Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 55


__ADS_3

Setelah dirinya sampai di apartemen, Karina nampak sangat murung. ia bahkan menolak Nicko untuk menjemputnya. tidak seperti biasanya, Karina sekali lagi merasa ada sesuatu yang membebani dirinya, meskipun itu tidak ada kaitannya dengan masalah pekerjaan.


Lampu dalam ruangan menyala, yang menandakan jika dalam ruangan tersebut tidak hanya ada Karina. wanita cantik itu memperdalam langkah, ia melihat Nicko sedang menikmati pemandangan sore dari balik jendela.


Bukan sesuatu yang mengejutkan, Karina justru terlihat santai menjatuhkan tubuhnya di atas sofa guna menghilangkan rasa lelah.


"Kenapa tidak ingin aku menjemputmu?" tanya Nicko memutar badan, saat menyadari jika sang empu sudah kembali.


Karina tak menggubris, ia malah memejamkan matanya perlahan.


"Karina?" melihat Karina yang mengabaikannya, Nicko mulai merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dari wanita tersebut. "Kau marah padaku?"


"Aku hanya lelah, kau pergi saja. biarkan aku sendiri," sahut Karina dingin, sambil mengubah posisi berbaringnya memunggungi Nicko.


Salah satu hal yang membuat Nicko benci dan kesal, saat menghadapi perubahan seorang wanita yang tidak pernah mau menjelaskan apa keinginannya. Ayolah, Nicko bukan peramal yang bisa membaca pikiran seseorang.


"Sayang, katakan padaku. apa yang terjadi?" Nicko menyentuh dan mengelus kepala Karina penuh kelembutan. "Bicaralah, aku tak ingin ada kesalahpahaman yang dapat membuat hubungan kita menjadi renggang."


Karina beranjak, ia menatap Nicko tajam lalu berkata. "Kalau begitu, jelaskan padaku. hubungan yang terjadi antara kau dan aku?"


Dahi Nicko mengerut, pria itu berhasil di buat keheranan atas apa yang baru saja Karina ucapkan.


"Kau diam?" Karina tersenyum kecut, bola matanya bergerak seolah jengah melihat kebungkaman Nicko yang semakin membuatnya merasa kesal.


"Setelah semua yang terjadi, kau masih bertanya apa hubungan kita?" Nicko meraih tangan Karina dengan sorot mata tulus, "kau masih meragukan ku?"


"Apa yang harus ku percaya?" Karina menarik tangannya kasar, "aku sudah menunggumu, tapi kau..." Karina tak melanjutkan apa yang ingin ia katakan, "Baiklah, biarkan aku sendiri. aku merasa sangat lelah," imbuh Karina mengusir halus sambil beranjak.


Seringai misterius Nicko tercipta, pria itu berdiri sejajar dengan Karina tanpa mengalihkan tatapan. "Aku tahu aku memang buruk! tapi, itu tidak berarti kau boleh menyalahkan ku dalam segala situasi."

__ADS_1


"Lalu apa?" Karina meninggikan suaranya, menyela ucapan Nicki. "Apa aku harus menyalahkan diriku sendiri atas semua yang terjadi?"


"Ya!" Nicko menjawab ucapan Karina spontan penuh kekesalan, "Apa aku pernah menyuruhmu untuk menolak lamaran ku sebelumnya? kau pergi tanpa mendengarkan penjelasan ku hingga pada akhirnya kau kecelakaan lalu bayi kita meninggal. itu semua salahku! aku yang sudah mempermalukan keluargaku, menyakitimu, mengecewakanmu, membuat bayi yang kau kandung meninggal. itu semua salahku!" Nicko mengerjap, mencoba menata kembali emosinya yang sudah meluap. "Apa lagi? kesalahan apa lagi yang akan kau limpahkan padaku?"


Karina tertegun, bibirnya bergetar di sertai mata yang menggenang.


"Bersabarlah Karina, setelah apa yang terjadi. itu semua tidak mudah! aku tidak ingin orang lain memandang buruk dirimu apalagi jika itu keluargaku." lirih Nicko tak berdaya.


Karina melangkahkan kaki memangkas jarak antara Nicko dan dirinya. wanita itu meraih wajah Nicko perlahan dengan tangan yang bergetar.


"Aku bisa saja pergi meninggalkanmu, setelah kau mempermalukan ku. tapi itu semua tidak pernah aku lakukan, karena rasa cintaku padamu yang terlalu besar."


