Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 16


__ADS_3

Keesokan harinya. Nicko benar-benar kehilangan kendali saat pria itu mendapatkan sebuah pesan singkat dari Karina, yang mengatakan jika wanita tersebut tidak bisa memenuhi janjinya untuk mengambil keputusan dalam waktu yang sudah Nicko tentukan.


"Sial!" Nicko melempar ponselnya keatas ranjang penuh kekesalan, "gadis ini benar-benar sangat sulit untuk aku taklukan!"


Sejenak Nicko meraih sebotol anggur yang tersedia dalam lemari nakasnya. ia langsung menenggak minuman tersebut guna menenangkan emosinya yang mulai meluap.


Karina cukup kesulitan untuk mengenali perasaannya. bukankah sejauh ini ia tertarik pada Johan? tapi Karina sadar. selama dirinya mengenal Johan, Karina tidak pernah merasakan apapun seperti yang sering kali ia rasakan saat Karina sedang berada di samping Nicko.


"Tetapi jika aku menolak Nicko, belum tentu juga Johan tertarik padaku. nyatanya selama ini Johan tidak pernah mengatakan apapun, hanya perhatian dan kepedulian saja itu tidak cukup jika tidak adanya status hubungan yang jelas." gumam Karina memelas.


Karina mengacak rambutnya, sebenarnya apa yang ia takutkan? masalah ini hanya antara Nicko dan dirinya. kenapa ia harus memikirkan Johan? apa masalah pria tersebut? bukankah terlalu naif, jika Karina menolak Nicko dengan alasan ingin menunggu Johan.


"Argghhh..." Karina berteriak kesal, entah apa yang harus gadis itu lakukan. sulit baginya untuk memutuskan hal ini dalam waktu singkat. apalagi setelah Karina mengirimkan pesan itu pada Nicko, pria itu langsung mendesak Karina untuk segera menemuinya.


Bagaimana jika Karina menurut, Karina menemui Nicko dan Nicko langsung mencecarnya tanpa memberikan kesempatan pada gadis itu untuk berpikir.


"Datanglah ke danau pusat kota, aku menunggumu di sana. tapi jika kau tidak datang, maka itu artinya kau menolak ku."


Setelah membaca pesan yang Nicko kirimkan, Karina semakin merasa tidak karuan. ia lantas menutup tirai jendela kamar, agar Nicko tidak bisa lagi memperhatikan gerak-geriknya menggunakan teleskop dari gedung apartemen.


"Berpikirlah dewasa Karina, jangan berlari seperti seorang pengecut." sejenak gadis tersebut menghela nafas panjang untuk sedikit menenangkan diri, "Jika kau ingin menolak. maka katakan itu padanya, berikan Nicko alasan yang jelas. jangan menggantungkan harapan palsu padanya," imbuh Karina pada dirinya sendiri.


Mungkin kecemasan yang Karina rasakan sedikit berlebihan. Namun, ini memang yang pertama kali bagi Karina. untuk merespon seorang pria yang sedang mengincarnya.


Sesekali Karina berpikir, jika saja ia memiliki seorang Ayah yang baik dan bertanggung jawab. mungkin nasibnya tidak akan seperti ini. Karina selalu saja meragukan pria yang berusaha mendekatinya, lantaran tidak ingin hal yang menimpa sang ibu terjadi di kehidupannya.


Singkat waktu, Karina sudah terduduk di sebuah taman di pusat kota. tepatnya di tepian danau. satu jam lamanya Karina menunggu, tetapi Nicko masih belum datang. padahal pria itu sendirilah yang sudah membuat janji.

__ADS_1


Beruntung langit pada malam itu cukup cerah. sambil menghirup udara, Karina bisa menikmati kerlip bintang yang seolah sedang menyapanya. ia tak sendirian, tepat di sebelah kanan Karina terdapat beberapa pasangan yang sedang menikmati momen keromantisan. sedangkan di sisi kiri Karina terdapat pedagang kecil yang menjual berbagai macam manisan gula.


"Apa ini, sudah satu jam lebih aku menunggu. tapi dia masih belum datang." Karina meremat ujung dress yang ia kenakan dengan bibir yang mengerucut, "menyebalkan!" umpat gadis tersebut penuh kekesalan.


"Sayang..."


