Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 45


__ADS_3

Karina memerlukan waktu satu jam lamanya untuk memulihkan kesadaran. saat matanya terbuka, wanita itu langsung menyadari jika dirinya sedang berada dalam ruang perawatan rumah sakit dengan selang infus yang terpasang.


"Aduh, kenapa kepalaku sakit sekali." keluh Karina meringis.


"Kau sudah sadar?" Sandra dan Renata saling berhadapan dengan posisi ranjang yang sedang Karina baringi berada di tengah-tengah mereka. kedua wanita itu langsung bertukar pandang setelah mengucapkan kalimat itu bersama.


"Pria yang selalu menguntit mu mengatakan, jika kau pingsan setelah melakukan tindakan operasi." imbuh Renata cemas sambil meletakan punggung telapak tangannya tepat di dahi Karina. "Ah, ini memang sedikit hangat. apa ini ada kaitannya dengan kegilaan kita semalam." tanyanya kemudian.


"Hust!" Sandra langsung memelotot sambil melirik ke kiri dan ke kanan. "jika ada yang dengar, maka kita semua akan tamat. Kau dan Karina akan di sanksi, lalu aku juga akan terlibat karena ada bersama kalian saat itu." tegas Sandra memperingati dengan suara terendah.


Gigi Karina mengerat, tatapan mematikannya terus tertuju pada Sandra seolah sedang menyimpan rasa kesal.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Sandra kikuk penasaran.


"Operasi ini adalah tugasmu, kau semalam tidak mabuk. kenapa aku yang harus melakukannya?" sejenak Karina memincingkan mata lalu kembali berkata. "Ahhh, kau sengaja. Perawat Richard mengatakan, jika kau memang selalu melarikan diri setiap kali ada jadwal pengoperasian."


Sandra langsung membungkam mulut Karina menggunakan tangannya. wajahnya semakin memucat setelah Karina mengatakan hal tersebut, sepertinya apa yang Karina katakan memanglah benar. "Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? melihat darah saja sudah membuatku takut. bagaimana jika operasi itu gagal?"


"Hah?" Renata menatap heran kearah Sandra, seolah tidak percaya. "Lalu kenapa kau mengambil bidang ini? bukankan tindakanmu akan merugikan orang lain?" katanya menyudutkan Sandra.


"Ayolah," Sandra memelas, sambil sesekali melirik kearah Renata saat Karina. "kau tahu hidupku dan kakakku seperti apa, kami di haruskan mengiyakan segala ke inginan orang tua. atau jika tidak..." Sandra menghentikan ucapannya.


"Atau jika tidak apa?" timpal Karina penasaran.


Renata menghela nafas panjang, ia sudah lebih dulu mengerti meskipun Sandra tak menjelaskannya secara rinci. "Ayolah, kalian berdua itu terlalu keras kepala dan penurut. untuk apa menjalani semua ini jika kalian tertekan dan tidak pernah bahagia?" celetuk Renata menyarankan.


Tak ada tanggapan yang jelas setelah kembali mengatakan kalimat demikian pada Sandra. karena sebelumnya, Dokter cantik tersebut sudah sering kali menegur kekasihnya, Christian. Namun, kedua adik berkakak tersebut tetap tak mendengarkannya.


Christian dan Sandra terlalu khawatir akan kehidupannya setelah mereka menentang segala keinginan orang tuanya. tak menampik, Sandra dan Christian memang takut jika mereka tidak bisa menikmati hidup setelah segala harta dan kekuasaannya di cabut.

__ADS_1


"Aku mengerti, Renata benar. kau harus membuat orang tuamu bangga atas kebahagiaanmu. jangan hidup di bawah tekanannya." ujar Karina memberikan saran serupa seperti Renata.


"Terserah, itu hidupmu." sejenak Renata melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "Aku ada jadwal control, setelah selesai aku akan kembali kesini." imbuh Renata melangkah berlalu meninggalkan ruangan.


Sandra dan Karina pun mengangguk seolah mengiyakan.


"Christian memanggilku, sepertinya ia akan menegur karena aku tidak datang untuk pengoperasian." sejenak Sandra melirik dan meraih selang infus Karina, mengatur kecepatan tetesan cairan infus. "Renata benar, aku yakin ini karena kau terlalu mabuk semalam."


