaman kolam hanya sampai sedada orang dewasa. akan tetapi air tersebut berhasil membuat rasa ketakutan Johan membara saat air itu masuk kedalam daun telinga dan hidungnya.


Sandra mengangkat dan mendorong tubuh Johan untuk naik ke permukaan. tubuh kekar yang tidak berdaya itu Sandra baringkan di sisi kolam.


"Johan, sadar Johan." Sandra menekan dada Johan mendongakan wajah pria tersebut untuk memperlancar pernafasan. "Johan, katakan sesuatu Johan. maafkan aku Johan. tolong sadarlah." lirih Sandra ketakutan.


Sandra menutup hidung Johan, membuka mulut pria tersebut untuk memberikannya nafas buatan. dapat Sandra dengar, detakan jantung Johan yang tak beraturan. Sandra mulai mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada bibir sang kekasih.


Deg... ekspresi wajah Sandra berubah seketika, saat merasakan jika Johan justru malah mengh*isap bibirnya. yang menandakan jika pria tersebut telah sadar dan baik-baik saja.


LIKE KOMEN DAN VOTENYA...

__ADS_1


__ADS_2