
Dalam lingkaran meja, Karina duduk tepat di sebelah Nicko. keduanya terus saling menatap dengan ekspresi yang berbeda. Karina dengan kesal, terus menyorot Nicko penuh kebencian. sedangkan Nicko, dengan penuh kesabaran terus menyorot Karina dengan tatapan menggoda.
"Cepat pergi dari sini," usir Karina melotot dengan suara terendah.
Anna yang sedang berada di hadapan Karina pun mendengar hal tersebut, kemudian berkata. "Bibi, kenapa kau terus saja mengusir Paman?"
Karina berdecak sebal mengalihkan sorot matanya pada Anna, "Hey. dia bukan pamanmu, kau mengerti?"
"Tidak, aku menyukainya. dia pantas menjadi pamanku."
Kedua alis Karina terangkat dengan bola mata yang melebar, wanita cantik itu lantas memiringkan senyum lalu menjawab. "Kalau begitu, kau nikahi saja dia. jangan mendesak ku!"
"Aku masih kecil, Bibi." ucap Anna sambil mendaratkan pelukan ke tubuh Nicko.
Maria dan Jade terus saja memperhatikan mereka. kedua orang itu memang tidak tahu apapun. itu sebabnya, mereka mendukung penuh atas hubungan Nicko dan Karina.
"Ku pikir, kita tidak perlu menundanya lagi. aku akan bicara pada Nicko agar segera dapat membawa keluarga untuk menikahi Karina." ucap Jade pada Maria. tanpa mengalihkan sorot matanya menatap Nicko dan Karina.
Maria mengangguk sambil melirik kearah yang sama seperti suaminya, "Kau benar, mereka tampak serasi. aku yakin Karina akan hidup bahagia bersama Nicko. meskipun sekarang mereka sedang bertengkar."
"Pertengkaran itu biasa, aku yakin jika kita memberikan keduanya kesempatan. maka semua akan kembali normal." celetuk Jade dengan maksud lain.
Maria mengerutkan dahinya, ia sedikit kurang mengerti apa yang di ucapkan suaminya barusan. Namun, setelah beberapa saat. wanita itu lantas melebarkan bola matanya lalu menjawab. "Kau yakin? bagaimana jika..."
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jade mengerutkan dahi.
"Kesempatan apa yang kau maksud?"
Jade menghela nafas panjang, lalu mengerjap. "Kesempatan agar Nicko dan Karina bisa segera menyelesaikan masalah di antara mereka. apa lagi?"
Maria tersenyum kikuk. sepertinya ia berpikir terlalu jauh. "Kau benar, ia tidak akan mudah di tiduri oleh Nicko. Karina itu pintar, traumanya terlalu kuat."
Padahal jauh dari itu semua. Karina dan Nicko sudah pernah tidur bersama, keduanya bahkan sempat akan menjadi Ibu dan Ayah. meskipun semua itu berakhir sebelum terealisasikan.
__ADS_1
"Anna..." Jade dan Maria menghampiri anak gadis kecilnya.
"Kenapa?" tanya Anna memalingkan wajahnya.
"Waktunya tidur, pergi ke kamarmu sekarang." titah Jade santai.
"Tapi aku..."
Maria langsung mendekati Anna dan mengelus kepalanya, "Jangan membantah. atau jika tidak, besok akan ada pihak asrama yang datang untuk menjemputmu."
Anna mengerucutkan bibirnya. ancaman tersebut memang selalu sukses membuatnya takut. gadis kecil itupun langsung melangkah, berlalu menuju lantai atas untuk segera masuk kedalam kamarnya.
"Anna, Bibi ikut." ucap Karina mendirikan tubuhnya.
"Tidak." pekik Maria menolak spontan.
Karina mengerutkan dahinya, mengalihkan sorot matanya perlahan kearah Maria penuh keheranan.
"Ma... maksudku, kau harus menemani Nicko. aku dan Jade ada urusan sebentar." tukas Maria tersenyum canggung.
"Ini sangat darurat Karina, mengertilah." celetuk Jade sambil berlalu membawa Maria pergi bersamanya.
Semburat senyum Nicko tercipta, pria itu lantas menarik tangan Karina hingga ia jatuh tepat di atas pangkuan Nicko.
