
Keesokan harinya, tanpa alasan dan ijin tertentu. Karina memilih untuk tidak bekerja, wanita itu terus saja mengurung diri di dalam kamar. di lihat dari sorot matanya yang kosong, dan sedikit menghitam. sepertinya Karina hanya terus terdiam duduk di bibir ranjang sambil memeluk kaki yang di tekuk. sesekali air matanya menetes. Namun, secepat kilat Karina juga menyekanya.
Karina merasa, ini lebih menyakitkan dari sebelumnya. padahal ini semua adalah keinginan Karina. seolah bak penyakit, saat sedang kesal dan kesulitan untuk mengendalikan amarah. ucapan Karina akan terasa menyakitkan dan memakan korban perasaan orang lain.
"Nicko, aku tak ingin kau berhenti mengejar ku. aku tak ingin ini semua berakhir begitu saja. aku menolak pertemanan. aku ingin menjadi kekasihmu seumur hidup saja," lirih Karina terisak.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. tapi sesuatu yang sedang Karina tunggu tak kunjung muncul. dimana kebiasaan Nicko sebelumnya? pria itu bahkan menghentikan cara identiknya yang selalu menjadikan air panas sebagai alasan.
"Jangan, cepat minta air panas padaku. aku akan memberikan pemanasnya padamu, atau jika perlu kita tinggal bersama saja." Karina meremat sprei yang ia duduki. wanita itu terlihat begitu prustasi. perasaannya terlah menyiksa dirinya sendiri. "Nicko..." pekik Karina memohon.
Andai saja Karina bisa menurunkan sedikit harga dirinya dan mengatakan itu secara langsung di hadapan Nicko. mungkin saja pria itu akan senang hati mendengar dan mempertimbangkan kembali penyerahannya terhadap Karina. mereka bisa membicarakan hal tersebut dengan kesepakatan baru sampai tak akan ada lagi hat yang terluka.
Tok... tok... Ketukan pintu terdengar. seketika Karina tersentak dan langsung beranjak melangkah menuju pintu guna melihat siapa yang datang.
"Nick..." ucapan Karina terhenti, begitu ia malah mendapati Sandra dan Renata yang sedang berdiri di hadapannya.
"Hay..." sapa Sandra ramah.
Karina tak langsung membalas sapaan gadis tersebut, pandangannya justru tertuju pada wanita yang sedang berdiri di sebelah Sandra. Karina bisa mengingat dengan jelas, saat ia kembali melihat wajah Renata. tepat kemarin Karina di salahkan akibat permasalahan yang sedang menimpa Renata dan Christian. sepertinya, kali ini ia akan kembali mendapat teguran.
"Ke... kenapa dia..."
__ADS_1
"Ah..." Sandra langsung menyela ucapan Karina agar tidak membuatnya salah paham, "Aku berencana datang. dan dia ingin ikut bersamaku. jangan takut, kali ini dia jinak." celetuk Sandra meledek.
"Hey!" Renata melipat tangan dengan tatapan yang menajam, "Apa kau sedang menghina calon kakak iparmu?"
"Aishh..." Sandra tersenyum getir, "Aku bahkan belum mengatakan setuju." imbuhnya dengan suara terendah.
Karina menghela nafas panjang. ia melebarkan pintu lalu berkata, "Masuklah." titahnya mempersilahkan.
Kali pertama untuk Renata datang berkunjung. Namun, bagi Sandra ini adalah kali keduanya. seolah sudah mengenali setiap detail sudut ruangan, Sandra langsung menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang Karina. sedangkan Renata, ia mengamati aroma asap yang tidak asing dalam ruangan tersebut.
"Karina, kau merokok?" tanya Renata, dugaannya juga semakin kuat saat wanita itu melihat sebuah puntung yang masih membara.
"Bagus, berikan aku sebatang!" timpal Renata mengulurkan tangan sambil meletakan tasnya di atas ranjang.
"Hah?" Karina terlihat terkejut dengan mulut yang sedikit terbuka. apa ini? Karina bahkan berpikir jika Renata dan Sandra adalah dua wanita bersih yang tidak pernah menyentuh benda tersebut.
Sandra beranjak, ia menatap Karina sambil terkekeh. "Tidak usah terkejut, kau pikir apa? kita para dokter juga bukan orang yang suci. aku juga sering melakukannya."
Renata mengangguk, setelah menghembuskan asap ke udara. "Kau benar, masalah pribadi masalah orang lain. bagaimana kita bisa menyembuhkan orang lain, jika kita tidak bisa menangani diri sendiri."
Beberapa waktu lalu Karina sempat mengatakan pada Nicko. jika pria itu harus mengurangi kebiasaan buruknya. Namun, Karina sendiri selalu melakukan hal itu guna menghilangkan rasa stresnya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita selesaikan semua ini." Karina langsung meraih sesuatu dalam nakasnya. wanita cantik itu langsung mengeluarkan sebotol vodka dengan dua alis yang terangkat melirik kearah Renata dan Sandra secara bergiliran.
"Aku mengerti, apa masalahmu. kenapa kau tidak bekerja hari ini?" tanya Sandra penasaran sambil mengambil alih minuman dari Karina.
"Entahlah," Karina menghela nafas kasar dengan mata yang menggenang. "Aku menolak tapi aku sendiri yang terluka," ucap Karina memelas.
Sandra dan Renata melihat, Karina nampak sangat menyedihkan. Renata langsung meraih gelas, sedangkan Sandra yang menuangkan vodka tersebut lalu memberikannya pada Karina.
"Itu semua tidak ada apa-apanya! aku berulang kali di campakan oleh Christian." sejenak Renata melirik kearah Sandra, "dan si bodoh ini juga terlibat." umpatnya jengkel.
"Hey, aku sudah menjelaskan alasannya. jangan terus menyalahkan ku. kau tahu sendiri bagaimana ayahku!" tukas Sandra menjelaskan penuh rasa sesal.
Renata mengerucutkan bibirnya. ia langsung meraih botol dan menenggak vodka itu dalam jumlah banyak.
"Hah?" Sandra mencoba merebut vodka tersebut guna menghentikan aksi gila Renata. "Jangan sampai mabuk, aku tidak bisa mengurus mu saat kau tidak sadarkan diri." pekik Sandra memperingati.
Sejenak Karina bisa melupakan masalah pikirannya. cukup menyenangkan, disaat Karina merasa terpuruk sendirian, ada dua orang wanita yang satu frekuensi dengannya. mereka bahkan menghabiskan beberapa botol vodka dan berbatang-batang rokok guna meringankan beban tersebut. gaya bicara Karina dan Renata sudah mulai melantur.
Namun, Sandra cukup tahan. ia merasa tak ada masalah yang cukup serius dalam hidupnya. itu sebabnya Sandra memilih untuk tidak ikut minum. untuk berjaga-jaga, karena setelah ini ia di haruskan untuk menyetir membawa pulang Renata dalam keadaan mabuk berat.
LIKE KOMEN DAN VOTE
__ADS_1