
Beberapa waktu pun berlalu, Renata dengan santai menyodorkan sebuah surat pengunduran dirinya pada sang kekasih. semburan senyum kebahagiaan Renata tercipta. bahkan hal tersebut sepertinya di iyakan dengan baik oleh Christian sendiri, seolah sudah di rencanakan.
"Aku sudah mengurus perijinannya, semua tela di setujui. dan sisanya tergantung pada dirimu," ucap Renata menaruh besar kepercayaannya terhadap Christian.
Pria yang berstatuskan sebagai direktur di rumah sakit pun, hanya menganggukkan kepalanya. ia lantas memeluk tubuh Renata dengan penuh rasa bangga. salah satu hal yang membuat Christian kesulitan untuk melepaskan sang empu adalah. sikap kepercayaan diri yang dimiliki Renata sukses membuat Christian semakin menggila.
Di tempat lain, Karina dan Sandra sedang menyeruput secangkir kopi hangat bersama. sorot mata Karina terus mengarah pada Sandra yang sedang menceritakan keanehan yang dia rasakan terhadap Johan.
Bahwasannya, Johan berulang kali datang menemui Sandra hanya untuk meminta sebuah surat peninggalan Helen. bahkan sampai sekarang, Sandra sendiri belum membuka surat tersebut. Namun, Johan bersikeras mendesak Sandra agar segera memberikan surat tersebut padanya.
"Karina," Sandra memelas sambil melingkarkan tangannya pada tangan Karina. "bagaimana jika surat itu berisi ancaman? bisa saja tuhan Johan tak ingin aku membacanya karena takut jika pesan yang Nyonya Helen tinggalkan akan membuat aku ketakutan."
"Hust," Karina mengerjap dengan dahi yang mengerut. "Berhentilah berburuk sangka pada Helen, atau bisa saja dia menuliskan kalimat permohonan maaf karena sudah menuduh mu yang bukan-bukan." imbuh Karina dengan nada meyakinkan.
Bibir Sandra mengerucut sebal, pada kenyataannya pernyataan Karina tidak cukup untuk menghempas seluruh ketakutan yang Sandra rasakan. gadis itu justru malah memikirkan hal lain lagi sekarang.
"Hay..."
Karina dan Sandra spontan melirik ke sumber suara secara berbarengan.
"Dimana jas mu? apa kau sedang cuti?" tanya Karina pada Renata.
Senyuman Renata sama sekali tak memudar. kebahagiaan yang sedang ia rasakan begitu mudah untuk di kenali oleh setiap orang yang melihatnya. termasuk Karina dan juga Sandra.
"Bagaimana ciumannya?" celetuk Sandra senada meledek.
__ADS_1
"Hah?" Renata membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka, "Kau melihatnya?" imbuhnya bertanya.
"Tidak hanya aku, Karina juga melihatnya." sahut Sandra di ikuti anggukan oleh Karina.
Renata terlihat kikuk, pandangan Sandra dan Karina berhasil mengintimidasinya. sejenak Renata menelan saliva kemudian berkata, "Euu... anu, memangnya kenapa? singkatnya, kita wanita dewasa tidak mungkin belum pernah melakukannya." celetuk Renata santai.
"Astaga," Sandra membuka mulutnya sambil mempertegas tatapan. "Jadi kau dan Tian sudah..."
Renata mengangguk, sebelum Sandra menyelesaikan ucapannya wanita itu langsung menyela. "Aku sedang mengandung anaknya sekarang," ujar Renata sambil mengelus perutnya.
Sandra dan Karina terpaku. bagi Karina sendiri itu tidak terlalu mengejutkan, bahkan dirinya juga sudah merasakan apa yang Renata rasakan. sedangkan Sandra, ia merasa kakaknya adalah pria yang tidak tahu aturan, sampai berani menghamili Renata yang sudah jelas cinta mereka saja terpaut restu orang tua.
"Aku percaya," Karina mengangguk santai tanpa merasa jika yang Renata katakan bukanlah masalah besar. "Kau berciuman sangat ero*tis, itu cukup meyakinkan untuk ku."