"Hey..." Karina memekik, emosinya meningkat drastis secara spontan. "Apa kau tidak waras? kenapa kau sangat lancang?"
Nicko meraih wajah Karina. Namun, wanita itu berhasil menepis tangan Nicko dengan cepat.
"Jangan bergerak, kau sedang mendudukinya sekarang." goda Nicko memperingatkan.
Seketika Karina langsung terdiam. ia langsung tak bergerak dengan bibir yang bergetar penuh ke khawatiran. "Le... lepas, aku tidak ingin mengambil resiko." ucap Karina terbata.
Cup... Nicko mengecup bibir Karina singkat hingga membuat Karina semakin terbelalak.
__ADS_1
"Hey," Karina memberontak, mendaratkan pukulan halus di atas bahu Nicko. "Beraninya kau..."
"Karina, jangan bergerak!"
Karina kembali terdiam dengan bibir yang terkunci rapat, bola mata gadis itu bergerak melirik ke bagian bawah tubuhnya lalu berkata. "Le... lepas," pinta Karina memelas saat bokongnya mulai merasakan ada sesuatu yang mengeras yang sedang Karina duduki.
"Dengan satu syarat," sahut Nicko picik.
"A... apa?"
"Maafkan aku," pinta Nicko tulus memohon.
"Tidak!" tolak Karina menajamkan tatapan.
"Baiklah, aku tidak akan melepaskan mu!" tegas Nicko mengancam.
Tenggorokan Karina tercekat, jantungnya berdetak cepat. hal ini pernah ia rasakan saat wanita tersebut menyadari rasa cintanya terhadap Nicko. sepertinya Karina masih menyimpan perasaan itu. Namun, kebencian Karina sudah menutup rasa cintanya. hingga ia tak bisa untuk mengontrol emosinya saat sedang bersama dengan Nicko.
"Kau diam? sedang memikirkan apa? sesuatu hal liar saat bersamaku. atau...?" Nicko mendekatkan wajahnya saat pria itu akan menyelesaikan kalimat terakhir.
"Diam!" bentak Karina kesal.
"Akui saja sayang, aku tahu kau masih sangat mencintaiku. kenapa harus jual mahal?"
Karina mengerjap, menghela nafas panjang kemudian menjawab. "Sejak kapan kau menilai ku mahal? aku akui, aku memang sulit untuk melupakanmu! bahkan aku masih ingat, bagaimana kau dan Helen menjadikan aku sebagai jaminan! aku mengingat segalanya, dan ingatan itulah yang membuat kebencian ku semakin melekat terhadapmu!"
Nicko mengerutkan dahinya seolah tidak senang setelah mendengar pernyataan Karina. pria itu lantas membenarkan posisi Karina dan semakin mengunci tubuh sang empu, agar Karina semakin sulit untuk terlepas darinya. "Sudahlah, kau terus saja mengungkit masa lalu. buka matamu Karina. aku ini datang, aku tidak meninggalkanmu, aku masih sangat mencintaimu. apa lagi yang kau inginkan?"
Karina terkekeh, wanita itu semakin memperkuat pandangan lalu berkata. "Datang? tidak meninggalkan? ketulusan?" Sejenak Karina mencengkram kuat kerah kemeja yang Nicko kenakan, "Untuk apa semua itu, jika alasan utamamu mencari ku hanya karena atas dasar rasa sesal? kau merasa bersalah karena sudah menyebabkan aku keguguran dan..."
Nicko langsung membungkam mulut Karina dengan bibirnya.
"Mmmm..." Karina mencoba memberontak, Namun pergerakannya sangatlah terbatas. tubuhnya terhimpit tangannya terkunci oleh cengkraman yang Nicko berikan. "sekali lagi kau bicara, aku tidak akan mengampuni mu."
__ADS_1
"Ken..."
Nicko kembali menyatukan bibirnya dengan Karina, pria itu terus memaksa dan mendesak lidahnya agar Karina dapat menerima ciuman yang Nicko berikan. suhu tubuh keduanya meningkat, tak terelakan. sentuhan Nicko yang terkesan memaksa memang sangatlah Karina rindukan. walaupun Karina terus saja menolak, penolakannya justru malah semakin membuat Nicko bergairah. gerakan tubuh Karina semakin membuat bagian bawah tubuh Nicko yang sensitif semakin mengeras.