
"Ashh..." Karina meringis sakit dalam.keadaan mata yang masih terpejam. rasanya masih sangat terlalu pagi. Namun, sengatan mentari yang berhasil menembus gorden apartemennya berhasil membuat Karina sadar dari tidurnya. "Ah...." Karina menjerit, bola matanya melebar seketika saat ia melihat dengan jelas jika sudah ada Nicko berada di hadapannya.
"Kenapa? apa kepalamu sakit?" tanya Nicko santai mengerutkan dahi.
Karina mengalihkan sorot matanya. ia mengamati setiap detail ruangan, bersih, rapi dan tidak berantakan. bagaimana mungkin? seingat Karina. seluruh ruangan ini sudah di gunakan untuk berpesta, dengan maksud meringankan beban pikiran bersama Renata da Sandra.
"Kau tenang saja, aku semalam datang untuk meminta air panas. tapi..."
"Tapi..." Karina menyela dengan mata membulat penasaran.
"Tapi saat membuka pintunya, kau sangat mabuk. untuk berjalan saja kau kesulitan."
"Ah..." Karina memelas mencoba menyembunyikan wajahnya. wanita itu sama sekali tidak mengingat apapun, bahkan saat Renata dan Sandra pergi meninggalkannya, "Astaga," Karina menelan salivanya kemudian berkata. "Apa... apa semalam aku... aku melantur?" tanya Karina kikuk.
Nicko menggerakkan bola matanya seolah berpikir, ia tak langsung menjawab pertanyaan Karina. Namun, pria itu langsung menyerahkan segelas teh hangat yang sudah tersedia guna meringankan sakit kepala yang Karina derita.
"Minumlah, apa kau tak bekerja?" tukas Nicko mengalihkan.
"Apa yang aku katakan? apa aku melantur? cepat jawab aku." rengek Karina cemas.
Nicko menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak. kau tidak melantur, kau semalam tidur setelah jatuh."
"Hah, jatuh? dimana?" cecar Karina merona.
"Pelukanku," sahut pria itu menggoda.
Karina tertegun, ia mengarahkan tangan lalu menepuk wajahnya perlahan. seperti mimpi, tapi sepertinya ini adalah kenyataan. Nicko kembali ke tabiat aslinya sebagai seorang pengejar. padahal, sebelumnya Nicko malah menawarkan hubungan pertemanan. setelah lelah dan menyerah untuk mendapatkan Karina kembali ke pelukannya.
__ADS_1
Beberapa waktu sebelumnya...
Seharian penuh Nicko tidak mengunjungi Karina dengan alasan pekerjaan. akhirnya, setelah jam sepuluh malam pria itupun berinisiatif untuk menemui Karina sambil membawa cangkir untuk menjadikan air panas sebagai alasan.
Setelah pria itu berada tepat di pintu apartemen Karina. ia langsung menyembunyikan bel dan sesekali mengetuknya.
"Mmm..." mata Karina menyipit, wanita yang sudah kehilangan setengah kesadarannya tersebut terus memandang Nicko setelah pintu terbuka, "Kau, masuklah. aku sudah menunggumu." ucap Karina melantur. seseorang yang sedang dalam pengaruh alkohol memang cenderung berkata jujur.
Nicko keheranan, pria itu mengekor masuk sambil berjaga-jaga di belakang tubuh Karina. karena takut jika Karina akan kehilangan keseimbangan saat berjalan.
"Apa ini? kau mabuk? merokok?" gerutu Nicko saat pria itu melihat begitu banyak botol vodka kosong dan puntung rokok di atas asbak dengan bara yang menyala.
"Hey..." Karina menunjuk kesal kearah Nicko dengan posisi tubuh tidak seimbang. "Ini semua karna kau, jika saja kau tidak menyerah, kau tetap terus mengejar ku. mungkin aku tidak akan begini," celetuk Karina tidak sadar.
"Kenapa aku harus mengejar mu? bukankah kau sudah menolak ku?" sahut Nicko memancing dengan sengaja guna mendapat pengakuan Karina yang lainnya.
Nicko tertegun, ia meraih tangan Karina lalu membalas belaian tangan wanita tersebut. "Kau serius? apa jika dalam keadaan sadar kau akan tetap mengatakan ini padaku?"
