
Maria menyandarkan wajahnya di dada bidang milik Jade. wanita yang memiliki hubungan darah dengan Karina itupun mengelus mesra wajah sang suami kemudian berkata. "Aku merindukanmu," ucap Maria menggoda.
"Aku tau apa yang kau inginkan, kita harus menunda sebelum Anna bisa kita disiplinkan."
Bibir Maria mengerucut sebal, gerak-geriknya terlalu mudah untuk di pahami oleh Jade. Namun, apa mereka harus menunda ritual di atas ranjang? hanya karena Anna, gadis kecil mereka susah untuk di peringatkan.
"Sayang, kau dengar itu?" Maria lantas memelankan suara volume televisi, saat suara riuh mobil mengetuk pendengarannya.
"Ya..." Jade mengangguk, "itu di luar."
Mereka lantas beranjak, mendekati jendela lalu membuka sedikit gorden guna mengintif.
"Jade, kenapa ramai sekali? kau mengundang seseorang?" tanya Maria heran.
Jade menggelengkan kepalanya kemudian menjawab, "tidak. aku tidak ada janji dengan siapapun."
Maria melebarkan bola matanya, sambil menepuk bahu sang suami. "Itu Nicko, dia... kenapa dia membawa begitu banyak orang kesini?"
Tokk... tokk... suara ketukan pintu pun terdengar, kedua pasangan suami istri itu pun melirik kearah pintu secara berbarengan lalu melangkah bersama untuk membukanya.
Semburat senyum Nicko tercipta, begitu pintu utama terbuka. pria itu menelisir dalam ruangan melalui sorot matanya, kemudian berkata. "Aku datang untuk melamar Karina."
Deg... Pernyataan Nicko lantas membuat Jade dan Maria tercengang. begitupun dengan Anna yang sedari tadi sudah memperhatikan dari lantai dua.
***
Christian menarik tangan Renata, dan membawa wanita cantik itu masuk kedalam ruangannya.
Kisah cinta Christian dan Renata memang tidak kalah rumit dengan masalah yang sedang Karina dan Nicko jalani. mungkin bisa di katakan, hubungan mereka jauh lebih menyedihkan karena sudah menyeret dua pihak keluarga.
Secara garis besar, masing-masing diantara Christian dan Renata sudah merencanakan pernikahan. Namun, rencana itu harus kandas sebelum terealisasikan. karena, pihak keluarga dari Christian menentang keras hubungan keduanya. mereka menganggap, Renata hanyalah seorang dokter magang biasa. bukan dari keluarga terpandang. sedangkan Christian, memiliki koneksi penting dalam bidang tersebut. tidak sedikit pula, rumah sakit dari berbagai daerah yang sudah mengenakan jasa keluarganya untuk mengembangkan kesuksesan.
__ADS_1
"Aku benar-benar tertarik pada, Karina. kau jangan mengganggunya," ucap Christian memperingatkan Renata.
Ucapan tersebut begitu menusuk. Namun, Renata masih percaya kepada cintanya. ia memandang Christian, sambil meraih tangan pria tersebut. "Kau bohong kan? ini semua sudah kau rencanakan."
"Tidak, aku akan tetap mengejar Karina. terserah apa yang kau pikirkan, ini terlalu jahat. tapi aku yakin, cepat atau lambat aku bisa melupakanmu melalui dia."
"Tidak!" Renata memecah tangisan, menolak keras apa yang Christian katakan. "Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi," pukulan halus Renata daratkan. "Kau hanya milik ku!"
Christian berdecak kasar, pria itu merengkuh bahu Renata dengan tatapan yang menajam. "jangan keras kepala, Renata! apa kau ingin karir mu hancur, hanya karna kau memilih untuk hidup bersama ku?"
"Aku tidak perduli, yang aku inginkan hanya dirimu! tolong mengertilah," lirih wanita tersebut memohon sambil terisak.
Bagaimana Christian menyembunyikan perasannya. sungguh, Christian benar-benar tidak tega melihat Renata memohon agar keduanya masih tetap bersama. tetapi, jika ini semua tetap di teruskan. maka hidup Renata akan begitu mudah keluarga Christian hancurkan. demi keamanan wanita tersebut, Christian harus membohongi perasaannya sendiri. agar kehidupan Renata tidak di hancurkan oleh keegoisan keluarganya.
Di tempat lain, Karina menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon beras yang tertanam di halaman rumah sakit. seperti biasa, Karina akan mencampur adukan perasaan atas rasa lelahnya hari ini. belum lagi, ia masih sangat berduka atas kepergian Helen. Karina merasa, beban hidupnya cukup membuat wanita itu semakin gila.
