Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 58


__ADS_3

Sepertinya bukan suatu kejahatan jika Nicko mengulik lebih dalam sesuatu tentang Karina dan hidupnya. tak lepas dari pandangan Nicko, saat sang kekasih bertemu dengan seorang wanita paruh baya saat Karina hendak melakukan aktifitas rutin bekerjanya. Rasa penasaran Nicko terguncang. sebenarnya apa yang Karina dan wanita itu bicarakan sampai membuat sang empu menangis?


Mobil yang Nicko kendarai terhenti, pandangan Nicko terus tertuju pada sebuah hunian mewah bergaya klasik di hadapannya. Nicko melirik kearah lain dimana si wanita paruh baya baru saja turun dari mobil yang Nicko ikuti sebelumnya. beberapa pelayan yang menyambut terlihat membungkukkan badannya penuh kehormatan pada wanita tersebut.


Nicko langsung mengubah ekspresi wajahnya. wanita paruh baya itu melirik kearah Nicko sambil mengatakan sesuatu pada salah seorang pelayan yang berada di sisinya. tak lama setelah itu, pelayan yang di maksud tersebut langsung melangkah menghampiri Nicko lalu mengetuk kaca mobilnya.


Apa yang bisa Nicko lakukan? padahal pria itu merasa jika jarak mobilnya sudah terbilang aman. Namun, sepertinya mereka menyadari jika Nicko telah mengikutinya saat masih berada dalam perjalanan.


"Selamat pagi, Tuan." sapa pelayan dengan suara tegas dan hanya di tanggapi oleh anggukan kikuk yang Nicko berikan.


Ayolah, Nicko bukan seseorang yang bisa melakukan apapun dengan mulutnya. meskipun terbilang lahir dari keluarga konglomerat. menyuruh seseorang pun tidak semudah membalikan telapak tangan.


"Nyonya Besar, menyuruhmu turun dan menemuinya."


"Hah? Nyonya Besar?" sejenak Nicko mengerjap dan berpikir, untuk apa ia terlibat sejauh ini. padahal niatnya hanya ingin membuntuti dan tidak berniat menemui.


Nicko pun mengiyakan, pria itu lantas memberikan kunci mobilnya pada pelayan untuk menyuruhnya memarkirkan mobil tersebut. tetapi sebelum itu, Nicko di antar oleh pria berbadan kekar memasuki hunian untuk bertemu Nyonya Besar yang dimaksud adalah seorang wanita paruh baya.


Masuk beberapa langkah setelah melewati pintu utama. mata Nicko langsung di manjakan dengan interior rumah yang bergaya klasik. yang paling membuat Nicko terpesona adalah, saat ia disambut oleh sebuah lukisan Romawi kuno yang sangat besar dan mengesankan.


"Kenapa kau mengikutiku?"


Nicko langsung memalingkan badannya ke sumber suara.


"Kau..." Wanita paruh baya itu membulatkan matanya seolah terkejut, "Aku pernah melihatmu bersama Karina."

__ADS_1


Nicko tersenyum canggung, pria itu mengangguk lalu menjawab. "A... aku adalah kekasihnya."


Wanita itu tertegun, dengan sorot mata dingin ia melangkah ke ruangan lain dan di ikuti oleh Nicko yang mengekor di belakangnya. setelah keduanya sampai, wanita itu langsung duduk dengan santai di hadapan sebuah meja yang berukuran sedang dengan tingginya sekitar dua jengkal.


"Kenapa hanya berdiri? duduklah," titah wanita paruh baya tersebut sambil menuangkan teh kedalam dua buah cangkir di hadapannya.


Nicko menghembuskan nafas panjang, ia merasa ini sangatlah menegangkan. karena bagaimana pun juga, wanita tersebut adalah istri dari Ayah Karina.


"Apa aku harus bertanya lagi, kenapa kau mengikutiku?" wanita paruh baya itu memulai kembali pertanyaan, dengan maksud menyinggung tindakan Nicko yang berani membuntutinya.


Nicko melirik dengan sorot tajam kearah wanita paruh baya yang sedang menyeruput teh hangatnya. "Aku hanya penasaran, apa yang kau katakan pada Karina. sehingga membuatnya histeris," sahut Nicko penuh ketenangan.


