Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 38


__ADS_3

Bayang-bayang itu muncul, Karina kembali di ingatkan saat dirinya di desak paksa oleh Helen dan juga Johan pada saat kedua orang tersebut memaksa Karina untuk meninggalkan Nicko dan berfokus pada pendidikannya. bahkan bukan hanya sekali dua kali, Karina bahkan sempat mendapat perlakuan dingin dari Helen maupun juga Johan lantaran wanita itu tidak pernah mendengarkan mereka.


"Kembalilah, Nicko sedang menunggumu. jangan permalukan dia di hadapan keluarganya." titah Johan lalu beranjak.


"Tunggu..." Karina meraih tangan Johan, agar pria tersebut tak pergi. "Aku, aku tidak yakin jika dia melakukan ini dengan tulus. bagaimana jika dia hanya merasa bersalah?" lirih Karina menggenang.


Johan berdecih, pria itu lantas melirik santai kearah Karina lalu menyentuh wajahnya penuh perhatian. "Bagaimana kau masih bisa berpikir begitu? ku pikir, hubungan yang sudah melibatkan keluarga bukanlah sesuatu yang bisa di anggap remeh."


"Tapi aku sudah menganggap hubungan itu berakhir." tegas Karina memecah tangisan.


"Tapi kau masih mencintainya! bagaimana bisa kau menganggap hubungan itu berakhir, sedangkan kau pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Nicko! dia masih menganggap hubungan itu ada, dia tak pernah melupakanmu! bahkan seluruh dunia pun tahu, jika kau adalah wanitanya!"


Karina menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya terus berderai. pada akhirnya, kebencian itupun harus tercampur dengan rasa bersalah dan penyesalan akibat Karina yang berhasil mencerna apa yang Johan katakan.


"Jika kau tidak percaya, buka seluruh akses media sosial yang kau putuskan dengannya. kau memang tidak akan mendapatkan apapun. Namun, postingan wajahmu akan menjadi akhir dari segalanya." imbuh Johan mendesak.


Karina melonggarkan cengkramannya dari Johan. dada Karina terasa begitu sesak. ia mengingat dengan jelas, bagaimana dirinya menghardik, mencaci, dan sering kali memberikan serangan fisik pada Nicko.


"Aku pergi. ku harap, kali ini kau bisa mendengarkan ku." imbuh Johan dingin berlalu.


Karina tak menanggapi, wanita itu langsung meraih ponselnya lalu menekan icon-icon media sosial guna membuktikan apa yang Johan katakan. setelah lima tahun, pada akhirnya Karina kembali melirik akun media sosial milik Nicko.


Deg...


Karina menelan salivanya, seluruh tubuhnya seolah bergetar. saat foto Karina terpampang nyata memenuhi kolom pada layar yang Nicko posting. jari-jari lentik Karina mulai menyentuh salah satu foto cantiknya.


"Mother of my child," Air mata Karina tak terbendung. ia terus menggulir dan menyecroll postingan Nicko lainnya, "Angry up to five years. extraordinary isn't it? but I still love him."


Karina menghembuskan nafas panjang, wanita itu lantas menghentikan aksinya kemudian berkata. "Tunggu, aku Nicko." batin Karina beranjak lari.


Mungkin ini terlalu mudah. Namun, Johan berhasil mencuci otak Karina. kebencian Karina pada akhirnya hanya menyisakan rasa sesal, seperti apa yang Johan katakan. selama ini Karina terus membohongi dirinya, padahal wanita tersebut memang benar-benar masih mencintai Nicko sepenuh hatinya. hukuman ini akan segera Karina akhiri, ia ingin merengkuh Nicko dan melepas kerinduan tanpa menyimpan beban.


"Tunggu Aku, Nicko." batin Karina, ia terus melambaikan tangan saat sebuah taksi melintas dihadapannya. "Berhenti," pekik Karina.

__ADS_1


Sesaat setelah Karina sudah berada dalam taksi. ucapan Helen dan Johan sama sekali tak bisa menghilang dari ingatan Karina. wanita itu terus di desak rasa penyesalan setelah kebenciannya perlahan menghilang.


"Kau di butakan oleh kebencian yang kau buat sendiri."


"Maafkanlah Nicko, ia sangat mencintaimu, Karina."


"Aku akan menikahi mu, aku akan bertanggung jawab penuh atas dirimu!"


"Dia adalah istriku, kami sedang bertengkar."


"Karina, aku akan terus mengejar mu. meskipun ke ujung dunia sekalipun."