Deg... Karina terpaku, seluruh tubuhnya spontan bergetar saat ia merasakan jika ada seseorang yang memeluk Karina dari belakang. pria itu melingkarkan tangannya diatas perut rata gadis tersebut sambil mengecup singkat bahu telanjang milik Karina, yang mengenakan pakaian dress model sabrina.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama, sayang. ada pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggalkan," sejenak Nicko memalingkan tubuh Karina perlahan agar keduanya bisa saling berhadapan. "Apa ini artinya kau menerimaku?"


Bagaimana Karina menjelaskan ini semua? sebelumnya ia berniat untuk menolak Nicko, meskipun ia memutuskan untuk menemui pria tersebut. Karina hanya ingin, penolakannya dilakukan dengan cara yang terhormat agar tidak terlalu membuat Nicko dan perasaannya kecewa.


Tetapi saat Karina melihat pemuda itu ada di hadapannya. niat Karina seolah berubah, ia justru ingin menerima Nicko atas dorongan hatinya yang kini kembali memberikan reaksi.


Senyum kebahagiaan Nicko sama sekali tak memudar karena pria itu telah mengartikan jika kedatangan Karina berartikan sebuah penerimaan atas cintanya. Nicko meraih wajah Karina lalu mengelus wajah tersebut sambil berkata, "Ada apa Karina? kenapa kau terus saja diam?"


"Hey..." Nicko menenggelamkan dirinya di dua bola mata indah milik Karina. "Katakan dengan jelas, apa ada masalah?"


"Aku... sebenarnya..." ucapan Karina terhenti, saat tiba-tiba saja hujan turun mengguyur mereka berdua.


Nicko tertawa kecil, pria itu mendongakan kepalanya menatap kearah langit sambil membuka jas yang ia kenakan.


"Ini, kenapa?" Karina terlihat begitu keheranan saat Nicko memakaikan jasnya ketubuh Karina.


"Mobilku terparkir jauh disana, kau harus mengenakannya jika tak ingin sakit." tukas Nicko perhatian.


Astaga, Nicko benar-benar membuat Karina dilema. bagaimana mungkin Karina bisa menolaknya? meskipun sebelumnya Karina memang memiliki niat tersebut. tapi sepertinya, alam saja tidak mengijinkan Karina untuk menolak cinta Nicko padanya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menolak dan menjelaskannya pada Nicko," sejenak Karina mengerjap sambil melirik kearah samping di dalam mobil yang sedang Nicko kendarai. "Apa aku harus pasrah dan menyerah begitu saja untuk menjadi kekasihnya? ia tampak sudah menganggap jika kedatanganku adalah sebagai penerimaan." batin Karina memelas.


"Huh..." Nicko menghembuskan nafas kasar, saat ia tak bisa melihat dengan jelas jalanan. "Kenapa hujannya sangat deras?" gerutu Nicko berdecak sebal.


Karina melirik kearah Nicko, ia terus menggigit bibirnya seolah berpikir. sesaat gadis itu mengerjap. "Nicko, aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Karina memulai kembali pembicaraan.


"Katakan saja," sahut Nicko cepat sambil mengemudikan mobilnya.


Bola mata Karina melebar saat mobil terhenti. gadis itu justru malah melihat jika di depan kediamannya sudah terparkir mobil Johan. ia semakin cemas dan kebingungan, pasti Nicko akan mengatakan segalanya dan membuat Johan kembali mendinginkan Karina.


"Kita bicara di dalam saja, aku sudah sangat kedinginan." ucap Nicko penuh kelembutan mengelus pucuk kepala Karina.


"Bagaimana ini? kenapa Johan disini." batin Karina setengah prustasi.


"Ayo sayang, kenapa kau diam?" ucap Nicko dengan nyaring saat rintik hujan menyamarkan suaranya.


Tidak ada pilihan, sepertinya Nicko memang sudah di takdirkan untuk menjadi kekasih Karina. Karina benar-benar pasrah, entah apa yang akan Johan pikirkan setelah Nicko mengatakan jika dirinya dan Karina sudah menjadi pasangan kekasih. pasti Johan akan sangat kecewa terhadap gadis tersebut.


"Ki... kita pergi ke apartemen mu saja, bagaimana?" celetuk Karina mengusulkan.


"Apa?" Nicko mengerutkan dahinya dengan sorot mata kebingungan. "Kau tidak salah?"


"Aku..."


"Hey, Kalian."


Spontan Nicko dan Karina melirik ke ambang pintu utama saat Helen berteriak memanggil keduanya.

__ADS_1


"Lain kali saja, kita harus memberitahukan kabar baik ini pada Helen." ujar Nicko sambil membawa Karina masuk kedalam.


__ADS_2