Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 44


__ADS_3

"Apa?" Sandra beranjak dari atas tempat tidurnya tergesa-gesa. ia melirik kearah samping penuh kekhawatiran, "Sial. aku melupakannya!"


"Aish..." Renata meringis, ia memalingkan tubuhnya menatap kearah Sandra lalu berkata. "Kenapa? apa yang terjadi?"


Tanpa menjawab, Sandra langsung berlalu menuju kamar mandi. sedangkan Renata, yang masih merasakan pusing luar biasa di bagian kepalanya pun memilih untuk tetap terpejam.


***


Entah Karina bisa melakukannya atau tidak. bahwasannya, setelah mendengar nasihat dari Nicko. Dokter cantik itupun mengiyakannya. Karina bersedia menjadi pimpinan untuk melakukan operasi dalam menangani penyakit yang di derita Ayahnya.


Diketahui, Arman menderita usus buntu, atau dalam bahasa medis dikenal dengan apendisitis adalah kondisi ketika apendiks atau sebuah kantung yang merupakan bagian dariĀ usus besar yang terletak di sisi kanan bawah perut mengalami peradangan. laporan yang Karina sendiri dapatkan, jika hal ini sudah menginjak tahap serius. hingga para staf medis di sana harus mengambil tindakan pengoperasian.


Ketika usus buntu mengalami peradangan dan membengkak, kuman dapat berkembang dengan cepat serta nanah bisa terbentuk. kumpulan kuman dan nanah akan menimbulkan rasa nyeri di sekitar pusar yang menyebar hingga bagian perut kanan bawah. berjalan dan batuk dapat menyebabkan nyeri makin memburuk. penderita juga bisa mengalami mual, muntah, dan diare.


Pasien dengan gejala apendisitis perlu segera menghubungi dokter, karena radang usus buntu yang tidak ditangani dapat menyebabkan perforasi (pecahnya usus buntu).


Waktu pun berlalu. Karina yang memimpin operasi pun mulai menyuntikan pembiusan total, agar sang Ayah yang sudah terbaring pun menjadi tidak sadarkan diri selama proses operasi. sampai detik itupun, Karina tidak berani melirik kearah wajah sang Ayah yang bisa memicu kembali kebenciannya. sebisa mungkin, Karina terus mengingat ucapan Nicko. meskipun pemuda itu pernah menoreh luka sekalipun. Namun, tidak ada salahnya Karina mencerna hal baik yang keluar dari bibir manis Nicko.


"Tenang, Karina. anggap dia sebagai pasien. bukan sebagai Ayahmu," batin Karina menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak terbantahkan, meskipun bukan kali pertama untuk Karina memimpin sebuah operasi besar. Namun, hal ini jauh lebih memicu adrenalinnya. Karina di haruskan menghempas ego dan kebenciannya meskipun ia sendiri sangatlah tidak yakin.


Para asisten yang berada bersama dengan Karina mulai memberikan sebuah pisau khusus padanya. Karina mulai menyayat perlahan perut bagian kanan sang Ayah. ia memisahkan otot perut itu lalu membukanya dengan penuh kehati-hatian. Karina dengan sangat terampil mengikat dengan benang dan memotong usus tersebut.


Tetesan demi tetesan keringat mulai membasahi dahinya. wajah dan mata Karina terasa sangat memanas. entah ia harus merasa sedih ataupun bahagia. di sisi lain, kebencian Karina sampai memicu kutukan buruk pada sang ayah. Namun, saat semua itu terjadi dirinya harus terlibat dalam proses penyembuhannya.


"Kau harus memposisikan dirimu sebagai dokter, bukan sebagai anak yang terlukai." Karina mengeratkan giginya begitu kembali di ingatkan dengan ucapan Nicko sebelumnya. "Kau adalah seorang Dokter. aku tahu, kau bahkan sudah di sumpah untuk menyembuhkan siapapun yang membutuhkan pertolonganmu."


Waktu terus berlalu, di luar ruangan operasi Nicko terus menunggu Karina sambil sesekali mengamati gerak-gerik istri dari Ayah Karina. bukan tanpa alasan, Nicko hanya sedang berjaga-jaga. ia tahu jika sang empu adalah seseorang yang mudah sekali meneteskan air mata. Nicko ingin, saat Karina selesai dengan tugasnya. wanita itu bisa langsung memeluk Nicko dan melampiaskan segala kesedihannya.


"Bertahanlah, meskipun aku membencimu. setelah operasi ini selesai kau harus segera pulih. ini adalah tamparan keras untukmu, karena pada akhirnya kau membutuhkanku setelah kau menelantarkanku." lirih Karina dalam batinnya.


"Selamat, Dokter Karina. operasinya berjalan lancar, kau memang hebat." puji perawat Richard tersenyum hangat.


"Kau benar, aku takut jika usus itu akan pecah. Dokter Karina benar-benar melakukannya dengan hebat." timpal Dokter Johan.


"Terima kasih atas pujian kalian, tapi aku harus pergi sekarang." ucapnya dengan nafas yang berat kemudian berlalu.


Karina melepas maskernya, membuka jas operasi dan penutup kepalanya setelah ia berada di luar ruangan.

__ADS_1


"Ini benar-benar menyakitkan," batin Karina memecah tangisan.


"Aku mengerti,"


Karina langsung memalingkan badan, dan langsung memeluk Nicko sambil menumpahkan semua kesedihannya.


"Kenapa tuhan terus mempermainkan aku, ini bahkan sangat melukai perasanku. aku tidak sanggup melihat wajahnya," isak Karina histeris.


Tangisan dan luka yang Karina rasakan berhasil membuat hati Nicko bergetar. pelukan hangat disertai keluhan yang Karina lakukan sukses membuat naluri kesedihan Nicko ikut terpancing.


"Ini adalah cara tuhan untuk membentuk kebahagian mu, Karina. aku akan pastikan, setelah ini tidak akan ada yang membebani mu lagi." ucap Nicko mengelus mesra sambil menenangkan.


"Aku sudah menganggap orang jahat itu mati, tapi kenapa sekarang semua ini..."


"Karina!" pekik Nicko terkejut, saat belum sempat wanita cantik itu menyelesaikan ucapannya. Namun, Karina justru langsung melemah hingga pada akhirnya tak sadarkan diri di pelukan Nicko. "Karina, sadar Karina. tolong..."


Beberapa perawat langsung menghampiri Nicko dan membantunya mengangkat tubuh Karina. sepertinya, Karina merasa kembali terbebani setelah selesai melakukan tindakan operasi untuk sang Ayah. wanita itu kesulitan untuk menata emosinya yang sudah memuncak, Namun. tetap tertahankan.


LIKE KOMEN YANG MEMBANGUN, VOTENYA SEKALIAN. SEMANGATKU TERGANTUNG ANTUSIASME KALIAN.

__ADS_1


__ADS_2