
"Karina," Nicko langsung membawa wanita itu keluar ruangan guna melerai keributan.
Karina terdiam, ia bertanya-tanya. dari mana Nicko berasal kenapa pria itu ada di sini? tanpa mengurangi rasa kesal, Karina melepas paksa tubuhnya yang Nicko rengkuh lalu berkata. "Kau, dasar penguntit!" pekik Karina menghardik.
Mungkin beberapa orang menganggap, jika ini bukanlah sikap Karina. Namun, sakit hati yang Karina derita berhasil mengubah segalanya. Karina cenderung lebih sensitif, emosinya menjadi mudah terpancing setelah masalah itu terjadi.
"Jangan lampiaskan kekesalan mu pada pria itu, ia tak salah apapun." ucap Nicko lembut menenangkan.
Karina berdecak kasar. hembusan nafas kasarnya berartikan jika Karina benar-benar sudah sangat prustasi. bagaimana tidak? bahkan lima tahun lamanya, ia belum bisa sepenuhnya melupakan Nicko. dan sekarang, Nicko terus saja muncul memainkan emosi Karina.
"Sayang, jangan libatkan masalahmu kedalam pekerjaan. kau bisa saja mendapat tuntutan atas tindakanmu barusan," bujuk Nicko senada menggoda.
"Huft..." Karina menghembuskan nafas panjang. ia berusaha menahan diri, agar lebih bisa mengendalikan diri dari emosinya. "Katakan, sedang apa kau disini?" tanya Karina dingin.
"Tentu saja untuk menemuimu, apa lagi?" sahut Nicko dengan cepat.
Sudah Karina duga. gadis itu langsung mendorong Nicko lalu memekik memanggil seorang perawat yang berjalan melewati keduanya. "Hey, tunggu."
"Iya, Dokter?" sahut perawat itu menghampiri.
"Cepat panggil keamanan, usir pria gila ini. dia hanya pengganggu!"
Perawat itu mengalihkan tatapan kearah Nicko dengan ekspresi datar. "Tapi dia pasien disini," sahut perawat tersebut pada Karina.
Karina terkejut, ia langsung menatap Nicko tajam kemudian berkata. "Kau sakit apa? kenapa tidak bilang?" cecar Karina spontan meraih wajah Nicko seolah memeriksa.
Semburat senyum Nicko tercipta. kecemasan yang Karina berikan, cukup membuat Nicko yakin jika wanita tersebut masih mencintainya.
__ADS_1
"Aku sudah menawarkan penanganan pertama, tapi ia bersikeras untuk menunggu dan mencari mu kesini." imbuh si perawat menjelaskan.
Karina menganggukan kepalanya perlahan. "Baiklah, terima kasih. kau boleh pergi," ucap Karina tersenyum canggung.
"Saya permisi, Dokter."
Setelah perawat itu berlalu. Karina langsung melangkah sambil menarik tangan Nicko dengan cepat menuju ruangannya. hal ini Karina lakukan, Karina ia takut jika sakit yang Nicko derita cukup serius. mungkin dengan ini, Karina bisa sedikit meredam kemarahan meskipun sesuatu yang Nicko dan Helen lakukan benar-benar sangat keterlaluan.
"Masuklah," ucap Karina membuka pintu ruangan, di ikuti Nicko yang mengekor di belakangnya.
Nicko masih terdiam, tak banyak kata yang pria itu keluarkan. saat Karina menggenggam erat tangannya, pria itu merasa jika ia masih memiliki banyak harapan untuk kembali membawa Karina kedalam pelukannya.
"Kau masih sanggup berjalan? berbaringlah? atau kau mau duduk?" tanya Karina khawatir sambil memandang sendu wajah pria tersebut.
"Bagaimana jika berbaring saja? lagi pula ini terasa begitu menyakitkan. kau akan menyembuhkan ku secara luar dan dalam bukan?" rengek Nicko mengeluh manja.
"Jantungmu berdebar sangat cepat, apa kau merasa sangat lelah? bagaimana nafsu makanmu? apa kepalamu pusing? perutmu sakit? apa kau masih sering mengkonsumi alkohol?" cecar Karina melempar begitu banyak pertanyaan.