Renata memiringkan senyumnya, "Jawabanmu cukup membuatku percaya, jika kau pernah melakukannya." Renata tersenyum gemas kearah Karina, "Kapan kau melakukannya? kau tahu? pertama kali bagiku, dan aku melakukannya bersama Christian. setelah ia tahu aku masih pera*wan, ia begitu sangat menyayangiku. dan berjanji akan menikahi ku," tutur Renata terang-terangan.
Renata menggelengkan kepalanya, cukup menyakitkan memang jika harus membahas masalah restu dengan Renata. Namun, kepercayaan Renata terhadap Christian sangatlah besar. keduanya bahkan sudah menyusun rencana untuk menikah dan membesarkan anak tersebut bersama.
"Bagaimana tanggapan mu Karina? kau percaya ini?" sejenak Sandra berdecak kesal, "Dia percaya begitu saja pada Tian. yang jelas-jelas sudah berulang kali mencoba meninggalkannya."
Karina tertegun, tatapan kosongnya mengarah pada Sandra lalu teralihkan pada Renata. seketika raut wajahnya menjadi datar saat ia kembali di ingatkan dengan masa lalunya yang terlalu menaruh besar harapan dan kepercayaan pada seorang pria.
"Apapun itu, kau harus tetap menjaga bayimu. jangan jadikan kekecewaan, rasa putus asa sampai membutakan segalanya. kesehatan dan keselamatan bayi itu adalah yang utama, jika suatu saat Christian mengecewakan mu, kau masih memiliki harapan pada bayi yang berada dalam kandungan mu." ujar Karina dingin.
Renata melirik kearah Sandra kikuk, sama halnya dengan Renata. Sandra juga terlihat bingung setelah mendengar pernyataan Karina yang sedikit ambigu.
__ADS_1
"Ke... kenapa kalian sangat yakin jika Christian akan membuatku kecewa?" tanya Renata terbata.
"Jangan pernah percaya pada seorang pria, mereka hanya menjanjikan sesuatu tanpa menjaminkan apapun. itu semua bahkan hanya rencana, dan rencana bisa berubah kapanpun jauh dari apa yang kita bayangkan!" tegas Karina memperingati.
"Apa ini, Karina? jangan berpikir jika semua pria itu sama. Christian itu berbeda," tukas Renata membela prianya.
Karina terkekeh, sebagai seorang yang berpengalaman. ia mengklaim jika pembelaan Renata pernah Karina sendiri lakukan saat Helen dan Johan memperingatinya.
"Sudah-sudah," Sandra mencoba melerai perseteruan antara Karina dan Renata yang berbeda pendapat. "Kau jalani hubungan sesuai kepercayaan mu pada kekasihmu, dan kau juga begitu." imbuh Sandra menatap Karina dan Renata bergantian.
"Baiklah," Renata beranjak kesal menatap tajam kearah Karina kemudian melangkahkan kakinya sambil menyetabilkan emosinya.
"Renata," Karina menatap sendu pada Renata mencoba menghentikan langkahnya. "Aku pernah ada di posisimu. aku hamil dengan penuh kebahagiaan, menaruh harapan pada kekasihku." sejenak Karina mengerjap, ia tersenyum getir disertai air mata yang mulai mengalir keluar dari pelupuknya. "Tapi dia membuatku kecewa, dan aku kehilangan bayiku."
Mata Renata dan Sandra membulat, keduanya terkejut sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan.
"Aku hanya tak ingin semua yang aku alami terjadi padamu," lirih Karina tulus dengan bibir yang bergetar.
"Karina," Sandra langsung menyentuh bahu Karina dan mengelusnya setelah melihat air mata Karina menetes. "Apa pria itu..."
"Ya," Karina mengangguk, ia tahu jika Sandra akan berpikir Nicko adalah pria yang di maksud.
Renata mendekati Karina perlahan, wanita cantik yang sedang berbadan dua itupun duduk tepat di sebelah Karina dengan raut wajah penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud, tapi aku..."
Karina mengangguk, ia lantas meraih tangan Renata lalu berkata. "Aku juga berharap kau tidak menjadi sepertiku, tapi aku hanya mengingatkan. jangan percaya begitu saja jika tidak ada jaminan."
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTE, MAAF YA GENGS, KEMARIN DARI LUAR KOTA. GAK BISA UPDATE😂