Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 71


__ADS_3

"Apa yang terjadi, Karina? kenapa kau terlihat sangat ketakutan?" tanya Jade tak kalah penasaran. sejenak pria itu melirik kearah Nicko, "apa ini alasan mu, saat kau memintaku untuk menjodohkan mu dengan Karina?"


Nicko mengangguk, ia benar-benar sudah tak ingin menyembunyikan apapun setelah memutuskan untuk menjalin keseriusan dengan Karina.


"Karina pernah terlibat kecelakaan, sampai keguguran."


Seketika Jade dan Maria terperangah. bola mata keduanya membulat setelah mendengar pernyataan Nicko.


"Karina kau..." Maria sedikit membuka mulut, dengan tangan yang menutupnya.


"Bayi itu adalah darah daging ku, terjadi saat lima tahun lalu."


Deg... Maria menelan salivanya dengan bersusah payah. "Li... lima tahun? apa itu alasan kenapa kau ingin pindah universitas?"


Karina hanya tertunduk kaku. sungguh, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi sang kakak. saat Nicko secara terang-terangan mengumbar aibnya secara gamblang. Malu, merasa tidak berguna dan berdosa. itulah yang sedang Karina rasakan.


"Terjadi kesalahpahaman antara aku dan Karina, sehingga Karina terus menolak pertanggung jawabanku selama beberapa tahun terakhir..."


"Salah paham? salah paham apa yang kau maksud?" tegas Jade mendesak penasaran.


"Aku..."


"Hentikan, Nicko!" Karina mengalirkan setetes air mata menatap kekasihnya dengan kepala yang menggeleng, "Ini sudah cukup. mereka sudah mengerti apa maksudmu. tolong jangan di teruskan."


Nafas Maria sudah tidak beraturan, wanita yang tak kalah cantik dari Karina itupun langsung meraih segelas minuman di hadapannya lalu meneguknya dengan kasar. "Ja... jadi, kau sudah menjalin hubungan dengan Nicko. sampai kau hamil?"


Karina hanya mengangguk pasrah, ia tertunduk dan tak berani menatap wajah Maria. karena merasa jika hal tersebut benar-benar sangatlah memalukan.

__ADS_1


"Selama itu? dan kau tidak pernah mengatakan apapun padaku?" Maria mengerjap, sungguh emosinya sudah meluap. ia tak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi pada adiknya. dan Maria baru mengetahuinya.


Singkat waktu, Nicko sudah menjelaskan apa masalah yang menimpa dirinya dan Karina beberapa waktu lalu. tentu dengan bahasa yang terpilih, sebab di meja tersebut juga ada Anna yang bergabung.


Maria terperangah, wajah dan matanya memanas seketika. ia melirik kearah Karina lalu berkata, "Apa itu benar, Karina?"


"Aku... aku..." tenggorokan Karina terasa tercekat. tubuhnya melemah saat melihat ekspresi kekecewaan yang timbul pada Maria.


"Lima tahun kau menderita, dan kau tidak mengatakan itu padaku?" Dengan tatapan tajam, Maria terus menyorot Karina tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. "Bahkan saat itu, Mama pun belum meninggal. Karina!" pekik Maria penuh penekanan.


Tubuh Karina bergetar, air matanya turut menetes saat luapan emosi Maria berhasil menyambar dirinya, "Kak, aku..."


"Tenanglah, sayang. Nicko ingin bertanggung jawab, mereka sudah sama-sama saling dewasa." ucap Jade mencoba melerai emosi sang istri.


"Kau bercanda? dewasa?" Maria tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya perlahan menatap Karina. "Lima tahun lalu ia sudah kehilangan bayinya! apa kau pernah berpikir, bagaimana perasaanku sebagai kakaknya?"


Cukup masuk akal untuk di dengar, meskipun kenyataanya Karina takut dan malu untuk mengakui itu semua. Namun, sesuatu yabg membuat Maria marah bukanlah kesalahan Karina yang sudah begitu mudah di tiduri oleh seorang pria. Maria hanya kecewa, saat Karina di selimuti oleh kabut masalah sang adik justru malah menyembunyikannya dan tak mengatakan hal tersebut sedari awal.