Cup, kecupan lembut Karina daratkan di bibir manis Nicko. dengan sangat nakal Karina menekan tengkuk pria itu guna memperdalam ciuman yang ia berikan. tubuh keduanya sampai terhempas ke atas ranjang dengan posisi Nicko yang tertind*ih oleh tubuh Karina. Sejenak Karina melepaskan ciuman, mengukir senyum tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku merindukan bibir ini," Karina menyentuh bibir Nicko dan mengelusnya. "Mata ini," wanita tersebut semakin menenggelamkan dirinya di dalam bola mata indah milik Nicko. "Seluruh bagian tubuhmu sangat aku rindukan," imbuh Karina memeluk erat.
"Baiklah," Nicko mengecup pucuk kepala Karina singkat. "tapi sebelum itu terjadi, kau harus mengganti pakaianmu terlebih dahulu,"
Nicko menggeser tubuh Karina, membaringkan tubuh tersebut sambil melucuti satu persatu pakaian yang menempel pada tubuh Karina. sebenarnya itu semua tidak kotor. Namun, bau alkohol yang Nicko rasa sudah tumpah membasahi sebagian pakaian yang Karina kenakan akan membuat keduanya tidak nyaman.
"Dimana pakaianmu?" tanya Nicko meraih sebuah tisu basah di atas rak buku Karina.
__ADS_1
"Kenapa harus menggunakan pakaian, bukankah kau lebih menyukai aku saat tel*anjang?" celetuk Karina sembarangan.
Nicko terkekeh, ia langsung mendekati Karina lalu berbisik. "Kau nakal saat sedang mabuk,"
"Mmmm, Ini bukan nakal, ini jujur." sahut Karina dengan mata yang berat.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tapi kau harus berjanji padaku." Nicko mulai membersihkan tubuh Karina sambil mengganti pakaiannya.
"Apa...?" Karina mencengkram tangan Nicko, seolah enggan untuk di tinggalkan.
Nicko memiringkan senyumnya, meskipun tidak yakin. sepertinya ia harus memberikan tantangan ini pada Karina. ucapan Karina sebelumnya memang terdengar meyakinkan. Namun, tidak ada salahnya Nicko memanfaatkan kesempatan untuk mendapat kebenaran lain dari Karina.
"Katakan jika kau menginginkanku dalam keadaan sadar, katakan kau masih mencintaiku. kau ingin memelukku, sentuh bibirku dan cium saat kau sudah tak mabuk lagi," celetuk Nicko menantang.
Karina menganggukkan kepalanya dengan cepat, ia langsung merengkuh tubuh Nicko lalu berkata. "Aku tidak mabuk, aku hanya pusing. percayalah, aku masih belum bisa melupakanmu meskipun aku sudah berusaha untuk melarikan diri darimu." ungkap Karina merengek.
"Berikan aku satu ciuman, maka aku akan percaya."
Tanpa berbasa-basi, Karina langsung meraup bibir Nicko sambil mempererat pelukan. Nicko pun dengan senang hati membalas ciuman Karina. mereka saling menumpahkan kerinduan yang terpendam, meskipun saat itu Karina sedang berada dalam pengaruh minuman beralkohol.
Kecupan, luma*tan, keduanya saling memberikan balasan yang seimbang. tidak terelakan, aktifitas yang sedang Karina dan Nicko lakukan berhasil membuat pria tersebut berhasrat. Nicko menyusupkan satu tangannya bermain-main menjelajah dua gundukan dan perut rata Karina. suhu tubuh keduanya pun meningkat pesat.
"Mmm... Aku mengantuk," keluh Karina melepaskan ciuman.
Nicko mencoba membuat Karina sadar, ia tak ingin hal tersebut terhenti begitu saja. bibir lembut Nicko turun mengecupi setiap inci dada Karin, pria itu memainkan lidahnya di sana sambil mengulu*m gemas bagian kecil di pucuk gundukan sang empu.
"Sial!" Nicko berdecak kasar, Karina sama sekali tak memberikan reaksi apapun. yang berartikan jika wanita tersebut sudah terlelap dan berada jauh di alam bawah sadarnya. "Aku tak suka bermain sendiri," celetuk Nicko beranjak kesal menjauh.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTEEEENYAAA