Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 63


__ADS_3

"Jangan bicara!" deruan nafas Rose sudah tidak beraturan, "Akan ku bunuh kau dasar bocah sia*lan!" jerit Rose kembali memukuli Nicko dengan bantal sofanya. "Dimana gadis itu? kenapa dia menolakmu, jika kau memang menghamilinya." imbuh Rose memecah kemarahan.


Nicko pasrah, kemarahan sang Mama ia anggap sebagai sesuatu yang wajar karena pada akhirnya tidak hanya Karina yang ia kecewakan.


Nicko mengepalkan tangannya. pria itu sudah sangat kebingungan. dalam benak Nicko, ia merasa sangat malu jika harus membeberkan masalah tersebut dengan sangat gamblang. Namun, bagaimana Rose bisa mengerti jika Nicko tak kunjung untuk berterus terang.


"Tenangkan dirimu dulu, jangan memukulku lagi." ucap Nicko memelas.


Rose mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan. ia terdiam sejenak guna menata kembali emosinya agar tak semakin meluap. "cepat katakan! apa yang terjadi." tegasnya penuh penekanan.


Nicko mengangguk, dengan tenggorokan yang terasa sangat tercekat. pria itu memaksa untuk bicara dan berkata, "Ka... Karina keguguran, ka... kami telah kehilangan bayi itu."


Rose terperangah, rasanya ia ingin kembali melayangkan tamparan kerasnya ke wajah Nicko. karena menurutnya, sang buah hati terlalu lelet dan berbelit-belit. "Katakan dengan jelas! kenapa kau terus saja memancing kekesalanku!" jerit Rose melotot tajam kembali melempar pukulan dengan bantal.


"Kenapa kau terus saja memukulku, aku sudah berusaha untuk jujur!" protes Nicko kesal.


"Kau tidak waras? orang tua mana yang akan bersikap tenang saat mengetahui putranya sudah menghamili anak gadis seseorang!" sahut Rose secepat kilat.


Mengatakan jika Nicko sudah membuat Karina hamil saja sudah membuat sang Mama meradang. entah apa yang akan di lakukan wanita paruh baya itu begitu, tahu jika Nicko pernah mempermainkan Karina dengan sebuah kesepakatan konyolnya.


"Sudahlah, Mama tidak akan pernah mengerti!" cetus Nicko beranjak pergi. hal itu ia lakukan, untuk menghindari kemarahan Rose yang diyakini akan semakin meluap.


Rose tersenyum sinis, tindakan Nicko benar-benar semakin membuatnya geram. "Jika kau pergi sekarang, aku akan membunuhmu!" ancam Rose hingga sukses membuat Nicko menghentikan langkah.


"Aku sudah menjelaskan semua itu padamu? kenapa kau tidak mengerti?" Nicko berdecak frustasi, "aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci. jadi tolong mengertilah," rengek Nicko mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Keterlaluan! jadi kau ingin aku membiarkan mu berbuat kesalahan?" Rose mendekati Nicko tanpa mengalihkan sorot mata mematikannya.


Nicko membisu, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan guna mencari jalan untuk keluar dari situasi rumit tersebut. "Aku mohon, maafkan aku." Nicko bersimpuh dengan bibir yang mengerucut sambil menempelkan kedua telapak tangannya seraya memohon. "Aku tahu aku bersalah, tolong jangan membenci Karina. ada alasan di balik penolakannya. dia sama sekali tidak bersalah, aku sangat mencintainya, lima tahun lamanya aku sudah membuatnya menderita."


Rose menghela nafas panjang. salah satu kelemahannya, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tak kuasa melihat sang buah hati merengek sambil memohon padanya. bagaimana pun juga, Nicko adalah putranya satu-satunya yang sangat ia sayangi.


"Hentikan, kau bukan anak kecil lagi. selesaikan masalah ini dengan cara dewasa!" Rose memundurkan langkahnya.


"Aku mohon," Nicko memeluk kaki ibunya, tindakannya terlihat begitu kekanak-kanakan. "jangan hukum Karina atas kesalahanku." lirih Nicko bersungguh-sungguh.


Rose mengeratkan giginya, sambil membangunkan Nicko agar sang buah hati segera menghentikan aksi konyolnya. "Tidak waras! sudah hampir menjadi Ayah, tapi sikapmu masih saja begitu kekanak-kanakan!"


"Maaf..." Nicko masih saja berusaha untuk mengambil perhatian Ibunya, "jika bukan Mama, siapa lagi yang akan mendukungku." imbuh Nicko sambil menjewer kedua telinganya sendiri


"Apa aku harus mendukung kesalahan putraku?"


