
Sulit untuk Karina percaya, jika dirinya kini telah kembali dalam pelukan Nicko. Lima tahun terasa sangat singkat untuk Karina lewati, meskipun kenyataan itu bertolak belakang dengan apa yang Nicko pikirkan.
Saat Karina memutuskan untuk membenci sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya, termasuk air panas. salah satu cara unik yang menjadi alasan untuk Nicko dalam mendapatkan Karina. sesekali Karina berpikir, jika perjalanan hidup dan kisah cintanya berkesan menarik. setiap harinya, Karina selalu mendapat momen menegangkan dan berkesan. entah itu baik atau buruk. Karina benar-benar sangat menikmati setiap pengalaman tersebut.
"Karina," Nicko memandang mata redup Karina penuh keseriusan.
"Ya?" Karina mendongak, menatap bola mata indah Nicko.
Entahlah, setiap kali berada dekat dengan sang empu. Nicko selalu merasa jika dirinya benar-benar akan sulit untuk di kendalikan. jantungnya selalu saja berdebar, suhu tubuhnya meningkat pesan. api cintanya seolah bergejolak.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucap Nicko lembut sambil mengelus bahu Karina.
Meskipun Karina tidak tahu apa yang akan Nicko bicarakan padanya. Namun, wanita tersebut begitu yakin jika pembahasannya akan terbilang cukup serius. sebab jika untuk sekedar berbasa-basi, Nicko pasti akan selalu memulainya dengan cara yang spontan.
"Katakan," sahut Karina kikuk. sungguh, Karina masih saja belum bisa melupakan kejadian di cafe beberapa saat lalu. ia telah memutuskan, mulai sekarang Karina akan belajar memahami Nicko. dari mulai bahasa tubuh dan perasaannya.
"Ini tentang keluargaku," imbuh Nicko dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.
Karina mengerjap, wanita cantik bergelar Dokter itu memang belum siap untuk mendengar hal ini. karena beberapa waktu lalu, Nicko juga sempat ingin membahasnya. Namun, Karina menolak karena rasa khawatirnya.
"Aku akan memulainya dari pertemuanku dengan Jade." ujar Nicko sambil mengelus pucuk kepala Karina guna menurunkan sedikit rasa cemas pada sang empu.
Beberapa waktu sebelumnya...
Pengejaran Nicko selama lima tahun tentu tidak hanya di isi dengan kisah tentang bagaimana pria tersebut mengikuti Karina pergi ke berbagai negara. beberapa tahun terakhir, Nicko memainkan keahlian bisnisnya untuk menggaet kembali Karina. ia secara khusus mendatangi Jade untuk menawarkan investasi dalam jumlah yang fantastis yang akan sangat menguntungkan untuk kedua belah pihak perusahaan.
Tawaran tersebut langsung di terima dengan baik oleh Jade tanpa bertanya alasan Nicko terlebih dahulu. Jade mengira, jika Nicko memiliki satu tujuan yang sama dengannya. untuk semakin memajukan perusahaan agar semakin berkembang.
__ADS_1
"Sebelum itu semua di sepakati, tolong atur pertemuanku dengan Adik Ipar mu yang bernama Karina." ucap Nicko mengajukan syarat.
"Karina?" Jade terkekeh lalu kembali berkata, "Kau tertarik padanya?"
"Aku pria lajang, aku dengar. kalian berusaha keras untuk menjodohkannya, aku harap itu akan berlaku untukku juga." tukas Nicko santai.
Alasan yang Nicko berikan memang terdengar cukup realistis. Namun, Jade tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan. "Hanya pertemuan?"
"Ya,"
Jade tersenyum kecut, "Kau yakin? dia memiliki trauma masa lalu. sepertinya ini akan sangat sulit."
"Jika kau tidak setuju, aku tak masalah. akan aku dekati dia dengan cara lain," Nicko beranjak guna memancing keputusan buntu yang hendak Jade sia-siakan.
Jade berdiri dari duduknya, menghentikan langkah Nicko yang meninggalkannya. "Baiklah, setidaknya kalian bisa mencoba."
