
Entah Renata harus mempercayai Karina atau tidak. saat melihat Karina sering di jemput dan di antar oleh pria yang wanita itu sendiri katakan pernah menghancurkan hidupnya. bagaimana Renata akan percaya? mendengar cerita dari Karina itu semua terasa sangat menyakitkan. Karina menghardik dan sering kali mengatakan sesuatu yang buruk terhadap Nicko di hadapan teman-temannya. Namun, sepertinya hubungan mereka tak seburuk itu.
"Sedang apa?" tanya Sandra menepuk bahu Renata secara tiba-tiba.
Renata tersentak, wanita itu langsung melirik kearah Sandra sambil mengelus dadanya. "Kau, dasar mengagetkan saja."
"Aku memanggilmu dari ujung sana, tapi kau tak kunjung menjawab." Sandra menatap kearah sudut yang sama seperti yang Renata tuju, "Kau sedang memperhatikan Karina?" tanyanya santai.
Renata mengangguk, kemudian menjawab. "Kau lihat itu? dia bilang pria itu adalah yang terburuk. tapi sepertinya mereka terlihat mesra dan baik-baik saja." celetuk Renata ragu dan berpikir, jika semua yang di ucapkan Karina hanya untuk menakut-nakutinya saja.
"Hust," Sandra memincingkan matanya menatap Renata. "Ambil sisi positifnya saja, kita tidak pernah tahu bagaimana Karina dan pria itu bisa kembali terlihat akrab. bisa saja, mereka sedang memperbaiki hubungannya."
"Baiklah, kau memang sudah menjadi sekutunya sekarang." celetuk Renata meledek kemudian berlalu.
Senyum hangat Nicko lemparkan terhadap Karina yang baru saja memasuki mobilnya. seolah tak bosan, Nicko bahkan selalu saja menyempatkan waktunya untuk sekedar mengantar dan menjemput Karina. dalam kondisi sesibuk apapun.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu." ucap Karina terduduk di samping kursi kemudi membalas senyuman.
Nicko mengangguk santai, pria itu lantas menginjak pedal gas guna melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan, Nicko dan Karin hanya terdiam. keduanya saling menunggu satu sama lain untuk memulai pembicaraan. tak menampik, Nicko memanglah sedang menaikan sedikit harga dirinya. ia bahkan nyaris tak mau mengalah dalam hal apapun guna menguji kesabaran Karina.
"Euhh aku..." Karina melirik kikuk kearah Nicko dengan tangan yang terus meremat ujung rok selututnya.
"Katakan,"
__ADS_1
Bibir Karina terasa kelu seketika, saat Nicko meraih tangan Karina dan menggenggamnya sambil mengemudikan kendaraan. "I... ini,"
"Ada apa?" tanya pria itu santai.
Jantung Karina berpacu, seluruh tubuhnya terasa begitu merinding begitu Nicko memainkan ibu jarinya untuk mengelus punggung telapak tangan Karina.
"Kau sudah makan?" imbuh Nicko melemparkan kembali pertanyaan, saat pertanyaan sebelumnya tak kunjung di jawab oleh Karina.
Karina hanya menggeleng, kegugupannya benar-benar terlihat jelas hingga membuat Nicko langsung memiringkan senyum kemenangan.
"Ohhh," sahut Nicko melepaskan genggaman yang langsung membuat ekspresi wajah Karina berubah seketika.
"Lalu?" Karina menajamkan tatapannya, sejenak wanita cantik tersebut berdecak sebal sambil mengerjap. "Astaga, aku pikir dia akan mengajakku makan malam, ternyata dia hanya bertanya." batin Karina kesal.
Nicko mempercepat laju kendarannya. ia memang tipekal pria yang perhatian, lembut dan penyayang. Namun, Nicko gagal dalam mengenali sikap dan keinginan Karina. ia cenderung menganggap remeh masalah kecil yang pada akhirnya akan menyulitkan Nicko sendiri.
