Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 77


__ADS_3

Menggunakan gaun rancangan khusus. Karina terdiam memandang pantulan dirinya yang berada dalam cermin. sebuah hiasan mahkota kecil terpasang di atas kepala Karina. rambut panjangnya di biarkan terikat di bagian atasnya saja.


Secara keseluruhan Karina tampak sempurna, meskipun sebelumnya sang penata rias agak kesulitan memakaikan gaun yang akan di gunakan Karina. Tentu saja itu adalah efek dari kehamilannya, semua orang memang belum mengetahui pasti. Namun, Karina sudah mengetes dan mengeceknya sendiri.


"Kau tampak murung, ada apa?" tanya Maria, wanita yang berstatuskan kakak dari Karina itupun cukup di buat pangling, setelah melihat penampilan Karina mengenakan baju pengantin.


Karina tersenyum getir, ia melirik kearah sang kakak seraya berkata. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing."


"Kau pasti lelah, beberapa hari terakhir kita semua terlalu sibuk untuk menyiapkan acara pernikahanmu dengan Nicko."


"Bibi..."


Kedua wanita dewasa itu melirik kearah Anna secara berbarengan. gadis kecil itu juga nampak terlihat menawan, menggunakan dress mini sebagai pendamping kecil sang pengantin wanita.


"Bibi sangat cantik, Paman Nicko juga sudah datang bersama keluarganya. kalian tampak serasi," puji Anna dengan nada bicara khasnya.


Kebahagian bertabur rata. semua orang nampak merasakannya. Jade yang berada di aula hotel terlihat sibuk menyapa para tamu undangan di temani kerabat dekatnya.


Suasana hati Karina kian memburuk. jam upacara pernikahan akan segera datang, janji suci serta hal lainnya yang berbau sakral dalam penyatuan dua insan akan keduanya lakukan.


Sandra turun dari dalam mobilnya. ia berjalan pelan melewati pria yang sedari tadi telah menunggunya. siapa lagi pria itu jika bukan Johan? Sedari awal, Johan memang sudah meminta Sandra agar gadis itu datang bersamanya. Namun, kekesalan Sandra menjadi pemicu utama, kenapa sekarang keduanya nampak cuek dan enggan untuk bicara.


"Sandra!" Johan memekik, ia mengekor di belakang wanitanya.


Siapa yang peduli? kenyataannya, Sandra sudah sangat muak menjalani hubungan hambar bersama kekasihnya. Keterikatan Johan dengan masa lalunya membuat Sandra tak tenang. Ia cemburu, akan tetapi bingung siapa yang harus dirinya salahkan.


Sandra tak ingin terpaku, gadis itu menolak untuk terbelenggu. jika saja waktu bisa di putar, mungkin Sandra akan memilih untuk tak membuang-buang waktu dengan menjalin hubungan bersama pria tak peka seperti Johan.

__ADS_1


Beruntung, Sandra tak terlambat. gadis itu berdiri di jajaran para tamu undangan sambil menatap kearah mempelai. Dapat Sandra rasakan, keanehan yang terlihat dari ekspresi wajah Karina. wanita itu tampak pucat dan tak bersahaja. berbeda dengan Nicko, yang terus saja menebar senyum kebahagiaannya.


"Apa yang terjadi? kenapa Karina terlihat tidak baik-baik saja?" batin Sandra bertanya-tanya.


"Sandra!" Johan menarik tangan Sandra, pria itu nampak terlihat marah.


"Apa?" sahut Sandra menjawab pelan, namun di tekan.


"Ada apa? kenapa kau terus mengabaikanku?"


Sandra menghela nafas kasar. ia melirik ke kiri dan ke kanan, saat semua orang di sekitarnya terlihat sedang memperhatikan.


"Katakan sesuatu, kenapa kau diam!"


"Cukup Johan!" Sandra memelotot, gadis itu langsung menarik Johan meninggalkan aula pesta pernikahan dengan raut wajah geram. Sandra melangkah cepat, menurutnya Johan benar-benar sangat membingungkan.


"Kau gila? apa kau ingin membuat keributan di acara pernikahan orang lain?" Sandra melepaskan Johan begitu saja, keduanya lantas tiba di sebuah ruangan kecil yang lebih cocok untuk di sebut dengan gudang.


"Kenapa kau tidak membalas pesanku? kenapa kau terus saja mengabaikan panggilanku?" protes Johan meluapkan kekesalan.


"Sudah aku katakan, kita berdua sudah tak memiliki hubungan!"


"Apa aku menyetujuinya?"


Sandra mengerjap, rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal erat. "Aku tidak butuh persetujuanmu!"


Pasangan tersebut memang jauh lebih banyak mengisi kesehariannya dengan bertengkar ketimbang saling bermesraan. semua itu karena baik Sandra maupun Johan saling menganggap jika mereka sama-sama tidak pengertian. Johan yang tak pernah bisa menjadi pria yang Sandra inginkan, sedangkan Sandra sendiri seolah tak mau tau tentang apa dan bagaimana Johan dengan masa lalunya. yang Sandra inginkan, Johan hanya boleh memikirkannya seorang.

__ADS_1


"Apa kau marah karena saat itu aku tak jadi menyentuhmu?" tanya Johan spontan hingga membuat Sandra tercengang.


"Jaga bicaramu Johan," Sandra mencoba menutup mulut kekasihnya dengan tangan, "Bagaimana jika ada yang mendengar."


"Aku tidak perduli, karena memang itu kenyataannya. kau marah setelah kita berdua tidak jadi bercinta!" pekik Johan sekali lagi tanpa beban.


Mata Sandra membulat, ia semakin kesal mendengar ocehan Johan yang semakin tak karuan.


"Aku hanya..."


"Hanya apa? kau ingin bercinta denganku?" Johan menyela, ia langsung mencengkram kedua bahu Sandra lalu menghimpitnya. "Ayo, jika itu yang kau inginkan. sebaiknya kita lakukan!"


"Hah?" Sandra terpaku, bibirnya langsung terbungkam dengan tubuh yang terpaku. penuh kerakusan, Johan mengecup setiap sudut bibir Sandra yang merona. pria itu bahkan tak memberikan kesempatan untuk Sandra menolak ataupun bicara.


"Astaga..." Karina secara reflek menutup matanya, wanita itu memalingkan tubuhnya setelah sebelumnya tak sengaja melihat Johan dan Sandra.


Deg... Sandra dan Johan saling melepaskan diri, keduanya terlihat saling memandang kikuk. begitu aksinya tertangkap basah oleh Karina.


"Apa yang kalian berdua lakukan? kenapa kalian sangat ero*tis?" celetuk Karina tanpa membuka matanya.


Apa ritual pernikahan sudah selesai? kenapa Karina datang ke gudang belakang? pertanyaan itu muncul mengisi otak Johan dan juga Sandra.


"Aku itu... kenapa... kenapa kau disini Karina? apa kau meninggalkan tamu undangan dan lainnya?"


Penuh kehati-hatian, Karina menarik tangannya perlahan. wanita itu mulai membuka matanya sambil memalingkan badan.


"Karina, kau..." Sandra langsung mendekatinya, betapa terkejutnya Sandra begitu melihat wajah Karina kini sudah di penuhi dengan air mata. "Kenapa? apa yang terjadi padamu?" cecar Sandra khawatir.

__ADS_1


Karina menggeleng pasrah, ia menyambut Sandra yang saat itu hendak memeluknya. tanpa menunggu lama, Karina langsung kembali memecah tangisannya. meluapkan semua kesedihan dalam pelukan sahabat sekaligus rekan kerjanya.


__ADS_2