Singkat waktu, Jade berhasil mengatur perjodohan Karina dan Nicko. meskipun saat pertemuan pertama yang Jade susun berakhir dengan kemarahan sang adik ipar.
Tak lama setelah itu, Nicko sukses membuat Jade dan Maria terkejut. kedatangan Nicko yang secara tiba-tiba dengan seluruh keluarga langsung membuat kedua pasangan tersebut ketar-ketir. hingga pada akhirnya, pertemuan kedua keluarga tersebut berakhir dengan penolakan Karina yang cukup membuat kedua belah pihak keluarga merasa di rugikan.
Plak... Rose, Ibu dari Nicko lantas melayangkan tamparan keras pada putra satu-satunya dengan alasan sudah membuat malu keluarga.
"Kau akan menikahi gadis itu? apa kau tidak waras? dia bahkan menolak lamaran mu! tanpa memperdulikan nama baik keluarganya sendiri." gerutu Rose dengan emosi yang memuncak meninggikan suara.
Nicko meraih tangan ibunya, mencoba untuk memberikan penjelasan. "Ini tidak seperti yang Mama pikirkan! kami sedang bertengkar..."
"Apa? bertengkar?" Rose menyela ucapan Nicko dengan mata yang memincing. "seberapa besar masalah kalian sampai dia tak menghargai keluarga kita? kau pikir ini semua main-main?"
__ADS_1
"Ti... tidak seperti itu, to... tolong dengarkan penjelasan ku. ini lebih buruk dari apa yang Mama pikirkan!" tegas Nicko memekik.
"Lalu apa? kau mengkhianatinya?"
"Lebih buruk dari itu!" sahut Nicko menjawab cepat dengan emosi yang terpancing.
Rose tertegun, pandangannya sama sekali lepas dari Nicko. pernyataan yang Nicko berikan cukup membuatnya penasaran.
"Aku... aku..." Nicko berdecak frustasi "Aku tidak bisa menjelaskannya! kau pasti akan kecewa. tolong buanglah seluruh penilaian buruk mu terhadap Karina. karena aku yang jauh lebih mengenalnya dari pada Mama!" tukas Nicko yang sama sekali tak memberikan penjelasan apapun untuk menutup rasa kecewa Mamanya.
Rose meraih bantal sofa dan memukulkannya pada Nicko dengan sangat marah. "Kau masih ingin menyembunyikannya dariku! berani sekali kau, dasar anak kurang ngajar!"
Nicko mencoba menghindari pukulan dengan ekspresi memelas. "Berhenti memukulku, aku hanya tidak ingin banyak yang terluka. itulah alasanku kenapa aku diam!" tukas Nicko memekik.
"Terluka apanya? kau bahkan sudah membuatku terluka, bahkan jauh lebih dari itu."
"Hentikan," Nicko memekik, menghindari pukulan. "Karina hamil." imbuhnya hingga langsung membuat Rose terpaku.
"Kau... kau bercanda?" sahut wanita paruh baya itu dengan ekspresi datar.
Nicko menelan salivanya dengan bersusah payah setelah melihat keterkejutan sang Mama. pria itu lantas menggelengkan kepalanya perlahan, yang berarti jika Nicko benar-benar serius dengan ucapannya.
Rose kehilangan seluruh energinya. sebagai seorang Ibu, Rose merasa gagal setelah mendengar pengakuan Nicko yang sangat memalukan. wanita paruh baya itu menjatuhkan tubuh lemasnya di atas sofa dengan tatapan kosong.
"Ma... maafkan aku," dengan penuh sesal Nicko merengek mendekati sang Mama untuk menenangkannya.
"Jangan bicara!" deruan nafas Rose sudah tidak beraturan, "Akan ku bunuh kau dasar bocah sia*lan!" jerit Rose kembali memukuli Nicko dengan bantal sofanya. "Dimana gadis itu? kenapa dia menolakmu, jika kau memang menghamilinya." imbuh Rose memecah kemarahan.
__ADS_1
Nicko pasrah, kemarahan sang Mama ia anggap sebagai sesuatu yang wajar karena pada akhirnya tidak hanya Karina yang ia kecewakan.
LIKE KOMEN DAN VOTE...