Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 64


__ADS_3

Flashback of...


Segelintir air mata Karina mengalir, ia sudah mengira jika jalan cerita yang akan Nicko berikan akan sama halnya dengan apa yang ia pikirkan. terkesan berani, dan penuh keyakinan. Namun, bukan itulah yang menjadi penyebab mengalirnya air mata deras Karina.


Semua yang Nicko ceritakan sama sekali tak berunsur. Karina tetap saja harus berkutat degan sebuah teka-teki yang menimbulkan begitu banyak pertanyaan di otak dan relung bantinnya. sebenarnya apa yang Rose pikirkan? apa wanita paruh baya itu menerima Karina setelah mengasihaninya? atau malah sebaliknya. Nicko tak kunjung memberi penjelasan itu di akhir cerita, ekspresi wajahnya yang terlihat begitu sangat cemas dan ketakutan seolah telah menjawab jika Rose belum sepenuhnya bisa menerima Karina.


"Terima kasih," senyum simpul Karina tercipta, tangan wanita cantik itu bergeril menyelusuri bahu dan dada Nicko lalu mengelusnya. "Kau sudah berusaha keras, itu sudah lebih dari cukup bagiku." imbuh Karina mencoba terlihat baik-baik saja, meskipun kenyataannya batinnya menjerit kecewa.


Seiring berjalannya waktu, sepertinya kedua pasangan itu sudah mulai bisa memahami sikap dan bahasa tubuh masing-masing. Nicko yakin, senyum yang Karina berikan pasti sangat bertolak belakang dengan perasaannya. itu sebabnya, saat Karina berkata demikian, Nicko justru meraih kepala Karina lalu menempelkan kepala tersebut pada dada bidang miliknya.


"Jangan berpura-pura, aku tahu kau sangat bersedih." Karina mengelus kepala Karina, bola matanya bergerak menatap langit-langit ruangan dengan otak yang di hiasi nama kekasihnya, "selama aku bersamamu. semua pasti akan baik-baik saja, percayalah." imbuh Nicko lembut menenangkan.


Karina mempercayainya, tangannya melingkar memeluk erat tubuh Nicko dengan kepala yang mendongak menatap ketampanan kekasihnya. "Apa ini yang di namakan takdir? berikan aku sebuah alasan. banyak wanita di luar sana yang mengantri untuk mendapatkan cintamu, lalu kenapa kau terus saja menyusahkan dirimu hanya untuk mengejar ku?"


Nicko tersenyum tipis, bola matanya bergerak seraya berpikir. "sederhana saja, saat kau berlari tentu aku akan mengejar mu."


Karina mengerutkan dahinya dengan bibir yang mengerucut, "Apa ini adalah jawaban yang tepat? ku pikir kau akan memberikan alasan yang begitu dramatis dan berbelit-belit agar membuat aku semakin terkesan."


"Tidak ada alasan," Nicko mengelus bibir Karina penuh kelembutan. "mengejar mu adalah sesuatu yang harus aku lakukan. terlepas dari itu semua, sebelum ini terjadi kau sukses membuat hidupku di selimuti rasa takut dan penuh kecemasan."


"Cemas?" bola mata Karina melebar, "Kenapa? apa yang kau takutkan?" cecarnya penasaran

__ADS_1


Nicko menghela nafas panjang sejenak, entah sejak kapan Karina menjadi sangat rewel. Namun, hal ini benar-benar membuatnya semakin terlihat menggemaskan. "Aku takut jika kau tak akan pernah memaafkan ku. kau memang benar, aku bisa saja mencari wanita lain. akan tetapi, semua itu tak akan pernah bisa melepaskan ku dari rasa bersalah dan penyesalan." sejenak Nicko meraih wajah Karina dengan kedua tangan sambil menenggelamkan wanita tersebut dalam pandangannya, "Selamanya aku hanya akan menjadi pria pengecut jika aku membiarkanmu pergi begitu saja." imbuhnya yang seketika membuat hati dan perasaan Karina semakin tergetar.


