Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 32


__ADS_3

"Karina, kau menangis?" Maria langsung meraih wajah Karina. begitu sang adik datang dan berdiri di hadapannya.


Hal ini sering kali terjadi, Karina menangis secara tiba-tiba saat dirinya merasa jika sedang merasa lelah. kerumitan masalah yang menghadapi Karina adalah pemicu utamanya. segala sesuatu yang Karina lakukan terasa berat bagaikan beban. Karina tak mengerti kenapa ini semua harus terjadi padanya, ia ingin bebas dan terlepas dari segala beban tersebut.


Namun, semua itu tak pernah bisa Karina lakukan. sebab penyebab kesedihannya tersebut selalu saja muncul dan menghantui akses jalan pikirannya.


"Aku lelah," lirih Karina mengeluh. wanita itu bahkan langsung mendaratkan tubuhnya di pelukan Maria. "Aku ingin bebas, aku ingin terlepas dari masalahku." isak Karina memecah tangisan.


Bagaimana Maria menanggapi keluhan Karina? sedangkan selama ini. Karina terus menyimpan beban kesedihannya sendirian. yang Maria tahu hanyalah, Karina pernah di kecewakan oleh seseorang. ia sendiri tidak tahu, siapa dan bagaimana rupa pria yang sudah berani menghancurkan hidup sang adik hingga mengalami trauma berkepanjangan.


"Sudah aku katakan, Karina. jangan biarkan luka itu terus mengendalikan dirimu, kau harus bangkit. hidupmu bukan hanya tentang pria itu saja. kau cantik, karir mu cukup cemerlang. tidak sedikit pria yang mengincar mu. jangan menganggap semua pria itu sama, kau harus memberanikan diri." ujar Maria menenangkan sambil mengelus punggung sang adik penuh kasih sayang. mungkin ini adalah kalimat penenang yang sudah Maria katakan sebanyak ratusan kali. ia sama sekali tak pernah bosan, meskipun Karina sama sekali tidak pernah mendengarkannya.


"Lalu apa? bagaimana aku bisa terlepas dari beban pikiranku? aku melihat dengan mata kepalaku jika saat itu Ayah memukul ibu. ia menampar Kakak dan mendorongku saat aku ingin memeluk tubuhnya." sejenak Karina menyeka air matanya yang mengalir deras, "Lalu setelah itu, aku di pertemukan dengan pria jahat. aku kehilangan segalanya saat itu. pendidikan, masa muda, dan bahkan..." Karina menghentikan ucapannya, saat ia tak kuasa untuk mengatakan jika ia juga pernah kehilangan seorang janin di masa itu. "Bagaimana aku bisa percaya, saat Ayahku sendiri adalah bajing*annya."


Cukup membekas, Maria juga masih ingat betul kejadian yang Karina katakan. seolah sudah terekam dalam memori ingatannya. bahkan tamparan yang pernah Maria dapatkan begitu sangat membekas. demi melindungi dan mempertahan keutuhan keluarga, Maria diharuskan untuk bertindak berani saat Ayahnya dengan kejam memukul dan menghardik sang Ibu.


"Kita masuk, Jade dan Anna sudah menunggumu di dalam." ucap Maria sambil melangkah masuk bersama Karina.


Sebagai seorang Kakak Maria merasa gagal Karena sudah membiarkan sang adik jatuh ketangan pria yang salah. Maria tidak pernah bersikap lemah di hadapan Karina. ia tak ingin menambah beban kesedihan dan kehancuran Karina semakin dalam. untuk itu, Maria selalu bisa bersikap bijak dan menata emosinya. agar tidak membuat sang adik semakin hancur.

__ADS_1


"Karina..."


Kedua wanita yang sedang berjalan melangkah masuk itupun spontan memalingkan tubuhnya secara berbarengan.


"Apa aku terlambat?" Mata Nicko seketika membulat, begitu melihat wajah Karina sudah dibasahi oleh deraian air mata. "Apa yang terjadi? kau menangis?" imbuh Nicko bertanya.


Maria tersenyum kikuk, wanita itu memang tidak tahu menahu perihal masalah yang terjadi antara Nicko dan sang Adik. Maria hanya mengenal Nicko sebagai rekan bisnis suaminya sekaligus pria yang memohon agar Maria bersedia menjadikannya sebagai seorang adik ipar.


"Ini hanya masalah pekerjaan, Karina merasa sangat stress." sahut Maria beralasan.


Karina menghela nafas kasar, tatapannya selalu terlihat menyeramkan saat dirinya berhadapan dengan Nicko. "Untuk apa kau kesini?"


Karina mengalihkan sorot matanya ke arah Maria, saat Nicko berlalu santai masuk kedalam. "Kak, ada apa ini? kenapa dia disini?" tanya Karina heran.


"Euuu, dia rekan bisnisnya kakak ipar mu. kau tidak perlu khawatir, kami tidak akan memaksa jika kau tidak menyukainya." ucap Maria berdalih. padahal kenyataannya, ia sendirilah yang memberitahukan jika Karina akan datang. itu sebabnya Nicko langsung dengan cepatnya bergerak tanpa menyia-nyiakan kesempatan.


"Bibi..." Anna langsung berlari menghampiri dan memeluk Karina kegirangan. "Kenapa paman juga disini? apa kalian sudah membuat janji?"


Karina langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Entah apa bisnis yang pria itu dan Ayahmu jalankan. pria ini hanya bisa menguntit," ucap Karina sembarangan.

__ADS_1


"Penguntit?" Maria langsung mengerutkan dahinya penasaran. "Nicko, kau mengganggu adikku?"


"Tidak, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit." sahut Nicko santai sambil menyantap kacang tepat di sebelah Jade.


Jade mengangguk, seolah percaya dengan jawaban yang Nicko berikan. "Benarkah? kau sakit apa?"


"Sakit jiwa!" sahut Karina spontan menyela.


"Sayang..." Nicko mengukir senyum sambil mengedipkan matanya pada Karina, "Aku tahu kau sangat marah. setidaknya jangan bahas itu sekarang di hadapan calon kakak ipar ku."


Maria membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka, "Sa... sayang? kalian sudah bersama."


Nicko menganggukkan kepala dengan penuh kebanggaan. "Aku bahkan sudah menaklukan adikmu dalam waktu singkat," celetuk Nicko mengarah pada kejadian masa lalu.


"Astaga, Karina.". Maria degan penuh kebahagiaan memeluk adik kesayangannya, "Kenapa kau tidak bilang? kita harus merayakan hal ini. jangan bersikap seperti anak kecil, bicarakan lah masalahmu dengan Nicko. umur kalian sudah cukup matang untuk melanjutkan kejenjang pernikahan."


Nicko mengangguk, ia lantas mengacungkan ibu jarinya kearah Maria seolah mendukung. "Kau benar, jika ada masalah harus kita bicarakan baik-baik. bukan begitu sayang," ujarnya melirik kearah Karina dengan kedua alis yang terangkat tanpa memudarkan senyuman.


Karina mengerjap, memutar bola mata seolah jengah. sepertinya Nicko sangatlah beruntung, karena Karina sebelumnya tidak pernah bercerita apapun tentangnya kepada Maria. sebelumnya Karina justru malah bersikap acuh, seolah tak mengenal Nicko pada saat keduanya kembali di pertemukan. dan kali ini, Karina menyesalinya.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTENYA KAKAKKK....


__ADS_2