"Aish..." Rose memutar bola matanya seolah jengah, "lakukan apapun yang kau mau! berhenti menggodaku!"


Nicko menggelengkan kepalanya, "Aku akan melakukan apapun, asalkan Mama memaafkan ku."


Seolah memberikan celah, Rose lantas memanfaatkan penyesalan Nicko untuk mendapat pengakuan dari sang buah hatinya. "Baiklah, jelaskan apa yang sudah kau lakukan padanya?"


Nicko kembali terpaku, berapa kali ia harus mengatakan dan menjelaskan. jika dirinya enggan untuk bicara bukan karena tidak ingin menjelaskan. Namun, Nicko merasa malu jika harus menjelaskan hal tersebut dengan begitu gamblang. "Astaga, kenapa Mama terus saja memaksa. apa kau tidak bisa membaca bahasa tubuh putramu?"


"Aku mengerti kenapa dia sampai bisa hamil. tapi kau sama sekali tidak memberikan penjelasan kenapa ia menolak dan kenapa ia bisa sampai keguguran!" Rose meninggikan suaranya dengan emosi yang kembali memuncak, "kau pikir aku bodoh?"

__ADS_1


"Ini bagian yang sulit untuk aku jelaskan! intinya aku sudah sangat membuatnya kecewa!" tegas Nicko menjawab singkat.


"Jadi kau masih tidak akan bicara?" Rose meraih pas bunga untuk menghantamkannya pada sang putra guna memberikan ancaman. "Aku akan membunuhmu!"


"Ahhh... Baik-baik, aku akan bicara!" Nicko berteriak takut memumdurkan langkahnya penuh kecemasan. "Aku... aku... aku menidurinya lalu dia hamil, dan..."


Rose kembali menakuti Nicko dengan menggerakkan tangannya yang memegangi pas bunga. "Kau masih berani membual! aku tahu kau menidurinya hingga hamil. katakan kenapa ia membencimu sampai keguguran!" jerit Rose kehilangan kesabaran.


"Aku dan Helen menjalin kesepakatan konyol, dan meminta Helen menjadikan Karina sebagai jaminan atas semua hutang yang Helen pinjam." sahut Nicko ketakutan spontan.


Rose semakin terperangah, matanya membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. pas bunga yang ia genggam berhasil ia jatuhkan ke lantai hingga pecah menjadi beberapa bagian, setelah mendengar pengakuan kejam dari putra satu-satunya tersebut. "Kau..." Rose menjatuhkan bokongnya diatas sofa, "ke... kenapa kau sangat jahat Nicko?" imbuhnya bertanya-tanya dengan tatapan kosong dan ekspresi datar.


"A... aku menyesal, aku sudah terjebak oleh perasaanku. aku benar-benar sangat mencintainya!" lirih Nicko dengan mata menggenang.


"Tidak!" Rose menelan salivanya bersusah payah. "kau pasti hanya merasa bersalah? setelah itu anak kalian meninggal bukan? aku mengerti."


Nicko menggelengkan kepalanya dengan cepat dan langsung menampik persepsi sembarangan Ibunya. "Aku bersungguh-sungguh. aku sangat takut kehilangannya, aku sudah terjebak jauh sebelum Karina mengetahui kenyataannya."


"Kau yakin? la... lalu bagaimana dengan keluarganya? apa mereka tahu tentang hal ini?" tanya Rose penasaran dengan perasaan yang mulai terluluhkan.


"Jade dan Maria sepertinya tidak tahu tentang hal ini. Karina sudah terbiasa untuk menyimpan lukanya sendirian. sejak kecil ia tak pernah mendapat kasih sayang dari Ayahnya. itu sebabnya, lima tahun ini aku masih kesulitan untuk mendapatkan penerimaan maaf darinya." ujar Nicko menjelaskan hingga membuat Rose semakin prihatin saat mendengarkannya.


Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang, sejenak Rose memijat pelipisnya yang tidak pusing sambil berpikir, "Tapi Mama pikir, Karina juga bersalah. karena sudah begitu mudahnya tergoda oleh kelakuan busukmu!"


Nicko terpaku, sepertinya Rose memang belum bisa sepenuhnya untuk ia luluhkan. Namun, saat amarah wanita itu berhasil ia redam, Nicko yakin. cepat atau lambat Rose akan memahami keadaan Karina dan bisa memaafkan kecerobohannya.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTE...


__ADS_2