
Hari pertama, setelah Nicko memberikan waktu selama tiga hari pada Karina. wanita terlihat sangat gelisah, Karina merasa jika waktu tersebut sangatlah singkat. bagaimana mungkin dirinya bisa memutuskan hal itu, sedangkan Karina sendiri benar-benar belum menyadari apa dan bagaimana perasaannya sekarang.
"Drtt..." Karina tersentak saat mendengar dan merasakan getaran pada ponselnya. tidak salah lagi, itu adalah panggilan dari Nicko yang terus saja menerornya setiap saat. "Ha... hallo," ucap Karina terbata, menjawab panggilan.
"Selamat malam sayangku," ucap Nicko menggoda dalam pangilan.
Karina terdiam, ia paling malas mendengarkan kata-kata manis yang terus saja Nicko lontarkan. bukan karena bosan, Karina takut jika dirinya akan menjadi tidak tahu aturan, lalu berakhir dalam suatu hubungan menjadi pasangan.
"Aku sangat merindukanmu, rasanya sudah tidak sabar untuk memeluk dan mengecupmu sebagai kekasihku."
Karina beranjak turun dari atas ranjangnya. merasa gusar, gadis itupun memilih untuk menghirup udara segar malam di teras kamar.
"Udara sangat dingin, kenapa kau keluar?" timpal Nicko bertanya saat pria itu bisa melihat dengan jelas jika gadis incarannya sedang mendudukan bokongnya di sebuah kursi pahatan kayu.
Karina melirik ke kiri dan ke kanan seolah mencari, gadis itupun mengerutkan dahi lalu kemudian berkata. "Bagaimana kau tahu? apa kau disini?"
"Aku berada di apartemenku, kamarmu terlihat jelas dari atas sini." sejenak Nicko memundurkan langkah dan berdiri tepat disebelah saklar lampu, "hadapkan dirimu ke arah utara," titah Nicko pada Karina.
"Untuk apa?" tanya gadis itu penasaran.
"Aku akan memberikan sinyal dari kamarku
posisikan tubuhmu sekitar 150 derajat, lalu lihatlah keatas gedung."
Karina melepas senyumnya kemudian berkata, "Aku melihatnya."
"Apa yang kau lihat?" tanya Nicko memastikan.
__ADS_1
"Lampu yang berkedip, itu pasti kau yang melakukannya." sejenak Karina berpikir, "Tapi bagaimana kau bisa melihatku dari atas sana, ku pikir itu terlihat cukup jauh."
Nicko melangkah cepat menuju balkon untuk kembali melihat Karina yang berada di teras kamarnya. "Mudah saja, aku mempunyai teleskop baru. ini berguna untuk mengintip calon kekasihku sekarang."
Karina terkekeh. tanpa sadar, rayuan tersebut sukses membuat Karina kegelian.
Setelah Karina tenang, Nicko kembali memulai obrolan santai guna mengerek informasi pribadi gadis tersebut lebih dalam."Aku memperhatikan kamarmu setiap malam, kenapa lampunya tidak pernah dinyalakan?"
"Mau bagaimana lagi? aku tidak suka menyalakan lampu saat tertidur," jawab Karina terang-terangan.
"Bagus sekali, aku juga tak suka melakukannya jika dalam keadaan lampu menyala."
Karuna mengerucutkan bibirnya, "Nicko kau mulai lagi." pekik gadis itu kesal.
"Jangan marah sayang, bunga tidak bisa mekar dalam semalam. begitupun juga diriku, aku tidak bisa sepenuhnya merubah diriku dalam waktu singkat. maklumi saja," tukas Nicko mencari pembenaran.
Karina menghela nafas panjang, tatapannya terus tertuju pada sebuah gedung yang menjulang tinggi. meskipun tidak terlihat dengan jelas, Karina sangat yakin jika di atas gedung sana ada Nicko yang juga sedang menatapnya.
"Masuklah, diluar sangatlah dingin. sepertinya akan turun hujan." ucap Nicko memerintah penuh perhatian.
Hujan gerimis pun mulai menetes satu persatu, mendarat diatas tubuh Karina. gadis itu merasakan bagaimana cairan tersebut menyerap kedalam tubuhnya lalu berkata. "Tidak masalah, aku memang sangat menyukai hujan."
"Kalau begitu kita sama, akupun juga sangat menyukai hujan." celetuk Nicko.
Tak ada jawaban yang terdengar dari ponsel yang sedang Nicko tempelkan di daun telinganya. meskipun begitu, Nicko sama sekali tak keberatan. Karena melalui teleskopnya, ia bisa melihat dengan jelas jika Karina benar-benar sedang menikmati tetesan air hujan.
Glek... Nicko menelan salivanya, ia sendiri tak tahu kenapa dirinya bisa sampai menggilai Karina. bahkan saat Karina sedang memejamkan matanya dan membiarkan air hujan membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Apa kau mendengarku, Karina?"
"Aku bisa mendengarmu dengan jelas, ponselku cukup canggih. bicaralah," sahut Karina sedikit memekik, karena menyadari jika suara hujan dapat memelankan suaranya.
Nicko tersenyum tipis, ia semakin menegaskan tatapan memandang Karina dari sudut balkon. "Kau pernah mendengar jika hujan memiliki kekuatan?"
"Kekuatan?"
"Ingin mencobanya?"
"A... apa? bagaimana caranya?" tanya Karina penasaran.
Nicko menelan salivanya, sejenak pria tersebut menghela nafas panjang lalu berkata. "Dongakan kepalamu, pejamkan matamu perlahan dan rasakan bagaimana air itu menyentuh kulit indahmu."
Karina melakukan apa yang Nicko serukan, saat matanya sudah terpejam dan air hujan mulai menembus pori-pori tubuhnya. Karina sukses dibuat merinding, ucapan Nicko seperti jampi-jampi baginya. Karina merasa dirinya terhipnotis untuk yang kedua kalinya, gadis itu bahkan mulai membayangkan hal-hal nakal, berpikir jika Nicko sedang memeluk sambil mengelus tubuhnya di bawah kucuran hujan.
"Apa sekarang kau sedang memikirkanku? maka sudah dapat di pastikan, kau juga tertarik padaku. jika itu benar, peluk aku Karina. belai tubuhku dengan jari-jari lentikmu, biarkan air hujan ini menjadi saksi jika malam ini aku adalah milikmu."
Nafas Karina memburu, ia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya, entah itu apa.
Nicko bisa dengan jelas melihat Karina yang sedang menyilangkan tangan, seolah sedang memeluk seseorang. "Eratkan pelukanmu sayang, tolong jangan lepaskan."
Deg... Karina membuka matanya, ia mulai menyadari sesuatu lalu berlari masuk kedalam kamarnya dalam keadaan basah kuyup.
"Karina tung..."
Belum sempat Nicko menyelesaikan ucapannya. wanita itu lantas langsung memutuskan panggilan begitu saja. sontak hal tersebut berhasil membuat Nicko kebingungan, kenapa Karina memutuskan panggilan tanpa mengatakan sepatah katapun padanya.
__ADS_1
"Tidak," Karina yang saat itu sudah berada di dalam kamar mandi pun menyalakan shower lalu mengatur suhu air untuk menghangatkan tubuhnya, "Kenapa kau bodoh sekali Karina. kau mudah sekali larut dalam ucapan manisnya, bagaimana jika pria itu hanya sedang mempermainkanmu?" gerutu Karina prustasi pada dirinya sendiri.
KOMEN PANJANG, LIKE DAN VOTENYA DONG:')