Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 35


__ADS_3

Sesaat setelah Sandra keluar dari ruang perawatan Helen. secara kebetulan gadis itu berpapasan dengan Karina. saat Sandra hendak menyampaikan informasi perihal kematian Helen.


"Kenapa?" tanya Karina menghampiri. "Kau menangis? apa yang terjadi? Helen memaki mu lagi?


"Karina," Sandra memeluk wanita yang sedang menatap heran kearahnya, "Nyonya Helen. dia meninggal," isak Sandra memecah tangisan.


"Hah?" Karina tertegun dengan ekspresi wajah datar seolah tidak percaya. "He... Helen?"


Sandra melepas pelukannya, ia menggeser tubuhnya memberikan jalan untuk Karina dapat melihat kondisi terakhir sahabatnya.


Air mata Karina tak terbendung. ia langsung berlari memeluk tubuh dan wajah Helen yang sudah tertutup oleh kain.


"He... Helen," lirih Karina meraih tangan Helen yang tak bernyawa. "Helen..." jerit Karina histeris.


Seketika bayang-bayang kebersamaan antara Karina dan Helen muncul. Karina bisa mengingat dengan jelas, saat Helen selalu melindunginya dari kasus perundungan kampus. saat Helen menegur Karina agar tak terpengaruh dan menjadi orang yang tidak berguna sepertinya. saat Karina sakit, Helen dengan sangat peduli dan perhatian merawatnya.


"Jangan tinggalkan aku, Helen. bangun!"


Johan yang berusaha untuk terlihat kuat pun meraih Karina, ia memeluk wanita tersebut dan berusaha menenangkannya. "Helen sudah tenang, aku tahu kau sangat menyayanginya. terima kasih sudah memaafkan kesalahan Helen."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan memaafkan Helen jika dia pergi meninggalkan ku sekarang." Karina melirik kearah Helen tanpa meredam tangisan. "Johan, cepat katakan pada Helen, dia tidak boleh meninggal. atau jika tidak aku takan pernah memaafkannya."


Jika saja waktu bisa di putar. Karina akan memilih untuk tidak meninggalkan Helen saat itu. Karina akan meredam kebenciannya lebih awal dan memaksa Helen untuk memulai pola hidup sehat dengan cara meninggalkan rokok dan minuman keras.


Karina menyesal, ia merasa ini semua seperti mimpi buruk. hidup Helen berakhir dengan waktu yang cukup singkat. padahal Karina sendiri sudah merencanakan sesuatu untuk merayakan persahabatannya tersebut dengan Helen. tetapi sepertinya tuhan sudah berkehendak lain, rencananya harus gagal dan persahabatan tersebut hanyalah tinggal kenangan.


Singkat waktu, Nicko yang mengetahui berita kematian Helen pun datang. pria itu lantas berlari di sebuah koridor rumah sakit untuk menemui Karina dan Johan yang sudah pasti akan berada di sana.


"Karina..." Nicko memekik dan langsung memeluk tubuh Karina begitu saja, "Aku sudah mendengar berita kematian Helen."


Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter itupun melepaskan dirinya dari pelukan Nicko perlahan. Karina berusaha menahan diri, agar pertengkarannya dengan Nicko hari ini dapat terhindari.


Karina kembali mengalirkan air mata kesedihannya. wanita itu menatap Nicko, dengan tangan mencengkram kuat ujung kemeja yang Nicko kenakan. "Berjanjilah padaku, jauhi rokok dan minuman keras. kau harus menjaga kesehatanmu mulai dari sekarang."


Nicko tertegun. ia berpikir dan bertanya-tanya. apa ini adalah bentuk dari kekhawatiran dan kepedulian Karina? ia begitu sangat ketakutan. tatapan sendu Karina, seolah seperti permohonan.


"Aku akan mendengarkan apa yang katakan. tapi sebelum itu, tolong maafkan aku." sahut Nicko berbinar.


Karina terdiam. pandangannya terus tertuju pada bola mata indah milik Nicko. sejenak wanita itu mengerjap, kemudian membuang tatapan lalu menarik paksa tangannya yang sedang Nicko genggam.

__ADS_1


"Apa aku harus berakhir seperti Helen. agar kau bisa memaafkan ku?" lirih Nicko menghentikan langkah Karina.


Mungkin Karina sedikit terpengaruh setelah mendengar pernyataan Nicko padanya. Namun, Karina tetap memilih bersikap acuh dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau jahat Karina, sebegitu bencinya kau padaku? sampai kau terus menghukum ku seperti ini?"


Karina tetap terdiam dan tidak menanggapi apa yang Nicko katakan.


"Aku akan menikahi mu, dan bertanggung jawab penuh atas dirimu."


Perlahan Karina memalingkan tubuhnya, berjalan mendekati Nicko dengan ekspresi wajah datar. Karina berusaha keras mengatur emosinya agar tetap stabil dalam menghadapi perkataan Nicko yang menurut Karina sendiri hanyalah berisikan omong kosong.


"Sebelumnya aku sudah pernah mengatakan, jika aku adalah seorang anak perempuan yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahku." Air mata Karina kembali menetes deras, "Ibuku melatih secara khusus, agar aku memiliki mental yang kuat. tidak seperti anak perempuan lain pada umumnya. aku memeluk diriku sendiri, saat masalah perlahan memaksaku menjadi dewasa." Karina menghela nafas kasar, sambil menyeka air matanya yang berjatuhan. "Ada yang lebih menarik setelah itu, lihatlah aku." Karina menajamkan tatapannya menyeringai, "Aku adalah perempuan yang hatinya sudah kau patahkan. kau membuat beban hidupku menjadi semakin berat. masa kecilku di hancurkan oleh ayahku, lalu setelah dewasa hatiku di patahkan oleh cinta." Karina memutar bola matanya, mencoba menyembunyikan air mata yang akan kembali menetes. "Aku masih sabar, aku masih bisa tersenyum, aku masih bisa memaafkan keadaan yang menyakitkan ini. dan kau masih menganggap aku jahat?"


"Karina, aku..."


"Cukup," Karina menyela ucapan Nicko. "Tidak semua kesalahan akan terselesaikan, setelah kau meminta maaf dan aku memaafkan mu. apa kau pernah berpikir? seberapa besar kepercayaan ku yang sudah kau hancurkan? aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. tapi kau? kau mempermainkan itu semua demi sebuah kesepakatan konyol!" tegas Karina penuh penekanan.


Wajah Nicko memanas, matanya menggenang. ucapan Karina benar-benar menusuk relung batinnya. sulit untuk Nicko bayangkan. pria itu salut kepada wanita incarannya tersebut, Karena masih bisa bertahan dalam menghadapi masa sulit tersebut. pria macam apa Nicko ini, mencintai tetapi justru malah membuat wanitanya tersakiti.

__ADS_1


"Ma... maaf," lirih Nicko menatap kepergian Karina dari hadapannya.


__ADS_2