
Sandra terkekeh, tatapannya semakin menajam dengan sorot mengintimidasi. "Kau yakin? tapi sayangnya aku sudah membaca surat tersebut! dan yang kau ucapkan sekarang adalah kebohongan." pungkas Sandra hingga langsung membuat Johan membulatkan matanya seketika seolah terkejut.
Johan langsung dengan cepat membuka isi pesan yang di tuliskan Helen untuk Sandra.
"Kau akan menanggung akibatnya, jika berani mendekati kekasihku!"
Johan terpaku, sorot matanya teralihkan pada Sandra yang memang sudah menaruh curiga dari awal jika isi aurat tersebut hanyalah akan berisikan sebuah ancaman.
"Memangnya kenapa? apa dia akan mendatangiku lalu mencekik ku, seperti di film horor?" Sandra menggerutu menatap sinis kearah Johan. "Kau dengar ini Tuan Johan, aku sama sekali tidak tertarik padamu. entah apa yang kekasihmu pikirkan, setelah dia meninggal saja masih berani memberikan ancaman." sejenak Sandra berdecak, "Astaga..."
Johan membalas tatapan sinis Sandra. kalimat yang Sandra ucapkan benar-benar membuatnya kesal. "Berani sekali kau mengatakan sesuatu yang buruk tentang kekasihku lagi. lagi pula, siapa yang berpikir jika kau tertarik padamu..."
"Tentu saja kekasihmu!" Sandra menyela ucapan Johan sambil memajukan langkah dengan sorot menilai penampilan Johan dari atas sampai bawah. "Lihat dirimu, bagaimana dia bisa berpikir aku akan menyukaimu. pria kaku, budak cinta yang bersetelan formal setiap harinya." Sandra berdecak sebal sambil menggelengkan kepalanya, "Aishh... kau bahkan sangat tidak memenuhi pria kriteriaku." celetuk Sandra terang-terangan.
"Lalu apa? kau ini adalah dokter gadungan! selalu meninggalkan kekasihku di jam pemeriksaan." tutur Johan mengumpat kesal, "Kau bahkan selalu meninggalkan pasien-pasien mu demi pria yang tidak jelas."
"Hey!!!" Sandra melotot menghentikan ucapan Johan, "Apa masalahnya bagimu?"
"Tentu itu masalah! kau benar-benar meremehkan penyakit orang lain. dasar Dokter tidak bertanggung jawab! kau lalai dalam menjalankan tugasmu! kau bahkan bisa memicu kematian seseorang dalam keadaan darurat. bahkan kau tidak pantas mendapat gelar..."
Sandra mengerjap, meskipun semua yang Johan itu katakan adalah kebenaran. Namun, ucapan pria tersebut benar-benar sudah menyinggung perasaannya. "Cukup!" Sandra mengangkat tangan, seolah memberikan peringatan, "Berpikirlah sebelum bicara, kau sama sekali tidak tahu apapun tentang hidupku!" Sandra tersenyum getir dengan mata yang menggenang, "kau memang benar! aku ini memang tidak pantas!" ujar Sandra dingin, lalu kemudian memutar badan berlalu.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, pada saat cahaya mentari sudah menembus kaca jendela milik Karina. wanita cantik itu tak langsung beranjak dari tempat tidurnya, ia terus memandang wajah tampan Nicko yang tidur dalam keadaan tubuh bersandar sambil memeluk Karina.
"Dia bahkan tak melakukan apapun, padahal aku tahu. ia sangatlah berhasrat semalam." batin Karina penuh kekaguman memandang ketampanan Nicko.
"Cium aku,"
Karina mengerutkan dahinya dengan tatapan yang semakin menajam. "Ka... kau sudah bangun?" tanya Karina terbata.
Nicko mulai membuka matanya perlahan, ia melirik kearah Karina dengan senyum manis yang tercipta. "Berikan aku satu ciuman," pinta Nicko menggoda sambil mendekatkan wajahnya.
