
"Astaga, apa aku harus terjebak lagi?" rengek Karina merutuk.
Nicko menghempas tubuh sang empu, menurunkan ciuman ke bagian leher indah Karina. pria itu mengecup dan tak lupa memberikan sebuah tanda kecupan di daerah sana.
Karina semakin terpana, saat Nicko dengan begitu mudah melepaskan kemeja dan memamerkan tubuh berototnya. Karina mengarahkan tangannya untuk mengelus dada telanjang kekasihnya. bagaimana Nicko menjelaskan rasa tidak karuan ini? sentuhan sederhana yang Karina berikan mampu membuat Nicko semakin tidak tahan.
"Karina, kenapa kau sangat menggoda?" Nicko kembali mengecupi sudut bibir Karina, tangan Nicko menyusup, mengelus pah*a mulu*s sang empu hingga berhasil memberikan sensasi geli-geli nikmat untuk Karina.
"Ahhhmmm..." Karina melenguh saat lidah Nicko mulai menyapu dua gundukannya, tak terbantahkan. hal ini benar-benar Karina sukai, wanita itu menekan tengkuk Nicko agar pria tersebut semakin memperdalam cumbuannya.
Lahar hangat sudah mulai membanjiri milik Karina. dapat Nicko rasakan dengan jelas saat pria itu berhasil menurunkan ce*lana dal*am sang empu dan menyentuh lubangnya. tak berhenti disana, Nicko ingin melihat bagaimana Karina merengek sambil terengah mengimbangi hasratnya. bagi Nicko kepuasan sang empu adalah hal yang paling utama.
Tolongg..."
Karina dan Nicko tersentak, keduanya langsung melepaskan diri masing-masing setelah mendengar jeritan dari seseorang.
"Sia*l, aku bahkan belum melakukan apapun!" ucap Nicko frustasi meraih kembali setengah pakaiannya yang terlepas.
"Kita bisa melanjutkannya nanti, cepat keluar!" titah Karina sambil mengancingkan kembali kemejanya.
"Tolong, putriku..."
Karina membuka pintu apartemennya, ia langsung bergegas menuju sumber suara yang tak lain berada tepat di sebelahnya. "Bibi, kau baik-baik saja?"
Karina memang sudah mengenal wanita paruh baya yang berteriak tersebut. hubungan mereka terbilang cukup dekat, meskipun Karina jarang berkomunikasi dan hanya bertemu dalam situasi tertentu.
__ADS_1
"Lili, dia... dia...."
Karina dan Nicko langsung masuk kedalam melewati wanita paruh baya yang sering di sapa dengan sebutan Bibi Pey. Keduanya lantas terperangah saat melihat Lili sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan darah segar yang berlumuran.
"Nicko cepat angkat dia," titah Karina spontan sambil berlalu keluar.
Nicko mengangguk, pria itu lantas mengangkat tubuh gadis belia itu dan membaringkannya di atas ranjang tempat tidur yang berada tepat di sisinya. hampir saja pisau yang Lili gunakan untuk menyayat dirinya terinjak oleh Nicko. beruntung, Nicko langsung menendang pisau itu meskipun sepatu kulitnya terkontaminasi dengan darah Lili.
Tak lama setelah itu, Karina datang membawa sebuah kotak yang berisikan perlengkapan kerja seperti obat, selang, cairan infus, perban, benang dan jarum medis.
"Bibi, tolong ambilkan air hangat." ucap Karina meminta pada Bibi Pey, dan langsung di iyakan.
Tangan terampil Karina mulai membersihkan luka pendarahan yang ada pada bagian pergelangan tangan Lili. Karina membalutnya dengan kain kasa lalu menekan luka tersebut guna menghentikan pendarahannya. setelah pendarahan berangsur berkurang, Karina lantas memberikan beberapa jahitan guna menutup luka terbuka tersebut. Tak lupa, Karina memasangkan alat infus di sebelah tangan Lili yang lain untuk memberikan cairan dan asupan darah.
Bibi Pey terlihat tidak menanggapi, tatapan kosong misteriusnya terus terarahkan kepada Lili yang masih belum sadarkan diri. tentu hal ini membuat Nicko sedikit menaruh rasa penasaran disertai kecurigaan. di bagian kepala gadis itu juga ada sebuah lebam. yang bisa saja di akibatkan oleh bekas pukulan atau tumpuan benda keras.
"Aku sudah memberikan infus dan menyuntikan anti biotik, lukanya tidak terlalu dalam. ia akan sadar dengan sendirinya, jangan terlalu cemas." ujar Karina sambil mengatur kecepatan tetesan infus yang baru saja terpasang.
"Te... terima kasih, Karina." ucap Bibi Pey terbata sambil tersenyum simpul.
Karina membalas senyuman tersebut, Dokter cantik itu lantas meraih tangan Nicko guna mengajaknya keluar.
Dari raut wajahnya, Nicko masih menyimpan kejanggalan. pandangannya sama sekali tak lepas dari Bibi Pey dan juga Lili. bahkan kecemasan dan rasa takut Bibi Pey seolah bisa hilang dengan sangat begitu mudah setelah Karina memberikan pertolongan pertamanya.
"Huft..." Karina menghembuskan nafas lega setelah berhasil menyelesaikan misinya. wanita itu langsung menaruh kembali kotak medisnya di dalam lemari sambil berkata, "Entah apa yang Lili pikirkan. tapi tindakannya benar-benar sangat bodoh."
__ADS_1
Nicko terperangah ia langsung memalingkan tubuh Karina spontan, "Apa kau sedang memikirkan hal yang sama denganku? aku sudah menduganya. ia pasti sedang mengalami beberapa masalah."
Karina mengangguk santai, "Aku tahu. dan tindakannya itu sangatlah konyol."
"Ibunya terlihat mencurigakan? tidak kah kau mencurigainya?"
Karina mengerutkan dahi, seolah tak mengerti setelah mendengar pernyataan konyol kekasihnya. "curiga? jadi maksudmu?"
"Itu hanya baru dugaan ku saja, apa kau tahu sesuatu tentangnya?" tanya Nicko penasaran.
Karina terdiam, ia berpikir dan mencoba mengingat kembali sesuatu tentang wanita paruh baya tersebut. Karina memang sangat sering memergoki Bibi Pey yang sering memarahi Lili, hingga membuat gadis belia itu menangis.
"Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan ku." imbuh Nicko memperkuat kecurigaan.
Karina mengangguk, sepertinya sesuatu yang baru saja ia saksikan tidak bisa di anggap remeh. ia lantas mengelus tangan Nicko lalu menjawab, "Baiklah. aku akan mengawasinya,"
"Tapi sebelum itu," Nicko mengangkat kedua tangannya mengelus bahu Karina. "kita belum sempat menyelesaikan sesuatu yang tertunda, kau ingat."
"Hah?" Karina terkekeh, tak habis pikir dirinya pada Nicko yang terlihat begitu mudahnya mengganti topik pembicaraan. "apa kau tidak waras?"
Nicko mendengus, menempelkan dagunya sambil memeluk Karina. "masalah kita tentu lebih penting, sayang." rengek Nicko manja
"Bayi besar, aku mencintaimu." ucap Karina membalas pelukan. lalu kemudian keduanya saling mempertemukan bibir mereka kembali dengan api gairah yang membara.
BERIKAN SEMANGAT DAN DUKUNGAN DENGAN CARA, LIKE, KOMEN, DAN VOTENYA.
__ADS_1