Karina berdecak kesal. ia mengacak rambutnya penuh kekhawatiran guna menghempas ucapan tersebut dari pikirannya.


"Pak, lebih cepat." titah Karina pada sopir taksi.


"Baik, Nona."


Karina menggulir ponselnya, ia terus mengirimkan begitu banyak pesan dan mencoba menghubungi Jade dan Maria.


Beberapa menit berlalu, taksi pun terhenti tepat di depan gerbang kediaman Jade dan Maria. Karina langsung berlari masuk dengan sangat tergesa-gesa. besar harapan Karina sematkan, semoga saja Nicko dan keluarga masih berada di sana.


"Cepat," gumam Karina mendorong pintu utama. nafasnya sampai tersenggal degan ekspresi wajah datar. "Dimana? dimana Nicko?" tanya Karina melangkah cepat, menghampiri.


"Bibi," Anna melebarkan senyumnya menatap wanita cantik tersebut. "Kenapa kau mencari paman? bukankah Bibi sendiri yang mengatakan jika kau tidak ingin menikah dengannya?"


"Anna kau?" Karina terpaku, seluruh tubuhnya bergetar menatap gadis cilik yang tidak lain adalah keponakannya.


Anna mengangguk, ia lantas memeluk Karina kemudian berkata. "Aku sudah membantu Bibi untuk menolak paman Jahat," ujar Anna polos.


"Ah?" mulut Karina sedikit terbuka, air matanya mengalir setelah mendengar pernyataan Anna.


Jade menghela nafas kasar, pria itu terus menatap Karina dengan sorot mengintimidasi. "Apa maksudmu, Karina?"

__ADS_1


"Aku..." Karina mengalihkan sorot matanya menatap Jade dan Maria secara bergantian.


"Jika kau ingin menolak, setidaknya lakukan itu dengan cara yang sopan! kau sudah mempermalukan keluarga, apa yang akan keluarga Nicko pikirkan setelah ini?" cecar Jade memarahi.


"Tapi aku... aku tidak..."


"Kakak kecewa padamu, Karina." ucap Maria menyela dingin.


Beberapa waktu sebelumnya...


Rombongan keluarga Nicko sudah berkumpul di ruang keluarga. Jade mencoba memperjelas maksud dan tujuan Nicko yang di ucapkan sebelumnya. sedangkan Maria, wanita itu langsung mengumpulkan para pelayan untuk membuat jamuan.


"Sudah aku katakan, aku akan membuktikan keseriusanku pada Karina. malam ini aku akan melamarnya," ucap Nicko kembali menjelaskan.


Rose, Ibu dari Nicko. terlihat tegas dan berwibawa. wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itupun begitu elegant. tak banyak kata yang Rose ucapkan. ia hanya terus menunggu momen sambil mengamati setiap sudut ruangan dengan tatapan menilai.


"Baiklah, aku akan menghubungi Karina. takutnya, gadis itu akan pulang ke apartmennya jika tak di hubungi." tukas Jade beranjak untuk mengambil ponsel yang tertinggal di lantai atas.


"Tidak perlu Papa,"


Seketika seluruh orang yang berkumpul langsung melirik ke sumber suara.


"Aku sudah memberi tahukan hal ini pada, Bibi. Bibi mengatakan jika ia menolak dan tidak sudi menjadi istri dari Paman jahat."


Rose mengeratkan giginya, tatapan mematikannya mengarah pada Nicko penuh arti.


"Anna," Jade meraih tubuh Anna dan langsung memelototi gadis kecil tersebut. "jaga bicaramu," bisik Jade dengan suara terendah.


"Itu memang benar, Bibi sendiri yang mengatakannya barusan. ia menyuruhku untuk mengatakan ini pada, Paman" sahut Anna polos datar.


Jade tersenyum canggung. pria itu terus berpikir, apa yang akan keluarga Nicko pikirkan setelah ini? menurutnya, Karina benar-benar sudah sangat keterlaluan. karena dengan begini, bukan hanya Nicko yang di permalukan. tapi seluruh keluarga yang terlibat.


"Nicko apa ini?" tanya Rose dingin, menatap tajam.

__ADS_1


Nicko menelan ludah getir, wajahnya seketika memucat setelah sang Ibu melontarkan pertanyaan tersebut dengan wajah garang. "Ka... Karina pasti tidak bermaksud, aku... aku bisa jelaskan." tukas Nicko terbata.


LIKE KOMEN DAN VOTENYA GUYS...


__ADS_2