
"Ka... kalian memiliki hubungan?" tanya Karina kikuk terbata.
Astaga apa ini? dulu Karina sempat mengira jika Johan telah menyimpan perasaan padanya. Namun, sepertinya Karina sudah salah mengartikan kepedulian Johan. karena pria itu ternyata mengejar Helen, bukanlah Karina. mungkin jika saat itu Karina menolak Nicko dan memilih untuk menunggu Johan, ia juga hanya akan mendapat kekecewaan.
"A... apa yang terjadi?" tanya Nicko kikuk setelah melihat keadaan Helen yang cukup memprihatinkan.
"Tunggu," Johan menatap heran kearah Nicko dan Karina secara bergiliran. "Kalian sudah kembali?"
"Belum, tapi akan." sahut Nicko sambil melingkarkan tangannya secara tiba-tiba dari belakang, di atas perut Karina.
"Cukup, Nicko!" Karina memberontak mendorong pria tersebut agar segera menjauhinya, "Aku peringatkan jika kau masih ingin disini. tolong jaga sikapmu," tegas Karina mengancam.
Sebagai seseorang yang sudah pernah menaklukan hati Karina. Nicko pun tahu, apa dan bagaimana cara yang harus ia lakukan untuk mendekati wanita itu. penuh kesabaran Nicko sematkan di dalam hatinya. Nicko sudah selangkah lebih dekat dengan Karina. ia yakin, cepat atau lambat Karina akan menyadari dan mengerti jika pengejaran yang Nicko lakukan adalah bentuk dari ketulusan cintanya.
"Ayolah, Kar..." Nicko menghela nafas panjang, sejenak ia terdiam kemudian berkata. "Oke, maaf."
Tatapan sinis yang Karina berikan seolah telah menjawab segalanya. wanita itu sama sekali tak menanggapi permohonan maaf yang Nicko lemparkan. mungkin ini adalah ke ratusan kalinya pria itu memohon. Namun, hal itu sama sekali tak berpengaruh. Karina tetap bisa mengigat dengan jelas, bagaimana pria tersebut merencanakan sesuatu yang jahat padanya.
"Jo... Johan," Helen memangil nama kekasihnya dengan deruan nafas yang terasa sangat berat. "A... aku sesak," keluh wanita tersebut tak berdaya.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Karina langsung menghampiri Helen dan memeriksa keadaannya. "Apa yang terjadi? apa emosinya tidak stabil?"
Johan mengangguk, penuh kecemasan pria itu menjawab. "Ia bertengkar dengan Dokter Sandra, Helen menuduh ku dan Dokter itu menjalin hubungan karena kami terlihat selalu bersama."
Karina berdecak, ia langsung memasang alat bantu pernafasan lalu memandang wajah Helen dan mengelus pucuk kepalanya perhatian. "Apa kau tidak bisa memikirkan kesehatanmu? untuk apa kau mencurigai Johan? aku tidak akan memihak siapapun, karena pria manapun memang selalu membuat masalah." celetuk Karina menyindir.
"Karina, itu sama sekali tidak benar. Helen terlalu mengaitkan segala sesuatu dengan penyakitnya. ia bahkan berpikir, jika aku ini hanya kasihan padanya." timpal Johan menjelaskan, "tolong buat dia mengerti. aku dan Helen sudah menjalin hubungan, jauh sebelum Helen menderita sakit."
Nicko menghela nafas kasar, ia menepuk bahu Johan seolah mengerti tentang keluhan yang Johan katakan. entah sejak kapan, kedua pria itu terlihat begitu sangat dekat. "Aku mengerti, wanita memang hanya bisa melihat satu kesalahan saja, tanpa memikirkan apa yang sudah pria itu korbankan." ujar Nicko membalas sindiran Karina.
"Oh, jadi maksudmu. kami para wanita harus menghargai apapun yang di lakukan pria begitu? meskipun pria itu sudah membuat kesalahan yang fatal? jangan mimpi Nicko! kalian para pria belum tentu akan mengerti, jika hal itu terjadi pada diri kalian sendiri." sahut Karina menyeringai dengan tatapan terluka.
"Sayang, kau sama sekali tidak pernah memberiku kesempatan. bagaimana aku bisa membuktikan ketulusanku, jika kau terus saja menyudutkan ku seperti ini." tukas Nicko membujuk.
Dari gaya bicara Karina yang begitu berapi-api. Helen pun meyakini, jika Nicko belum mendapat penerimaan maaf dari Karina. gaya profesional Karina cukup membuat Helen kagum. ia tahu, Karina pasti juga sangat membencinya. Namun, atas dasar tanggung jawab pekerjaan. Karina mampu menepis kebencian tersebut lalu bersedia menjaga dan merawat Karina sebagai seorang pasien.
"Ka... Karina," setelah kedua pria itu keluar, Helen meraih tangan Karina hingga sukses membuat sorot mata Karina beralih menatapnya.
"Kenapa? apa kau merasa sesak lagi?" tanya Karina khawatir.
__ADS_1
Helen mengalirkan setetes sir matanya. ia mengelus tangan Karina kemudian berkata, "To... tolong maafkan aku," lirih Helen memohon.
Astaga, bagaimana Karina menghadapinya. keadaan Helen cukup menyedihkan, hingga Karina sendiri sampai tidak tega jika harus mengabaikannya.
"Hentikan Helen, jika kau menangis. kau hanya akan membuat nafas mu kembali sesak." sahut Karina dengan mata yang menggenang.
Helen terus memperkuat genggaman tangannya pada Karina, air matanya semakin deras saat wanita itu berkata. "Maafkan aku, aku menyesal. biarkan aku pergi dengan tenang, aku tahu penyakit ku akan sulit untuk di sembuhkan."
Ucapan Helen terdengar mengarah kepada rasa keputus asaan. hingga sukses membuat Kariba merasa sangat jahat, saat mengabaikan permohonan orang yang sedang sekarat sebelumnya.
"Dengar, kau akan sembuh. tidak akan terjadi apapun padamu, percayalah padaku." ucap Karina menenangkan, ia pun tak kuasa menahan kesedihan tersebut lalu Karina langsung memecah tangisan memeluk erat tubuh Helen.
"Aku bersalah, Karina. tolong maafkan aku," isak Helen.
Karina mengangguk, ia menghapus air mata deras Helen lalu berkata. "Aku akan melupakannya, aku memaafkan mu, Helen."
"Umurku tidak lama lagi, ini adalah kesempatan terakhirku untuk meminta maaf padamu. maaf Karina, maaf."
Johan dan Nicko yang menyaksikan hal itu di luar pun merasa jika Helen sudah kehilangan semangat untuk sembuh. kedua pria itupun turut merasakan kesedihan dengan cara pikir yang berbeda.
__ADS_1
"Ini terasa sangat menyakitkan, tapi Dokter manapun sudah mengatakan jika kemungkinan Helen untuk sembuh sangatlah sedikit." ujar Johan tidak berdaya.
"Apa aku harus sakit seperti Helen? agar Karina dapat menerima permintaan maafku." celetuk Nicko putus asa.