Karina melepaskan dirinya dari Nicko, wanita cantik itu langsung menciptakan jarak yang cukup jauh sambil mendekati sebuah meja yang terdapat segelas air diatasnya. Karina meneguk air itu tanpa bernafas, dalam sekejap ia menghabiskan air tersebut hingga membuat Nicko keheranan.


"Kenapa? kau tidak menyukai jawabanku?" tanya Nicko sambil melangkah mendekati sang empu.


"Tidak," Karina menggelengkan kepalanya dengan cepat. "aku hanya tiba-tiba merasa panas." tukasnya tidak karuan.


Karina hanya sedang menenangkan diri. jawaban yang Nicko berikan sangatlah memuaskan hingga membuat jantungnya berdebar cepat tidak karuan.


"Kau baik-baik saja?" Nicko kembali melangkah menipiskan jaraknya dengan sang empu.


Nicko menghentikan langkah dengan ekspresi wajah datar menatap Karina. "Kenapa? apa yang terjadi?"


Karina mengibaskan tangannya, menolak untuk di dekati. "Aku... aku hanya..." singkatnya, Karina tak ingin kembali terjebak dalam suasana sunyi yang akan kembali menyeret dirinya dalam permainan ranjang. sebagai seseorang yang sudah berpengalaman dan mampu membaca keadaan juga situasi. Karina sudah sangat yakin, jika ia mendekat dan terus mendengarkan kalimat memabukkan itu dari Nicko maka dirinya akan semakin tenggelam.


"Apa kau tidak puas mendengar jawabanku? kenapa kau terus saja menghindar?" Nicko meraih tangan Karina, menghimpit sang wanita diantara tembok dan dirinya.


Karina menelan salivanya, saat jarak antara dirinya dan Nicko hanya terpaut beberapa senti saja. "Ba... baiklah, apa harus seperti ini? kau membuat aku sesak." Karina mencoba mendorong tubuh Nicko. namun pria itu menolak untuk menjauh.


"Sekali lagi terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk kembali." Nicko memulai lagi pembicaraannya. pembicaraan yang mampu menyihir Karina untuk mengiyakan segala sesuatunya.

__ADS_1


"Tidak," Karina terpejam sambil menutup kedua telinganya dengan tangan. "Jangan di teruskan, cukup. aku mencintaimu, jangan mengatakan apapun lagi."


Nicko menyeringai, ia sudah menduga hal ini. Namun, tingkah konyol yang Karina tunjukan hanya membuat Nicko semakin ingin memeluknya.


"Pergilah, ke kamarmu!" titah Karina memalingkan wajah kikuk.


"Bukankah aku sudah mengatakannya? aku ingin tinggal di sini bersamamu." tukas Nicko menggoda.


Karina menggeleng dengan bibir yang mengerucut, "Aku yang sudah membayar sewanya. aku yang berhak memutuskan, tolong jangan memaksa."


"Apa kau takut?" Nicko memalingkan wajah Karina agar wanita itu membalas tatapannya.


Karina secara reflek mengangguk, "Euhhh maksudku, tidak." imbuhnya meralat sambil menggelengkan kepala.


"Baiklah, jika begitu. terimalah ini," Nicko langsung meraup bibir Karina saat sang empu terlihat lengah. bola mata Karina sampai membulat, setelah merasakan serangan yang Nicko berikan secara tiba-tiba.


Bagaimana Karina bisa menolaknya? bibir Nicko selalu saja berhasil membuatnya tak berkutik. tubuh Karina benar-benar sulit untuk di ajak berkompromi. saat Karina hendak menolak, namun seluruh tubuh dan perasaannya menuntut untuk menerima. ciuman yang Nicko berikan seperti sengatan listrik baginya. sekali tersentuh, Karina akan langsung di buat lemah dan tidak berdaya. secara reflek organ lainnya mengikuti gerakan tangan Nicko yang sedari tadi terus mengelus punggung dan bok*ongnya.


"Astaga, apa aku harus terjebak lagi?" rengek Karina merutuk.


LIKE KOMEN DAN VOTE, KECEPATAN UP TERGANTUNG RESPONSIF PEMBACA...

__ADS_1


__ADS_2