Nicko tersenyum nanar, ia terus memandang kagum kecantikan Karina sambil meraih tangan wanita cantik tersebut yang berada di atas dadanya. "Jantungku memang selalu berdebar cepat saat kau berada di sisiku. setelah kau pergi, nafsu makan ku berkurang drastis. aku menderita sakit kepala yang berkepanjangan saat aku mengingat namamu. perutku juga sering sakit, karena aku lebih mengutamakan alkohol dari pada makanan."
Karina menelan salivanya dengan bersusah payah. meskipun jawaban yang Nicko berikan terdengar sangat berlebihan. Namun, Karina masih berpikir jika yang Nicko derita tersebut adalah bentuk dari gejala penyakitnya. "Bagaimana hasil pemeriksaan sebelumnya? kau sudah mengecek penyakitmu? apa yang mereka katakan? lambung mu bermasalah, radang usus? pusing yang kau alami akibat gegar otak atau..."
Cup... pria itu langsung membungkam bibir Karina. Nicko mengecup bibir wanita tersebut guna menutup pertanyaan yang Nicko sendiri tidaklah mengerti. sudah Nicko katakan, dirinya datang hanya untuk menemui Karina. dan Nicko sendiri tidak sedang menderita penyakit apapun.
"Mmmm..." Mata Karina membulat, ia langsung memberontak mencoba melepaskan diri dari Nicko yang terus menghisap bibirnya. "Apa yang kau lakukan? ini rumah sakit! apa kau tidak waras?" gerutu Karina jengkel.
"Aku sangat merindukanmu, Karina. aku tidak bisa tahan melihat bibir merah muda mu yang begitu menggoda. bibir itu bahkan selalu menjadi penghantar tidurku setiap malam, saat kita masih bersama. dan setelah itu kita akan langsung melakukannya," tukas Nicko memelas.
__ADS_1
Karina menghela nafas kasar, ia masih memposisikan dirinya sebagai dokter dan berusaha untuk tidak menanggapi kegilaan Nicko dengan emosinya.
"Pikirkan kesehatanmu, dan sekarang berikan aku riwayat pemeriksaan mu sebelumnya." celetuk Karina polos.
Nicko tersenyum nanar, ia tak menanggapi apa yang Karina katakan. pandangannya hanya tertuju pada kepolosan wanita tersebut. kepolosan yang sama, seperti saat mereka masih bersama.
"Kenapa kau diam, Nicko jawab aku." tegas Karina dengan nada bicara yang sedikit di tekan.
Nicko menggelengkan kepalanya, ia menarik tangan Karina hingga wanita itu berada sangat dekat dengannya. "Aku sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit apapun," bisik Nicko di daun telinga Karina. deruan nafasnya berhasil membuat area di sekitar ceruk Karina merinding.
"La... lalu kenapa kau disini? ke... kenapa perawat itu mengatakan jika kau adalah pasien." Karina menegaskan pandangannya, menatap dua bola mata indah milik Nicko. "Jangan sembunyikan apapun dariku," lirih Karina membujuk. Tingkah Karina terlihat begitu menggemaskan. ia meraih wajah Nicko dan mengelusnya dengan mata yang menggenang. "Katakan, Nicko. aku akan menyembuhkan penyakitmu, bagaimana pun caranya."
Apa ini? Nicko memang merasa sangat beruntung saat Karina kembali bersedia mengelus wajah dan berbicara lembut padanya. Akan tetapi, Nicko memang benar-benar tidak menderita apapun dan tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Karina.
"I... ini," ucap Nicko kikuk sambil menunjukan luka di ujung jari telunjuknya.
"Apa?" Karina mengeratkan giginya, sambil meraih jari tersebut melihatnya dengan seksama.
"Aku datang untuk ini," sahut Nicko mengerucutkan bibirnya.
"Apa ini luka sayatan? kau datang ke rumah sakit sebesar ini hanya untuk memeriksa jarimu yang tergores pisau? luka itu bahkan terlihat sudah kering!" Sejenak Karina memundurkan tubuhnya menjauhi Nicko. "Keterlaluan!" pekik Karina hilang kesabaran.
"Aduhh sakit," Rengek Nicko guna menarik kembali perhatian Karina. "Jariku aduh, tolong siapapun tolong jariku sangat sakit."
Karina meremat Jari Nicko penuh kekesalan, ia merasa sangat di permainkan. bahkan wanita itu sudah berpikir terlalu jauh saat pria itu mengeluhkan segala sesuatu yang Karina katakan.
LIKE KOMEN DAN VOTENYAA...
__ADS_1