"Kari..." Brugh... ucapan Nicko terhenti saat Karina membanting pintu mobil Nicko begitu saja lalu pergi melangkah menjauhinya. "Karina, tunggu," pekik Nicko setelah mengunci kendaraan dan mengejar Karina. "Hey..." Nicko meraih tangan Karina menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya heran.
Sebagai seorang wanita yang bergengsi tinggi, Karina hanya tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya dan bersikap seolah tak terjadi apapun.
"Jika ada masalah katakanlah, jangan menyembunyikan ataupun menyimpan itu semua sendiri." ujar Nicko sambil mengelus wajah cantik Karina yang justru semakin memicu rasa kesalnya.
Apa ini? Karina mengeratkan giginya dengan tatapan yang menajam. Nicko terus dan selalu saja bersikap manis layaknya seorang pria terhadap kekasihnya. Namun, pada kenyataannya pria itu tak kunjung meminta Karina untuk kembali menerimanya. bahkan kalimat manis penuh cinta dari Nicko sudah Karina tunggu sejak lama.
"Sudahlah," Karina mendorong Nicko, ia langsung memutar badan dan kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Sayang..." Nicko memeluk Karina dari belakang, pria itu menempelkan wajahnya di atas bahu Karina sambil bermanja. "jangan marah," pinta Nicko memohon gemas.
"Cukup, Nicko! bagaimana jika orang lain melihat!" gerutu Karina melepas paksa tangan Nicko yang melingkar di atas perutnya.
Nicko menggelengkan kepalanya, ia lantas memutar badan Karina lalu memangkas jarak dengan cara menekan pinggang sang empu.
"Nicko," Mata Karina membulat saat wajahnya dengan pria tersebut hanya terpaut beberapa inci saja. "Le... lepas, apa yang akan kau lakukan?" cecar Karina cemas.
"Semua orang disini, mereka tahu jika kita adalah pasangan suami dan istri. kenapa kau takut? keintiman memang harus dilakukan oleh setiap pasangan bukan?" goda Nicko dengan sangat genit.
Karin menggelengkan kepalanya dengan cepat setelah mendengar pernyataan konyol pria tersebut. "Jangan sembarangan bicara, kau hanya membodohi mereka. kita bahkan bukan..." Karina menghentikan ucapannya dengan bola mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Bukan apa?" Nicko mengerutkan dahinya dan semakin menekan punggung Karina saat pria itu ingin mendengar kalimat terakhir yang tak berhasil Karina ucapkan.
Karina menghela nafas panjang lalu menjawab, "Bukan pasangan!" tegasnya lantang.
Nicko langsung melepaskan tubuh Karina dan melangkah meninggalkan wanita itu begitu saja sambil berkata. "Aku sudah memutuskan, kita adalah pasangan mulai sekarang!" tegasnya dingin penuh penekanan.
Karina membuka mulutnya seolah terkejut keheranan. "Pasangan?" Karina memekik mencoba menghentikan Nicko sambil mengekornya, "Aku bahkan belum menyetujuinya."
"Aku adalah calon kepala keluarga! Segala sesuatunya aku yang akan memutuskan. dan kau," Nicko memutar badan sambil menunjuk kearah wajah Karina. "Kau hanya harus mematuhi segala keputusanku, dilarang membantah dan protes!"
"Hah?" Karina semakin dibuat keheranan setelah mendengar pernyataan Nicko. wajahnya terlihat datar seolah tak mengerti dengan apa yang barusan Nicko katakan. sungguh, Karina terlihat sangat menggemaskan. ekspresinya seperti itu adalah ekspresi yang paling Nicko sukai.
Ingin rasanya Nicko mencubit gemas Karina lalu mengulu*m bibir manisnya yang berwarna merah muda. dalam keadaan apapun, Karina benar-benar sangat menggoda, Nicko bahkan selalu di buat kesulitan untuk menahan hasratnya agar tak bergejolak setiap kali sedang bersama dengan wanita tersebut.
__ADS_1
LIKE KOMEN YANG BANYAK DAN VOTENYA DONG:)