Kegenitan Nicko selalu saja bisa membuat Karina tersipu malu. wajah Karina seketika merona dengan bola mata yang bergerak merapatkan bibirnya.
"Aku akan memaksa, jika kau tak kunjung mem..."
"Aku akan membawamu untuk mengunjungi ibuku sekarang," ucap Karina setelah melepaskan ciuman.
Nicko tertegun, ia langsung menganggukan kepalanya dengan cepat setelah mendengar pernyataan Karina. mungkin ini adalah awal baik untuk menebus semua kesalahan yang pernah Nicko lakukan. sejenak Nicko menelan salivanya dengan bersusah payah, lalu kemudian berkata. "A... apa dia tahu, aku pernah membuatmu kecewa?"
Karina tidak langsung menjawab ucapan Nicko, ia mengangguk pelan lalu menjawab. "Dia tahu segalanya tentangmu."
"Tapi kenapa? maksudku, bagaimana jika Ibumu menolak ku?" imbuh Nicko cemas ketakutan.
Karina memiringkan senyumnya, ia menggenggam tangan Nicko sambil menenggelamkan diri di dalam bola mata indah pria tersebut. "Bukankah, aku juga memiliki kesan buruk terhadap keluargamu? tapi aku tidak khawatir soal itu."
__ADS_1
"Kenapa kau sangat yakin?" sorot mata Nicko memang terlihat tidak begitu meyakinkan, ia seolah di penuhi rasa takut dan keraguan saat hal ini mulai Karina bahas untuk yang pertama kalinya.
"Bukankah kau sendiri yang sudah meyakinkan aku sebelumnya? apa cintamu padaku hanya sampai disini saja?" Karina memalingkan wajah jengah. "kenapa kau terlihat seperti seorang pengecut, kemarin kau sangat beratusias!"
"Karina, bukan seperti..."
"Cintamu hanya sebatas ranjang," sejenak Karina menghela nafas panjang. "Untung semalam kita tidak melakukan apapun, kalau tidak. pasti sekarang aku sudah sangat menyesal," imbuh wanita itu kecewa.
"Sayang," Nicko langsung memeluk Karina, sepertinya wanita itu salah mengartikan rasa cemas yang sedang Nicko rasakan. "Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, itu tidak mudah bagiku. setiap hari aku di hantui penyesalan dan rasa bersalah. aku hanya takut, jika setelah ini Ibumu akan meragukan ku, lalu..."
Karina memutar badan, dan langsung meletakan telunjuknya di atas bibir Nicko menghentikan ucapan pria tersebut. "Jika kita berjodoh, kau tidak usah khawatir. tuhan memiliki banyak cara untuk menyatukan kita, buktinya selama bertahun-tahun aku melarikan diri darimu, dan sekarang kita kembali di pertemukan dengan perasaan yang masih sama."
Nicko mengangguk, ia langsung memeluk erat tubuh Karina setelah ucapan sang empu berhasil menenangkan perasaannya. kecemasan yang Nicko rasakan seketika sirna. mungkin, berjuang dan berusaha keras memang sudah di gariskan tuhan untuknya. sebuah tantangan yang Tuhan berikan pada Nicko, memperjuangkan cintanya sambil menebus kesalahan di masa lalunya.
"Ba... bagaimana dengan, Ayahmu?" tanya Nicko terbata.
Karina terpaku, ia mendongak menatap wajah Nicko dengan ekspresi datar. "Kenapa kau menyebut namanya, bahkan setelah operasi itu berjalan lancar. ia sama sekali tak menemui ku, bahkan istrinya yang tidak tahu malu itu tak mengatakan apapun saat aku keluar dari ruangan operasi."
"Karina tapi..."
Tatapan tajam Karina berhasil membuat Nicko tak berani bicara. kebencian Karina sepertinya sudah sangat mendarah daging. Nicko bahkan bersyukur, jika ia masih di berikan kesempatan. tidak seperti Ayah Karina.
LIKE KOMEN DAN VOTENYAA...
__ADS_1