"Sejauh ini, aku merasa hidupku baik-baik saja. aku sangat bahagia memiliki Jade dan Anna," Maria menghentikan ucapannya sejenak, saat air matanya semakin deras mengalir. "Tapi aku sudah gagal menjadi seorang kakak, saat adikku menderita saja aku tidak mengetahuinya."


"Kakak..." Karina mendekati Maria, ia langsung memeluk dengan ekspresi wajah penuh sesal. "tolong maafkan aku, ini semua salahku. seharusnya aku tidak begitu."


Maria menghela nafas panjang, menyeka air matanya kemudian menjawab. "Kau sama sekali tidak menganggap ku, Karina. kau tidak pernah melibatkan aku dalam derita yang kau rasakan."


"Aku hanya tidak ingin Kakak cemas, kau sudah banyak berkorban untukku. peranmu begitu banyak bagiku, kau tidak hanya seorang kakak bagiku. kau selalu saja memberikan aku kasih sayang melebihi apapun. itu semua sudah cukup bagiku. dan aku tak ingin membuatmu terluka." tukas Karina menitikan air mata.


Seketika Maria teringat akan sesuatu. saat Karina selalu datang merengek padanya sambil mengatakan jika ia sangat lelah. Maria tidak tahu, jika keluhan tersebut tidak hanya berisikan tentang sakit hati Karina pada sang Ayah. jika saja Maria tahu akan hal ini sejak awal, ia pasti tak akan tinggal diam.

__ADS_1


"Dan kau," Maria mengalihkan sorot matanya kearah Nicko penuh kekesalan. "kau berhutang air mata pada adikku!"


Nicko mengangguk, ia membalas ucapan Maria dengan begitu santai dan ketenangan. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan," ujarnya meyakinkan Maria penuh percaya diri.


Maria membalas pelukan Karina, mengelus punggungnya lalu menyeka air matanya. "Aku tahu kau bersalah, tapi kau tetaplah adikku."


"Kak, aku..."


"Ust..." Maria meletakan telunjuknya pada bibir Karina, untuk menghentikan ucapan sang adik. "Yakinkan aku, jika pria ini benar-benar mencintaimu!" pinta Maria penuh kelembutan.


Karina menganggukan kepalanya dengan cepat. pada akhirnya wanita tersebut bisa bernafas dengan lega. saat Maria tidak terlau menekan Karina karena sudah mengecewakannya.


"Karina..."


Karina melirik kearah Nicko saat pria itu memanggil namanya.


Nicko mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu membuka kotak tersebut yang berisikan cincin dan mengarahkannya pada kekasihnya, "Menikahlah denganku. percayalah, semua ini tak ada kaitannya dengan rasa bersalah. aku benar-benar mencintaimu."


"Ahh...." Tangisan Karina semakin deras, perasaannya berhasil di buat tidak karuan oleh Nicko. rasa sesal bercampur kesedihan seketika berubah menjadi kebahagiaan saat pria tersebut bersimpuh melamar Karina di hadapan semua orang.


"Terima... Terima..." Semua orang yang menyaksikan mulai berseru dan menyudutkan Karina agar wanita itu segera dapat mengatakan iya. mereka bersorak ramai sambil bertepuk dengan irama yang senada. "Terima... Terima..."


Karina menyeka air matanya, ia tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. tanpa melepas pandangan dari Nicko yang mulai menyematkan cincin di jari manisnya setelah Karina memberikan isyarat penerimaan.


Suasana semakin ramai, mereka bersorak gembira begitu cincin sudah tersematkan. tak segan, Nicko bahkan langsung mengecup bibir Karina hingga membuat seisi cafe di dalam mall kembali terperangah. tak terkecuali, Rose, Jade, dan Maria.


"Pa..." Belum sempat Anna menyelesaikan ucapannya, dua bola mata gadis kecil itu langsung Jade tutupi.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya, Karina bahkan membalas kecupan Nicko. tak perduli dengan orang-orang yang sedang memperhatikannya. mereka terlihat kompak memamerkan cinta dan kasih sayang di hadapan umum, setelah Nicko melamar Karina dengan konsep tak terduga.


__ADS_2