
Keesokan harinya, Karina yang masih terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur memilih tetap untuk memejamkan matanya. telinganya bisa mendengar dengan jelas, jika Nicko berada tepat di sisinya.
Pria itu terus membicarakan perihal kondisi Karina yang mulai berangsur membaik. Nicko bahkan sampai kelabakan, ia melupakan jam makan dan sama sekali tidak pulang hanya untuk menemani kekasihnya tersebut. semua ini Nicko lakukan atas ketulusan dan rasa bersalahnya, ia merasa jika keadaan Karina yang seperti ini adalah lantaran Nicko sepenuhnya.
"Tolong jaga, Karina sebentar. saya akan mengambil pakaian ganti di mobil." ucap Nicko menitipkan sang empu pada perawat.
Perawat itu menganggukan kepalanya. ia berpikir, jika Nicko adalah laki-laki sempurna karena tak pernah meninggalkan atau membiarkan Karina sendirian dalam ruangan tersebut.
"Kau beruntung sekali, Nyonya." gumam perawat tersebut mendudukan bokongnya di kursi samping ranjang Karina.
"Benarkan?" Karina membuka matanya saat wanita tersebut menyadari jika Nicko sudah tak berada di sana.
"Nyonya," perawat beranjak saat suara jawaban Karina berhasil membuatnya terkejut. "Kau sudah sadar? tunggu sebentar. kau tidak boleh banyak bergerak, suamimu akan segera kembali."
Karina terdiam, kepalanya memang masih terasa sangat berat. ucapan perawat tersebut terdengar sangat menjijikan. tapi Karina sadar mungkin alasannya adalah kehamilan Karina sendiri.
"Bagaimana dengan kehamilanku?" tanya Karina dingin.
Perawat tesebut tidak langsung menjawab apa yang Karina tanyakan. ia justru merapikan selimut yang menutupi Karina lalu berkata, "Kau akan baik-baik saja. suamimu akan datang."
"Aku tanya, bagaimana kehamilanku?!" tegas Karina penuh penekanan kembali bertanya.
__ADS_1
Perawat itu mengerjap. sejujurnya ia takut, untuk mengatakan jika Karina sudah mengalami keguguran. Namun, saat Karina terus mendesaknya. perawat itupun menjawab, "Maaf, tapi janin mu tidak cukup kuat." ucap perawat itu terbata.
Karina tertegun. wajahnya memanas setelah mendengar pernyataan tersebut meskipun ia sama sekali tak bereaksi.
"Tenang Nyonya, suami mu sangat perhatian. ia terlihat begitu mencintaimu, aku yakin kau akan segera hamil lagi. keguguran bukan berarti kau kehilangan segalanya." ucap Perawat berusaha menenangkan.
Karina terus menatap Perawat itu dengan tatapan penuh sakit. Karina berpikir, apa yang Perawat itu ketahui. dia sama sekali tidak mengerti apapun tentang hidup Karina. bahkan Nicko juga berhasil memanipulasi keadaan lalu berlagak seperti seorang kekasih, atau suami yang baik.
"Keluar," titah Karina dingin."
"Nyonya tapi aku..."
"Keluar!" pekik Karina meluapkan emosinya.
"Aku permisi, Nyonya." ucap Perawat itu berpamitan.
Karina tak kuasa menahan tangisnya. air matanya terus mengalir setelah menghadapi kenyataan pahit tersebut. begitu banyak masalah yang Karina hadapi sebelumnya, dan ternyata janji dan cinta yang Nicko tuangkan semuanya hanya kebohongan.
Sejenak Karina menghembuskan nafas guna menata emosinya. dadanya terasa sangat begitu sesak, tenaganya belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya. Namun, Karina bersikeras. ia melepas paksa jarum infus yang berada di punggung telapak tangannya.
"Ahhh..." Karina meringis sakit, saat jarum itu berhasil ia tarik hingga membuat darahnya mengalir dengan begitu deras.
__ADS_1
Karina menurunkan kakinya, ia mencoba menghentikan darah yang terus saja menetes. Namun, tak ada gunanya. gadis itu pun melangkah keluar dari dalam ruangan, sambil memegangi punggung telapak tangan agar tidak meninggalkan jejak darah yang berceceran.
"Kau kuat Karina," Gadis itu melangkahkan kakinya, ia berjalan menelusuri koridor rumah sakit untuk segera melarikan diri. "Nicko," Karina memperkuat langkahnya saat ia melihat Nicko yang berada di lobi berjalan kearahnya. "Tidak, dia tidak boleh melihatku. dia penyebab aku kehilangan janin yang ku kandung. dia sudah menghancurkan hidupku sampai anakku yang menjadi korban."
Karina menyembunyikan dirinya di sebuah ruangan kecil, ia mengintip dari balik pintu untuk memastikan jika Nicko sudah berjalan melewati tempat tersebut. Karina tetap mengklaim jika ini semua adalah kesalahan Nicko dan Helen. ia merasa sangat begitu di rendahkan akibat perjanjian gila yang sudah kedua orang tersebut lakukan.
"Apa ada korban kecelakaan lain? darahnya masih terlihat segar." gumam Nicko saat pria itu melihat jelas tetesan darah berada di atas lantai sepajang lorong.
Nicko mempercepat langkahnya, ia begitu berantusias menunggu kesadaran Karina. Dokter mengatakan, jika hari ini ia akan pulih. bahkan Karina sudah boleh di pulangkan, jika tak ada keluhan. Nicko siap menghadapi apapun yang akan Karina tuduhkan, ia sama sekali tak akan menampik kebencian Karina. dan setelah itu, Nicko akan menikahinya guna mengembalikan kembali kepercayaan wanita tersebut.
Pintu ruangan terbuka, pria itu mengerutkan dahinya dan berpikir jika di dalam ada Johan ataupun Helen yang sedang berkunjung.
"Kau... kenapa kau disini? bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjaga istriku!" gerutu Nicko kesal saat berpapasan dengan perawat.
"Ma... maaf Tuan. tapi Nyonya Karina sudah mengusirku. ia terlihat begitu sangat terpukul saat mengetahui jika janinnya tidak berhasil diselamatkan." tukas Perawat itu merasa bersalah.
Nicko berdecak kasar, ia langsung berlari memasuki ruangan melihat ruangan sudah dalam keadaan kosong. begitu banyak darah berceceran di atas kasur, selimut dan lantai.
"Sial!" Nicko langsung memutar badan keluar, "cepat cari Karina. dia kabur," pekik Nicko penuh kemarahan.
Perawat itu lantas mengangguk, ia bergegas mencari Karina dan memanggil pihak keamanan untuk membantunya menemukan wanita tersebut.
__ADS_1
"Dimana kau Karina," Nicko menelusur lorong mengikuti ceceran darah yang Karina tinggalkan. "Apa kau begitu marah pada ku, sehingga kau melarikan diri seperti ini." batin Nicko khawatir.
Sudah cukup Nicko kehilangan anaknya, ia benar-benar tak ingin kehilangan Karina sekarang. apapun rintangan yang akan pria itu hadapi, Nicko tetap bersi keras untuk mendapat penerimaan maaf dari Karina.