Wanita paruh baya itu tersenyum semu, "Jadi kau melihatnya?" sejenak ia meletakan secangkir tehnya, "sebelumnya perkenalkan. aku adalah Janne, istri dari Ayahnya Karina."


Nicko hanya terdiam mendengarkan dengan baik apa yang Janne katakan.


Nicko tertegun, pria tersebut menelan salivanya dengan bersusah payah lalu berkata. "Kau tahu, jika hal itu tidak mungkin Karina lakukan?"


"Aku tahu, aku sangat tahu. Namun, bukankah bagaimana pun juga Arman adalah Ayah mereka. dalam hal ini aku memang sedikit terlalu egois, akan tetapi Arman sudah menyesali perbuatannya. kalian bisa menganggap semua ini adalah hukuman untuknya, aku mohon." Janne meraih tangan Nicko, "pertemukan kembali Karina dengan Ayahnya. bagaimana jika ini adalah keinginan terkahir Arman? jangan biarkan Karina menyesal karena sudah menolak permintaan maaf dari Ayahnya."


Nicko menarik perlahan tangannya yang di raih oleh Janne. seolah tak ingin memberikan harapan, Nicko tak mengiyakan hal tersebut. "Boleh aku melihat keadaan Tuan Arman?"


Janne menganggukan kepalanya dengan cepat. wanita paruh baya itu langsung beranjak sambil berkata, "ikuti aku!"


Nicko menurut, hanya berselisih dengan beberapa ruangan. kini Nicko sudah berada di depan pintu kamar Arman. Janne mulai menekan gagang pintu, di ikuti oleh Nicko yang mengekor di belakangnya.

__ADS_1


"Pah..."


Nicko langsung melihat dengan mata kepalanya, di atas ranjang ada seorang pria tua yang terbaring lemah tak berdaya. pria tua itu melirik kearah Nicko dengan wajah yang sangat pucat.


"Dia adalah pria yang bersama Karina, saat di rumah sakit." ucap Janne menjelaskan untuk mengulang memori pria tua tersebut.


"Kau..." Arman menggerakan tangannya menunjuk kearah Nicko.


"Aku adalah pemuda yang sulit mendapat kepercayaan Karina karena kesalahan Ayahnya." celetuk Nicko menyela secara terang-terangan.


Arman terpaku dengan ekspresi wajah dingin. sedangkan Janne terkejut setelah mendengar ucapan Nicko yang mungkin saja akan membuat Arman tersinggung.


"Maaf?" Arman menatap tajam kearah Nicko.


"Lima tahun! butuh waktu lima tahun untuk mendapat maaf dari putrimu," Nicko melirik kearah Janne sejenak. "Maaf jika ucapan ku terdengar sangat kurang ajar. Namun, inilah kenyataannya. Karina sulit untuk mempercayai seorang pria karena trauma masa lalu yang dilakukan oleh Ayahnya."


Janne menepuk pelipisnya, ia lantas mendorong Nicko keluar karena berpikir jika ucapan Nicko hanya akan mempercepat kematian Arman.


"Apa kau tidak waras? berbicara seperti itu pada orang yang sedang sekarat? sebelumnya kau bahkan terlihat gugup!" gerutu Janne memarahi.


"Dia harus tahu ini, sebab dan akibat yang ia lakukan pada Karina, Maria dan Ibunya."


"Hey!" Janne memukul bokong Nicko dengan mata melotot, " Aku mengijinkanmu menemuinya, agar kau bisa mengatakan padanya jika kau akan membawa Karina datang. bukan untuk mempercepat kematiannya!"


"What?" Nicko tercengang, "mengurus diriku sendiri saja harus memakan waktu selama lima tahun. apa kau bercanda?"

__ADS_1


Janne terlalu menaruh harapan lebih pada Nicko. benar yang Nicko katakan, mengurus dirinya sendiri saja untuk menghadapi Karina sering kesulitan. apalagi untuk orang lain, yang bisa di katakan penyebab utama dari semua kekacauan hidup Karina. tentu itu bukanlah suatu yang mudah.


LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONG...


__ADS_2