Setetes air mata Karina mengalir. Cup... kecupan lembut Karina daratkan pada bibir Nicko yang berhasil membuat pria itu bungkam.


"Ma... maafkan aku," ucap Karina kikuk setelah melepaskan ciuman.


"Tidak akan ku maafkan," sahut Nicko yang berhasil membuat Karina merasa keheranan.


Sangat sulit untuk mengendalikan diri Karina dan Nicko yang sedang berhasrat. meskipun sebelumnya mereka berhasil menahan. Namun, kali ini sepertinya akan kewalahan. Tak menampik, keduanya memang sama-sama saling menginginkan. meskipun terkadang rasa takut Karina berhasil membelokan niat mereka.


Nicko mengecupi wajah Karina, menghujani wanita itu dengan penuh cinta. kecupan Nicko mulai turun pada leher menelisir setiap bagian gundukan inti. Nicko dengan mudahnya melepas pakaian yang Karina kenakan sambil menyapu dua bagian yang sangat pria itu sukai dengan lidahnya.


"Mhhh..." jemari kaki Karina meremat, wajahnya mendongak dengan bibir yang tergigit merasakan sensasi sentuhan yang Nicko berikan.


Karina berhasil di buat merinding, seluruh tubuhnya menegang saat tangan Nicko bergerak semakin dalam menerobos celah rok yang Karina kenakan.


"Aku mencintaimu," bisik Nicko menggoda menggigit daun telinga Karina.


Nicko berhasil memantik api gairah Karina, wanita itu memeluk membalas ciuman yang kembali Nicko daratkan dengan perasaan tidak karuan.

__ADS_1


Tubuh keduanya benar-benar sudah saling menempel, Nicko bahkan menghempas kemeja yang masih ia kenakan dan dengan bangga memamerkan tubuh bidangnya pada Karina untuk membuat wanita itu semakin terkesan. Nicko mengarahkan tangan Karina untuk menyentuh dan mengelus dadanya, wajah Karina terus Nicko belai menggunakan ibu jarinya tanpa senyuman yang memudar.


"Kau akan mengijinkan ku sekarang?" tanya Nicko mengeratkan dekapan.


Wajah Karina merona, wanita itu tak menggubris Nicko. namun, terlihat mengiyakan. mereka kembali memulai pergulatan, dengan bibir yang menyatu. Nicko membuka peyangga Karina dan memainkan tangannya di sana. pria itu merem*as gundukan Karina dengan penuh rasa gemas turun ke bagian pusat inti.


"Ahhh..." Karina melenguh nikmat, saat Nicko menggesekan tangannya di bagian senstif Karina.


"Kau menyukainya?" Nicko memiringkan senyum kemenangan, setelah berhasil membuat Karina tidak menahan desahan.


"Cu... cukup, aku ingin pipis." lirih Karina merapatkan kaki jenjangnya tidak karuan.


Astaga, berapa lama keduanya tidak saling menumpahkan kerinduan. ekspresi wajah Karina sama sekali tak berubah, berikut dengan kepolosannya. hal itu sukses membuat Nicko semakin tidak sabar untuk menenggelamkan kelelakiannya dalam lubang surga milik Karina.


"Kau semakin berisi, itu membuatmu semakin terlihat sex*y," puji Nicko diakhiri kecupan lalu mulai memposisikan dirinya diantara dua tungkai kaki Karina.


"Aku malu," ucap Karina menutupi miliknya dengan tangan.


Nicko terkekeh, entah apa yang ada dalam pikiran Karina sekarang. sungguh, hal tersebut hanya semakin membuat dirinya gila saja. "Sudah sejauh ini, dan kau baru mengatakan itu sekarang?"


"Tapi aku..."


"Pejamkan matamu, dan rasakan bagaimana hebatnya kekasihmu membuat kau tidak berdaya."


Karina menelan salivanya bersusah payah. meskipun begitu, ia mulai memejamkan matanya perlahan dan merasakan bagaimana milik Nicko mulai menerobos paksa, masuk kedalam lubang sempit miliknya.


"Ahmm..."


"Aku sudah merasakan ini sebelumnya, kau tidak perlu khawatir. anggap saja ini seperti beberapa tahun sebelumnya, saat tubuhmu seperti candu bagiku." ujar Nicko sambil berusaha mendesak miliknya menenangkan Karina.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTENYA...


__ADS_2