Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 70


__ADS_3

Deg... ekspresi wajah Sandra berubah seketika, saat merasakan jika Johan justru malah mengh*isap bibirnya. yang menandakan jika pria tersebut telah sadar dan baik-baik saja.


Spontan Sandra menarik dirinya menjauhi Johan diikuti oleh pria tersebut yang langsung menangkap tangan kekasihnya.


"Lucu sekali, kau membodohiku! seharusnya aku membiarkanmu mati tenggelam saja!" celetuk Sandra penuh kekesalan.


Apa ini kepribadian yang tertukar? Johan sering kali memikirkan hal tersebut. karena citra Sandra dan masa lalunya cukup baik. sangat bertolak belakang dengan gaya bicaranya yang sangat kasar dan terang-terangan. lain dengan Helen. kebiasaan buruknya seolah bisa tertutupi dengan gaya bicaranya yang lembut dengan emosi tak mudah meluap.


Johan kembali memutar otaknya. "Sadar Johan, dia adalah Sandra. bukan Helen! cara untuk menghadapinya juga tentu akan berbeda." batin Johan terengah-engah.


"Sandra tolong dengarkan aku." Johan memalingkan wajah Sandra perlahan agar membalas tatapannya, "Aku tahu aku salah. tidak hanya itu, hubungan yang kita jalani terjadi begitu saja. tanpa adanya pendekatan atau bahkan saling mengenal lebih dalam satu sama lain. aku harap kau bisa me..."


"Memangnya aku yang meminta hubungan ini terjadi? kau yang memulainya! aku hanya menyetujuinya saja. jika aku tahu akhirnya akan begini, mungkin aku tak akan pernah menyetujui mu kala itu!" gerutu Sandra menyela ucapan Johan yang belum terselesaikan.


Johan mengangguk pasrah, karena tak ingin larut dalam pertengkaran. semua itu ia lakukan untuk mencegah adanya pemutusan hubungan, meskipun sebelumnya kalimat perpisahan sudah Sandra lontarkan. "Maafkan aku," Johan meraih tangan Sandra dan menggenggamnya, pria itu memberanikan diri untuk membawa Sandra kedalam pelukannya. "Ayo kita coba sekali lagi, berikan aku kesempatan untuk lebih memahami mu." tukas Johan penuh kelembutan.


Sandra terpaku, meskipun tak yakin. Namun, pernyataan Johan terdengar sangat begitu tulus. Sandra tahu, jika Johan adalah pria yang baik. bahkan setiap kontak fisik yang keduanya lakukan selalu saja Sandra yang memulai.


"Mulai sekarang, kau harus mengatakan segalanya padaku." Johan mengelus wajah Sandra perlahan, mengikiskan rambut halus yang menutupi wajah sang empu. "Sesuatu yang kau sukai, mulai dari makanan dan yang lainnya. aku akan belajar menjadi pria yang kau inginkan. beri aku waktu." imbuh Johan meyakinkan.


Detak jantung Sandra berpacu dengan cepat. pandangannya tak lepas dari kesempurnaan yang di miliki Johan. polos, lugu, tampan dan berkharisma. sepertinya keputusan yang ia buat sebelumnya sukses mengundang rasa penyesalan. sulit untuk Sandra pungkiri, sepertinya ia benar-benar sudah jatuh cinta pada kekasihnya.


***


"Mama itu, Bibi Karina." Anna memekik sambil menunjuk kearah Nicko dan Karina.


Suara Anna memang sudah sangat familiar bagi Karina. dengan mudahnya wanita cantik itu bisa mengenali sang ponakan sambil melirik ke sumber teriakannya. Nicko menciptakan senyum kemenangannya, ia lantas melambaikan tangan pada Anna, Maria dan juga Jade untuk segera menghampirinya.

__ADS_1


Karina mengalihkan sorot matanya kearah Nicko, "Ini kebetulan atau..."


"Aku yang sudah mengundang mereka. sayang sekali, tapi Johan sepertinya tak bisa bergabung." ucap Nicko yang sukses membuat Karina berpikir.


"Be... bergabung?" sungguh, Karina semakin di buat kebingungan. untuk apa Nicko mengundang mereka semua? bukankah ini hanya kencan yang tidak di sengaja? lagi pula. hal seperti ini sudah sering kali mereka lakukan bersama.


"Paman, dimana wanita pemarah itu?" celetuk Anna sambil mendudukan bokongnya.


Jade berdecak kasar menyorot sang putri dengan tatapan mematikan.


