Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 27


__ADS_3

Di tempat lain, Sandra terus saja mengamati sakit yang Helen derita. sungguh, Sandra sangat tidak tegak. nalurinya bertolak belakang dengan pekerjaannya. bahkan saat melakukan tindakan operasi, wanita tersebut seolah ketakutan saat melakukan pembedahan organ.


Gerak-geriknya selalu Crishtian awasi. Sandra sering kali terlibat dengan beberapa masalah dan masalah tersebut selalu saja berhubungan tentang pasien dan rumah sakit. sebagai seorang Dokter, pertanggung jawaban Sandra patut di tanyakan. bahkan untuk yang belum mengetahui sifat aslinya, mereka akan menganggap remeh hal tersebut dan tertipu oleh bujuk rayu Sandra sendiri.


"Karina..." Sandra melangkah cepat, saat melihat Karina baru saja datang pagi itu.


Karina mengantisipasi. ia tak ingin lagi terpedaya, bisa saja Sandra datang kembali padanya hanya untuk menyuruh Karina melakukan hal yang sama seperti kemarin. lalu pada akhirnya, dokter Christian akan kembali melempar teguran.


"Tidak, jangan libatkan aku lagi atas keuntungan yang kau miliki." tolak Karina sambil melangkah, padahal saat itu Sandra sendiri belum mengatakan sepatah katapun.


"Ada apa? aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu." timpal Sandra spontan.


"Katakan sekarang, aku memiliki jadwal dengan pasien jam 9." tukas Karina santai mempercepat langkah.


"Hey..." Sandra menarik tangan Karina agar wanita itu menghentikan langkahnya. "Kenapa kau sangat buru-buru. kita bisa berbicara tanpa harus berjalan cepat bukan?" gerutu Sandra kesal.


Karina menghela nafas panjang, bukan tanpa alasan ia melakukan hal tersebut. jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan. ia tak memiliki waktu sebanyak itu untuk menanggapi ocehan Sandra. sedangkan Karina yakin, apa yang akan Sandra bicarakan pasti berkaitan dengan kejadian kemarin. saat Sandra menitipkan pasiennya untuk pergi berkencan.


"Ini tentang Nona Helen, dia menitipkan sebuah pesan padaku. dia ingin mengirimkan mu pesan secara khusus, tetapi aksesnya sudah kau blokir." ucap Sandra menjelaskan.


Karina tertegun, sejenak ia berpikir. untuk apa lagi Helen mencarinya. tidak masalah jika itu semua menyangkut riwayat penyakitnya. sedangkan ini adalah rumah sakit, Karina tidak suka mencampur adukan pekerjaan dengan masalah pribadi.


"Aku tidak tahu pasti apa masalah yang terjadi diantara kalian, tapi ku pikir sebaiknya kau memaafkan Nona Helen." Sandra menyentuh bahu Karina dengan tatapan penuh arti. "Kau tahu apa yang ia derita sekarang, sangat jarang orang sembuh saat menderita penyakit itu."


Karina menelan ludah getir, wajahnya sama sekali tak berekspresi kemudian bertanya, "sudah berapa lama dia disini? sudah berapa lama ia menderita?"


"Kurasa dua setengah tahun, kondisi turun naik. kadang ia terlihat membaik, terkadang ia mengalami kritis. aku memang tidak pantas untuk mengatakan hal ini, tapi di lihat dari kondisinya sekarang, umur Nona Helen tidak akan lama lagi." celetuk Sandra memberanikan diri.

__ADS_1


Karina melebarkan bola matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. apa ini? kenapa Karina justru larut dalam kebenciannya hingga sama sekali tak memikirkan sakit yang Helen derita. bagaimana pun juga semua itu sudah berlalu, Helen memang bersalah. tetapi Nicko lebih bersalah, Karena bagaimana pun juga Helen pernah menegur dan memperingati. Namun, Karina justru tidak mendengarkannya.


"A... Aku mengerti," lirih Karina terbata.


Sandra menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Karina setelah menyampaikan itu semua. Sandra cukup penasaran dengan sesuatu yang terjadi antara Karina dan Helen. Pasiennya tersebut bahkan selalu saja bertanya mengenai Karina, dimana dan kapan Karina akan kembali menemui Helen setelah pertemuan tidak sengaja itu terjadi.


"Ahhhh, sakit sayang." jerit seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda di dorong oleh suaminya.


Jaritan itu lantas mengundang perhatian Karina. saat Karina berdiri dan memperhatikannya, seorang perawat pun berkata. "Dokter Karina, kau harus menanganinya. ini masih terlalu pagi, Dokter Christian masih belum datang juga."


Karina langsung sigap mengiyakannya. ia mengikuti perawat, pasien dan suaminya tersebut ke ruang Unit Gawat Darurat untuk menangani sakit dan keluhan yang di derita pasien tersebut.


"Cepat angkat dan baringkan dia," titah Karina cemas.


Dengan sangat terlatih Karina memasang alat infus pada punggung telapak tangan wanita tersebut. Karina juga menyuntikan sesuatu kedalam cairan infusan hingga sukses membuat pasiennya sedikit merasa tenang. tangan Karina beralih menyentuh bagian perut si pasien, ia membersihkan darah yang mengalir dari organ sensitif wanita tersebut hingga Karina bisa menyimpulkan, jika wanita itu telah mengalami keguguran. saat Karina mendapati ada sebuah gumpalan yang menyerupai darah keluar.


"Apa yang terjadi pada istri saya dokter?" tanya pria yang menemani pasien tersebut.


"Apa kau suaminya?"


Pria itu mengangguk tanpa mengurangi rasa kekhawatirannya.


"Baiklah, kita bicara di ruangan ku saja. istrimu akan di pindahkan ke ruang perawatan." sahut Karina dingin, seolah sedang menyimpan rasa kesal.


Pria itu terlihat begitu keheranan. entah kenapa ia melihat jika Karina sangatlah sensitif. dari jawaban yang Karina berikan, pria itu merasa jika Karina begitu sangat garang. padahal sebelumnya, Karina terlihat biasa saja. ramah dan penuh kelembutan.


"Dokter, tapi saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian. saya ingin menjaganya. katakan disini saja, Dokter." ucap Pria itu memohon.

__ADS_1


Emosi Karina kian memuncak, Dokter cantik tersebut langsung mengepalkan tangannya dengan gigi yang mengerat. tatapan Karina terasa begitu mematikan, hingga perawat di sana pun menyadari jika Karina akan segera memecahkan emosinya di ruangan tersebut.


"Kau bodoh? istrimu keguguran. dan kau ingin aku mengatakannya disini?" gerutu Karina meninggikan suara.


Wanita yang sedang terbaring lemah itupun cukup terkejut dan merasa sangat kehilangan. berbeda dengan suaminya, yang justru terlihat keheranan menanggapi luapan kemarahan Karina.


"Dokter, apa ini semua salahku? kenapa kau sangat marah?" sahut pria itu kikuk dengan ekspresi datar.


"Kau..." Karina menunjuk pria itu dengan tatapan sinis, "jika saja kau menjaga istrimu dengan baik mungkin saja janin itu akan terselamatkan! sekarang saat dia sudah mengalami keguguran kau malah baru ingin menjaganya!"


Entah apa yang di maksud Karina, sebab pria itu merasa jika dirinya sangat mencintai istrinya. ia juga sudah menjaga istrinya dengan benar. Namun, saat berada di kamar mandi istrinya justru terjatuh hingga membuat mereka kehilangan janin tersebut.


"Sayang," Pria itu mendekati istrinya lalu memeluknya untuk memberikan ketenangan. "Jangan menangis sayang, ini bukan akhir dari segalanya. aku bisa membuatmu hamil lagi, kau tahu betapa hebatnya aku bukan?"


"Anakku, kenapa semua ini terjadi sayang." rengek wanita tersebut merasa kehilangan.


Karina menatap kejam kearah si pria. kalimat penenang yang pria itu berikan semakin membuat Karina kesal. ia pernah mendengar hal itu dari mulut Nicko. Karina yakin, jika sikap santai tersebut memang dimiliki oleh semua laki-laki. menganggap remeh sebuah keguguran dan bukanlah akhir dari segalanya. "Hey, mudah sekali kau berbicara seperti itu pada istrimu. kau pria, sama sekali tidak mengerti betapa sakitnya kehilangan bayi dalam kandungan!" sejenak Karina melangkah sambil mengepalkan tangannya, "Aku akan memukulmu," pekik Karina jengkel.


"Ahh..." Semua orang yang berada di sana merasa heran sekaligus panik dan terkejut. mereka juga tak mengerti apa yang Karina alami, sampai Karina harus semarah itu pada pria tersebut.


"Dokter, hentikan Dokter. kau bisa kena sanksi, melanggar aturan rumah sakit."


"Cukup Dokter, apa salahku? kenapa kau sangat marah?" ucap Pria itu sambil melindungi diri dari pukulan.


"Kalian para pria sama saja, hanya ingin membuat tapi tak bisa menjaga! kau pikir apa? hubungan di jalani atas tidur bersama lalu hamil dan keguguran saja? setelah itu kau bisa membuat anak lagi bersama istrimu!" Karina terus saja meluapkan kemarahannya, sepertinya ini ada kaitannya dengan apa yang sebelumnya ia alami.


"Karina," Nicko langsung membawa wanita itu keluar ruangan guna melerai keributan.

__ADS_1


__ADS_2