"Johan," Karina mempertegas tatapan saat melihat seorang pria jangkung yang ia kenal datang menghampirinya.
Bahu Karina menyusut setelah wanita cantik itu menghembuskan nafas panjang. Karina menggeser tubuhnya, dan memilih duduk di sebuah kursi taman yang tersedia lalu berkata. "Bagaimana kabarmu? sudah menerima surat dari Helen?"
Johan mengangguk, pria itu lantas duduk sejajar di sebelah Karina sambil menggenggam surat dan jaket tebal peninggalan kekasihnya. "Aku baik, kau sendiri?"
"Begitulah," Karina tersenyum kecut menatap wajah Johan yang masih di rundung kesedihan.
Drttt... Drrt... ponsel Karina bergetar, tampilan layar menunjukan jika Jade-lah yang memanggilnya.
"Iya, Kak?" ucap Karina setelah menjawab panggilan.
"Bibi..."
Karina menjauhkan ponsel dari telinganya, ia kembali memastikan jika itu memanglah nomor ponsel milik sang kakak ipar. "A... Anna?"
__ADS_1
"Bibi cepat pulang, paman Nicko bersama keluarganya datang. paman Nicko mengatakan, jika ia ingin melamar bibi dan membuktikan keseriusannya."
Mulut Karina sedikit terbuka dengan bola mata yang melebar, "Astaga. kenapa dia begitu memaksa," gerutu Karina kesal. "Anna, dengar ini. Bibi tidak akan pulang! katakan pada mereka semua, sampai kapanpun, Bibi tidak akan pernah menerima pria itu untuk menjadi suamiku." tegas Karina memekik, lalu memutuskan panggilannya secara sepihak.
Johan mengerutkan dahinya, dengan tatapan bingung pria itu pun memulai kembali pembicaraan. "Apa itu Nicko?"
Karina menganggukan kepalanya dengan cepat, "Ia terus memaksa. kemanapun aku pergi, ia terus saja mengikutiku!"
Johan memiringkan senyumnya, "Apa kalian masih bertengkar?"
"Hey..." Karina menajamkan tatapannya pada Johan. "Aku bahkan sudah tak ingin melihat wajahnya,"
Johan menghela nafas kasar, pria itu mendongakan kepalanya memandang keatas langit malam yang terlihat begitu terang di hiasi bintang-bintang. "Maafkanlah Nicko, lagi pula ini bukan salahnya."
"Bukan salahnya? lalu salah siapa? salahku?"
"Ya..." Johan memalingkan wajahnya menatap Karina datar, "Ini semua adalah salahmu."
"Aku?"
"Aku dan Helen bahkan sudah memperingatkan mu, berulang kali. tapi kau terus menyangkal, dan tetap mempercayainya dengan alasan cinta." ucap Johan mengingatkan.
Karina menelan salivanya, bibirnya bergetar. tatapan matanya terlihat kosong setelah mendengar pernyataan Johan.
"Jangan terus menyalahkannya, semua itu tidak akan pernah terjadi jika saat itu kau mendengarkan aku dan Helen." sejenak Johan mengukur senyum di wajah tampannya, sambil mengelus lembut pucuk kepala Karina. "Kebencian hanya akan membawamu kedalam rasa sesal. aku mengerti, kau membenci Nicko karna kau sudah di jadikan jaminan. akan tetapi, kau sendiri yang mengatakan. hanya akan ada dua kemungkinan, dirimu atau orang lain yang akan terpengaruh. dan itu semua benar, kaulah yang terpengaruh, Karina. kau di butakan oleh kebencian yang kau buat sendiri."
Setetes air mata Karina mengalir, "Kau..."
"Maaf karena sudah mengatakan ini padamu, aku tau kau terluka. tapi Nicko jauh lebih terluka, kalian melakukannya atas dasar suka sama suka. rasanya tak adil saat kau terus menyalahkannya, akan tetapi kau masih mencintainya."
Bayang-bayang itu muncul, Karina kembali di ingatkan saat dirinya di desak paksa oleh Helen dan juga Johan pada saat kedua orang tersebut memaksa Karina untuk meninggalkan Nicko dan berfokus pada pendidikannya. bahkan bukan hanya sekali dua kali, Karina bahkan sempat mendapat perlakuan dingin dari Helen maupun juga Johan lantaran wanita itu tidak pernah mendengarkan mereka.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTENYAAA...