
Karina memang tak bisa membiarkan ada seseorang yang menyimpan kemarahan terhadap dirinya. bahkan sebelum Nicko, Johan juga sempat mendiamkan Karina. Namun, berkat kesabaran Karina dalam membujuk Johan pun luluh dan mencoba untuk percaya jika Karina tidak akan terpengaruh oleh bujuk rayu yang terus Nicko lakukan.
Tetap saja, meskipun Karina sebelumnya sangat merasa kesal terhadap Nicko. nyatanya, saat pria itu terlihat begitu marah, Karina langsung merasa sangat bersalah karena tidak seharusnya dirinya mengatakan kalimat yang membuat hati dan perasaan Nicko terluka.
Bukankah, menerima atau menolak adalah sesuatu yang harus ia putuskan besok. lalu bagaimana Karina bisa menyelesaikan perjanjiannya, jika sekarang saja Nicko tak kunjung menghubunginya.
"Apa aku harus meminta maaf padanya?" karina menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, "tapi bagaimana caranya? atau aku harus menghubunginya?" Karina lantas meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjangnya. ia mulai menyentuh icon-icon pada layar ponsel guna menghubungi Nicko segera. "Tidak," niat itu Karina urungkan, gadis tersebut berdecak lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Itu tidak sopan. bagaimana pun juga permintaan maaf itu harus dilakukan secara langsung, lagi pula jika hanya melalui panggilan. aku tidak bisa benar-benar yakin kalau Nicko tidak akan tersinggung."
Karina bergegas keluar kamar sambil berlari mencari keberadaan Helen. bagaimana pun juga, hanya Helen-lah yang cukup tau banyak hal tentang Nicko. sepertinya Helen juga tahu, lantai gedung yang Nicko tinggali.
"Untuk apa kau mencarinya?" ucap Helen terkejut, wanita itu juga gak menyangka jika Karina akan menanyakan hal tersebut padanya.
"Terjadi kesalahpahaman antara aku dan Nicko tadi pagi, aku merasa bersalah. itu sebabnya aku ingin meminta maaf padanya secara langsung." jawab Karina menjelaskan.
Helen mengangguk, sebagai seseorang yang sudah mengenal Karina dalam jangka panjang ia cukup mengerti perihal apa yang sedang gadis itu alami. "Lantai 7, dengan nomor pintu 207."
"Oke..." Karina langsung berlari meninggalkan Helen begitu saja. ia terlihat begitu bersemangat, tanpa sadar sepertinya Karina sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Nicko dalam kesehariannya.
Jarak antara tempat tinggal Karina dan Nicko memanglah tidak begitu jauh. Karina hanya cukup menyebrang jalan dan melewati beberapa baris ruko swalayan yang cukup modern.
"Huft..." Karina menghela nafas panjang saat dirinya sudah keluar dari dalam lift dan berada tepat di lantai 7 apartemen. Karina berjalan perlahan mengabsen setiap daun pintu sambil mencari nomor kamar 207 seperti yang Helen katakan. "Aku merasa gugup," batin Karina memelas.
Langkah Karina terhenti, saat wanita itu sudah berdiri di depan pintu dengan nomor yang ia cari. sudah sejauh ini, nyatanya Karina tidak memiliki cukup keberanian untuk menampakan wajahnya di hadapan Nicko sekarang.
"Tidak, ini semua salah mu. kau sudah membuatnya tersinggung Karina." gerutu Karina pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Karina mulai mengarahkan tangannya ke daun pintu, ia mulai mengetuk pintu tersebut dengan tempo yang lambat lalu mengalihkan tangannya untuk membunyikan bel.
"Ahh..." Karina langsung memundurkan langkahnya saat dirinya hendak membunyikan bel, ia tersentak kaget begitu melihat Nicko tiba-tiba saja membuka pintu tersebut.
"Kau disini? sedang apa? apa kau tersesat?" ucap Nicko bertanya penasaran.
Karina menelan salivanya, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Nicko lalu kemudian berkata. "Aku... aku sengaja datang untuk mencarimu,"
"Aku?" Seringai misterius Nicko tercipta, "Kenapa kau mencariku? bukankan aku hanya membawa pengaruh buruk untuk mu?"
Deg... wajah Karina memanas, matanya menggenang. sejujurnya pernyataan yang Nicko lontarkan terdengar begitu menyakitkan dan semakin membuat dirinya merasa sangat begitu bersalah. "Ma... maaf, aku tidak bermaksud." Karina mengalirkan setetes air matanya, gadis itu lantas meraih tangan Nicko seolah memohon. "ini semua kesalahanku, aku tidak bisa membiarkan seseorang menyimpan kemarahan terhadapku. tolong maafkan aku."
Beberapa orang yang lewat tak sengaja menyaksikan hal tersebut. mereka beranggapan jika Nicko adalah pria tidak punya perasaan yang mencampakkan Karina hingga membuat gadis itu harus memohon.
Karina pun pasrah, saat Nicko membawanya masuk kedalam. ternyata benar dugaan Karina, Nicko sangat tersinggung, bahkan saat Karina datang pria itu mengatakan masalah tersebut langsung pada intinya.
Nicko membawa Karina duduk di sofa besar yang terdapat di dalam ruangan tersebut. tangisan Karina masih saja berlangsung hingga membuat Nicko merasa tidak tega untuk mendiamkannya lebih jauh lagi.
"Minumlah," titah pria itu sambil memberikan segelas air pada Karina.
"Maafkan aku," lirih Karina terisak.
Nicko menghembuskan nafas perlahan, ia kembali meletakan gelas berada di tangannya kemudian melirik kearah lain seolah tak menanggapi permohonan wanita tersebut.
"Nicko, jawab aku. kenapa kau diam," rengek Karina mencengkram kuat ujung kemeja yang Nicko kenakan.
__ADS_1
"Lantas apa yang harus aku katakan Karina? kau tahu aku sangat mengagumimu, tapi kau malah mengatakan jika aku hanya membawa pengaruh buruk untukmu." sejenak Nicko menyandarkan tubuhnya di sofa sebelah Karina. "aku memang bukanlah pria yang baik, aku salah karena sudah menaruh perasaan terhadapmu. kau cantik, pintar, lugu dan sangat lembut. tidak sebanding dengan pria sepertiku."
"Jangan katakan itu!" Karina mendaratkan pukulan halus di tubuh Nicko, "Aku tak sebaik yang kau pikir, jika semua itu benar aku mungkin akan bisa menjaga mulutku agar tidak menyakiti perasaanmu." celetuk Karina terisak.
Nicko tersenyum nanar, ia mulai memangkas jarak sambil menatap wajah Karina secara intens. pria itu mulai mengelus pucuk kepala Karina sambil menyeka air matanya. "Maaf sudah membuatmu menangis," ujar Nicko penuh kelembutan.
"Kau memaafkan aku?"
Nicko menganggukan kepalanya tanpa memudarkan senyumnya, ia begitu mengagumi kecantikan Karina meskipun dalam keadaan terisak. kesempurnaan yang Karina miliki terlihat begitu alami hingga sukses membuat Nicko semakin menggilainya.
Suasana menjadi hening seketika, saat Karina dan Nicko hanya saling mendalamkan diri mereka melalui tatapan. Nicko semakin menipiskan jarak, detak jantung keduanya saling berpacu. dapat Karina dan Nicko rasakan, jika kini nafas mereka telah beradu menjadi satu.
Cup... singkat waktu bibir Nicko mulai menyentuh bibir manis Karina. gadis itu tak memberikan reaksi apapun, Karina tak menolak ataupun menerima sentuhan lembut tersebut. bahkan Nicko sendiri terus berusaha menyesuaikan untuk membuat Karina semakin nyaman dan tenggelam, ia tak langsung memagu*t bibir Karina sampai pada akhirnya Nicko mulai berinisiatif menghisap bibir gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Cukup," Karina memalingkan wajahnya menghentikan aktifitas berciuman tersebut secara sepihak.
Keduanya terlihat sangat gugup. wajah Nicko dan Karina sama-sama terlihat merona.
"Aku pulang sekarang," ucap Karina kikuk beranjak.
Nicko menelan salivanya, pria itu hanya bisa menganggukan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Ba... baiklah, selamat tinggal." ucap Karina berpamitan, melangkah cepat meninggalkan ruangan.
LIKE KOMENNYA DAN VOTENYA, PARA PEMBACA YANG BAIK HATI.
__ADS_1