"Maaf, Papa." lirih Anna memelas menundukkan kepalanya.


Dari arah lain, terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang mengabsen setiap penjuru kursi mencari keberadaan seseorang. siapa lagi jika bukan Rose? kedatangannya juga tak lain untuk memenuhi undangan sang buah hati. entah apa yang akan Nicko rencanakan. Rose akan melihat, bagaimana putra menyebalkannya tersebut beraksi.


"Mah, Disini." ucap Nicko mendirikan tubuhnya.


Deg... seketika perasaan Karina menjadi tidak karuan saat Nicko berteriak pada seorang dengan memanggilnya Mama. sejujurnya, Karina memang belum siap untuk menemui Ibu dari kekasihnya tersebut. karena sebelumnya, Karina pernah menoreh kekecewaan meskipun semua itu bukan sepenuhnya kesalahannya.


"Selamat malam, maaf sudah membuat kalian menunggu." ucap Rose pada semua orang lalu melirik kearah Nicko yang tengah mempersiapkannya duduk.


"Nyonya Rose semakin cantik saja, bagaimana kabarmu?" tanya Maria mencoba memecah kecanggungan. sungguh, wanita beranak satu itupun masih menyimpan rasa malunya akibat sang adik pernah berlaku tidak sopan beberapa waktu lalu.


Rose tersenyum simpul seraya berkata, "Kau cukup pandai merayu, ternyata."


Melihat kegelisahan Karina, Nicko tentu tak tinggal diam. pria tersebut lantas menggenggam erat tangannya, hingga membuat Karina kembali melemparkan pandangan terhadapnya.


"Sebelumnya aku mohon maaf, karena sudah membuat kalian terkejut. sebelum aku melamar Karina, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian agar tidak terjadi kesalahpahaman." ucap Nicko dengan sangat percaya diri.

__ADS_1


Mereka semua memang sudah mengetahui jika hal ini akan terjadi, kecuali Karina. mendengar pernyataan dari kekasihnya, justru membuat Karina semakin terperangah. Karina menelan salivanya dengan bersusah payah, "Ti... tidak!" pekik Karina menyela.


"Tidak?" ucap Maria dan Rose berbarengan.


Karina terlihat kikuk, ia tahu apa yang Nicko maksud tetang mengatakan sesuatu sebelum pria itu akan melamar Karina. itu semua pasti mengenai masa lalu keduanya.


"Tidak, apa-apa sayang. tenanglah." ujar Nicko menenangkan sambil mengelus bahu sang empu.


Karina menggelengkan tatapannya, seolah memberikan isyarat jika hal tersebut tak perlu Nicko lakukan.


"Tenanglah,"


Spontan Karina memalingkan wajahnya kearah Rose saat wanita paruh baya itu turut menyentuh bahu Karina dan berusaha membantu Nicko untuk menenangkannya. ternyata Rose tak seburuk apa yang Karina bayangkan. ia tampak jauh lebih tenang seolah menilai tindakan cerobohnya di masa lalu adalah sesuatu yang wajar.


"Aku ingin menjalin hubungan yang di dasari dengan kejujuran. Karina dan diriku pernah tersandung masalah yang cukup serius. aku pernah melakukan kesalahan yang cukup sulit untuk Karina maafkan." tutur Nicko sambil sesekali melirik kearah Jade, Maria dan Ibunya.


"Kesalahan apa? jadi apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal?" secara spontan Maria mempertanyakan itu semua saat rasa penasarannya berhasil tercuat.


Nicko menganggukan kepalanya, "Karina pernah..."


"Cukup, Nicko. itu semua tak perlu kau bicarakan!" tegas Karina memotong pembicaraan. sungguh, yang Karina takutkan adalah jika Maria dan Jade akan menaruh rasa kekecewaan. lantaran masalah tersebut bukan sesuatu yang bisa di anggap remeh oleh sebagian orang.


"Biarkan dia mengatakan segalanya


keluargamu berhak tahu, Karina." ucap Rose menyambar.


"Apa yang terjadi, Karina? kenapa kau terlihat sangat ketakutan?" tanya Jade tak kalah penasaran. sejenak pria itu melirik kearah Nicko, "apa ini alasan mu, saat kau memintaku untuk menjodohkan mu dengan Karina?"

__ADS_1


Nicko mengangguk, ia benar-benar sudah tak ingin menyembunyikan apapun setelah memutuskan untuk menjalin keseriusan dengan Karina.


LIKE KOMEN DAN VOTEE...


__ADS_2