Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 29


__ADS_3

"Aduhh sakit," Rengek Nicko guna menarik kembali perhatian Karina. "Jariku aduh, tolong siapapun tolong jariku sangat sakit."


Karina meremat Jari Nicko penuh kekesalan, ia merasa sangat di permainkan. bahkan wanita itu sudah berpikir terlalu jauh saat pria itu mengeluhkan segala sesuatu yang Karina katakan.


"Seharusnya aku memotong jari ini saja!" celetuk Karina masih dengan keadaan meremat jari Nicko kasar.


"Jangan, bagaimana bisa tangan ini bekerja dengan baik jika jarinya kau potong. bahkan rasanya tidak akan senikmat sebelumnya jika tanpa jari." tukas Nicko menggoda.


Karina langsung menarik Nicko dan mendorong paksa pria itu untuk keluar dari dalam ruangannya.


"Dok..." Christian langsung menghentikan ucapannya saat melihat Karina dan Nicko sedang dalam posisi yang memicu kesalah pahaman. "Apa aku mengganggu?" imbuh Christian bertanya.


Karina langsung melepaskan dirinya dari Nicko, ia berjalan selangkah lebih maju mendekati Christian lalu berkata. "Tolong jangan salah paham aku hanya..."


"Kami hanya pasangan, tolong jaga jarak dengan kekasihku." ucap Nicko menyela ucapan Karina sambil memeluknya dari belakang.


"Ti..."


"Aku menunggumu di ruangan ku," ucap Christian dingin langsung berlalu.


Karina mengerjap, entah apa yang berada dalam pikiran Nicko sekarang. belum genap dua puluh empat jam, pria itu sudah menciptakan banyak masalah untuk Karina. ingin rasanya Karina menghardik lalu menghantamkan sebuah balok besar padanya, karena merasa hanya dengan hal itulah kemarahan Karina dapat berkurang.


"Dengar, pertama aku minta. jangan pernah menggangguku saat aku sedang bekerja. kedua, terserah apapun itu alasanmu. tolong cepat pergi dari sini. dan ketiga..."


"Ketiga," Nicko langsung meraih tangan Karina dan menggenggamnya, pria itu mengecup singkat tangan tersebut lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Aku hanya mencintaimu, aku bisa melakukan apapun untuk menemui mu. dan aku sama sekali tidak akan pergi tidak perduli seberapa sering kau mengusirku."


"Kau disini untukku? benar begitu?" Karina menarik tangannya sambil menatap penuh keraguan. "Bukan karena hal lain?" imbuh Karina merasa curiga.


"Tentu saja, apa lagi?" sahut Nicko spontan santai.


"Bukan untuk, Helen?"


"Helen?" Karina mendalamkan lipatan di dahinya sambil memperlihatkan ekspresi terkejut. "dia seorang dokter? apa dia bekerja di sini?"

__ADS_1


Karina tidak langsung menjawab ucapan Nicko. gadis itu terdiam, karena meyakini jika sepertinya Nicko memang tidak tahu apapun tentang keberadaan Helen yang sedang di rawat dalam rumah sakit tersebut.


"Dia pasien disini," sahut Karina dingin.


"Apa yang di deritanya?" Nicko mengangguk sambil memutar bola matanya, "Aku yakin akan hal itu. akhir-akhir ini aku merasa dunia sangatlah sempit." celetuk Nicko beromong kosong.


Satu alis Karina terangkat, wanita itu langsung meraih daun pintu dan membukanya perlahan, "sekarang kau boleh pergi, biarkan aku bekerja dengan tenang." pinta Karina memohon sinis.


"Karina," Sandra langsung memeluk Karina sambil menangis penuh kesedihan di hadapan Nicko.


"Ke... kenapa?" tanya Karina heran sambil melirik kearah Nicko.


"Pasien itu, ia cemburu padaku. ia mengusirku dari ruangan. ia mengira aku dan kekasihnya memiliki hubungan, ia bahkan mengatakan jika aku adalah seorang Dokter jala*ng." rengek Sandra memecah tangisan.


Sejauh ini Karina belum bisa mencerna dengan baik perihal keluhan yang di adukan Sandra. ia bahkan tidak mengerti, pasien siapa yang Sandra maksud dan bicarakan.


"Kau saja yang memeriksanya sekarang, aku tidak tahan menghadapi emosinya. ucapannya begitu menyakitkan," celetuk Sandra memerintah.


"Temanmu, Nona Helen." sahut Sandra spontan.


Mata Karina mendelik tajam kearah Nicko, lalu berkata. "Apa kekasih Helen yang kau maksud adalah dia?"


Sandra memutar badan melirik kearah Nicko perlahan. "Bu... bukan, aku bahkan baru melihat orang ini. apa dia pasien mu?"


"Tidak, dia hanya penguntit." ucap Karina kemudian berlalu keluar meninggalkan Sandra begitu saja untuk segera menemui Helen di ruang perawatannya.


"Sayang tunggu," pekik Nicko mengejar.


Sandra terpaku, baginya Karina begitu terlihat misterius. belum lama Karina bekerja. Namun pesonanya mampu menjadi Dokter yang di idolakan pasien dan para pekerja yang bertugas di rumah sakit. tidak terkecuali Christian, sebagai seorang adik. Sandra tahu betul jika sang kakak sepertinya sedang jatuh hati terhadap Karina.


"Sayang, tunggu. kau mau kemana?" tanya Nicko mengekor.


"Cukup Nicko, pergilah aku akan memeriksa keadaan Helen. jangan mengganggu pekerjaanku," gerutu Karina sambil melangkah cepat.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku ikut denganmu. aku ingin melihat kondisinya," ucap Nicko menggenggam erat Karina.


Karina menghentikan langkahnya, ia cukup kewalahan menghadapi kekeras kepalaan Nicko yang sama sekali tidak pernah menyerah. entah harus dengan cara apa lagi Karina menjelaskan hal ini, sungguh melihat Nicko adalah bagian paling menyakitkan dalam hidupnya. ia tak ingin rasa sakit ini terus berlarut, lalu Karina akan semakin kesulitan untuk melupakan pria tersebut.


"Nicko tapi aku..."


"Ini tidak ada kaitannya dengan upayaku untuk mendapatkan mu, aku hanya ingin melihat keadaan Helen sebagai seorang teman. tidak lebih, aku sama sekali tidak berniat untuk mengingatkanmu pada luka masa lalu. jika ini sangat menyakitkan tolong, maafkan aku. aku benar-benar masih sangat mencintaimu dengan tulus." ucap Nicko penuh kelembutan meyakinkan Karina.


Mendengar pernyataan tersebut, wajah Karina seakan memanas. matanya kian menggenang. setulus apapun Nicko meyakinkan Karina. nyatanya ketulusam tersebut tak cukup untuk menyembuhkan luka di relung batinnya.


"Teman apa yang kau maksud, saat kalian membuat kesepakatan gila untuk menjadikan ku sebagai jaminan?" lirih Karina bertanya dengan air mata yang menetes.


Nicko berdecak, ia sungguh tak berniat menyiram kembali luka di hati Karina. Namun, ingatan wanita itu sangat jeli. Karina selalu saja mengungkit masalah tersebut, meskipun Nicko sudah berulang kali melontarkan permohonan maaf yang tulus padanya.


"Lupakan, kau boleh pergi sekarang." titah Karina dingin sambil berjalan melangkah masuk menuju ruangan perawatan Helen.


"Karina..."


Bola mata Karina melebar seolah terkejut. ia kembali teringat akan perkataan Nicko barusan, saat pria itu mengatakan jika dunia terasa sangat begitu sempit.


"Jo.... Johan," ucap Karina terbata, seolah tidak percaya.


Keterkejutan itu sangat lengkap, saat tidak lama setelah Karina datang. Nicko pun memasuki ruangan, dengan ekspresi yang sama saat melihat Helen terbaring lemah di temani Johan di sisinya.


"Pasien itu, ia cemburu padaku. ia mengusirku dari ruangan. ia mengira aku dan kekasihnya memiliki hubungan, ia bahkan mengatakan jika aku adalah seorang Dokter jala*ng."


Seketika Nicko dan Karina kembali di ingatkan dengan rengekan Sandra.


"Ka... kalian memiliki hubungan?" tanya Karina kikuk terbata.


Astaga apa ini? dulu Karina sempat mengira jika Johan telah menyimpan perasaan padanya. Namun, sepertinya Karina sudah salah mengartikan kepedulian Johan. karena pria itu ternyata mengejar Helen, bukanlah Karina. mungkin jika saat itu Karina menolak Nicko dan memilih untuk menunggu Johan, ia juga hanya akan mendapat kekecewaan.


LIKE KOMEN DAN VOTENYAAA...

__ADS_1


__ADS_2