Karina menggigit bibir bawahnya seolah berpikir. ia tak mengingat apa yang ia tanyakan. Namun, rasanya Karina harus menanyakan sesuatu pada Sandra. sebab semalam, Sandra hanya minum sedikit tidak seperti Karina dan Renata.


"By, Karina. setelah jam makan siang aku akan kembali." imbuh Sandra berpamitan.


"Tunggu,"


Sandra mengerutkan dahinya, menatap Karina dengan sorot mata heran. "Kenapa? kau tidak ingin aku tinggalkan?"


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu?" ujar Karina gugup.


Karina menggelengkan kepalanya hingga membuat Sandra kembali melangkah lebih dekat mendekati Karina. sejenak wanita cantik itu pun menelan salivanya dengan bersusah payah lalu berkata. "A... apa aku semalam meracau?"


"Semalam?" Sandra memperdalam lipatan di dahinya, "apa itu saat kau mabuk?"


"Ya," sahut Karina cepat tersenyum getir.


Sandra terkekeh, ia kembali di ingatkan dengan tingkah Karina semalam yang begitu menggelikan. "Ahahaa, aku ingat. kau mengutuk seseorang, lalu kau mengatakan jika kau sangat mencintainya," Seketika ekspresi wajah Karina berubah. "dan kau tak ingin di tinggalkan."


"Si... siapa? apa aku menyebutkan namanya?" tanya Karina memelas.


"Nicho, Nicko, atau Niko? intinya itulah."

__ADS_1


"Aish," Karina memelas sambil menutup wajahnya. "dia pasti berbohong semalam, ini memalukan." rengek Karina frustasi.


Merasa cukup, Sandra akhirnya keluar dari ruang perawatan Karina tanpa mengambil pusing ekspresi dan kecemasan Karina setelah ia menjawab seluruh pertanyaannya. sepertinya, Sandra harus mempersiapkan diri untuk mengahadapi amukan Christian. meskipun semua orang menganggap Sandra adalah orang yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab. Namun, Sandra memiliki alasan sendiri karena tak ingin terlibat dalam operasi gagal yang ia lakukan. sebelum itu semua terjadi, ada baiknya Sandra harus mengamankan posisi. lagi pula, dia bukanlah satu-satunya Dokter spesialis organ dalam di rumah sakit tersebut.


"Syukurlah kau sudah sadar,"


"Ahhh..." Karina menjerit saat Nicko tiba-tiba saja masuk dan mengejutkan dirinya.


"Kenapa?" Nicko menghentikan langkah dengan ekspresi wajah datar keheranan. "apa aku sudah menakutimu? kau selalu saja berteriak setiap kali melihatku."


Karina langsung menutupi seluruh badannya menggunakan selimut. sungguh, ia tak bisa membayangkan betapa gilanya Karina semalam saat mabuk di hadapan Nicko sambil meracau.


"Apa kau masih marah? maaf karena aku sudah mendesak mu untuk melakukan operasi itu." lirih Nicko mendudukan bokongnya di kursi sebelah ranjang tempat Karina berbaring.


Karina mengerjap, ia yakin jika wajahnya pasti sudah merona. itu sebabnya Karina menyembunyikan wajah cantik tersebut agar Nicko tak mengekpose-nya.


"Aku membawa sarapan, kupikir masakan rumah sakit terasa sangat hambar. jadi aku keluar untuk membelinya," imbuh Nicko menyentuh selimut Karina dan hendak membukanya. "Karina? kau baik-baik saja?" tanya Nicko memastikan setelah selimut tersebut di tahan seolah tak boleh untuk Nicko membukanya.


"A... aku baik," sahut Karina terbata.


"Ayo sarapan, pagi tadi kau hanya mencicipi bibirku. aku tahu itu lebih memuaskan, tapi kau harus tetap mengisi perutmu." seloroh Nicko menggoda.


Karina merapatkan bibirnya, ia kembali mengingat kejadian itu pagi tadi. "Astaga, kenapa dia membahasnya. memalukan," batin Karina memelas.


"Karina apa kau pingsan?" tanya Nicko menarik paksa selimut yang menutupi wajah Karina.


"Tidak, jangan di lepas," pekik Karina menutupi wajahnya dengan tangan.


"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Nicko penasaran meraih tangan Karina guna menatap wajah Karina.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTENYA. SEMANGATKU TERGANTUNG ANTUSIASME KALIAN🄰


__ADS_2