
"Aduh," Sandra merengek sakit saat kakinya tidak sengaja tersandung, begitu gadis cantik itu akan memasuki mobilnya.
"Kau baik-baik saja?"
Sorot mata Sandra teralihkan, ia membenarkan posisi berdirinya saat seorang pria datang menghampiri memastikan keadaanya. "Aku... aku, baik." sahut Sandra kikuk terbata.
Sejenak Sandra melirik kearah amplop yang sedang Johan pegangi. meskipun sedikit ragu, pada akhirnya Sandra pun memulai pembicaraan, dengan sebuah pertanyaan. "Tu... Tuan Johan, apa kau sudah membaca isi pesan yang Nyonya Helen tinggalkan?"
"Tentu saja," Johan tersenyum tipis lalu, menatap Sandra dengan sorot mata heran. "Kau belum membaca pesannya?"
Sandra mengangguk canggung, "Aku... aku takan pernah membacanya."
"Kenapa?"
Dokter cantik itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ka... kau tau bukan? kesan ku untuk Nyonya Helen sangatlah buruk. aku takut, isinya pasti hanya sebuah kutukan."
Johan tersenyum kecut, mengangkat satu alisnya. "Kau berpikir begitu pada orang yang sudah meninggal?"
"Tidak aku hanya..."
"Baiklah," menghela nafas guna merilexan diri. "Kau tidak perlu membacanya, berikan saja padaku?" celetuk Johan menadangkan tangan.
Apa ini? Sandra mengklaim jika pria di hadapannya tersebut sedang tersinggung. padahal Sandra tidak bermaksud begitu, ia hanya takut karena sebelumnya Helen sempat mencaci maki dirinya.
"Ja... jangan salah paham, aku hanya khawatir. kau tentu tahu apa maksudku?" tukas Sandra menjalin keakraban.
Johan mengangguk, pria itu tetap tidak menurunkan tangannya dengan sorot wajah datar. "Aku mengerti, jadi berikan surat itu padaku."
"Kau ini kenapa?" Sandra mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku hanya menyampaikan kekhawatiranku! kenapa kau memaksa?"
"Aku tak ingin seseorang menyimpan prasangka buruk dan keraguan terhadap kekasihku yang sudah meninggal! apa aku salah?" sahut Johan tidak kalah kesal.
__ADS_1
Sandra berdecak, ia meraih tas mencoba mencari surat yang Helen tinggalkan untuk menyerahkan surat tersebut pada Johan.
"Tidak ada," tukas Sandra santai.
"Apa?"
"Aku lupa menaruhnya, sepertinya itu ada dalam laci ruangan kerjaku." ucap Sandra menjelaskan dengan bola mata yang bergerak.
"Baiklah," Joha langsung menarik tangan Sandra untuk membawanya kembali kedalam rumah sakit.
Mata Sandra membulat, ia memberontak mencoba melepaskan tangannya dari Johan. "Hey..." pekik Sandra jengkel, "Lepaskan aku, kenapa kau sangat memaksa!" gerutu Sandra sambil berjalan cepat mengikuti langkah Johan yang tergesa-gesa.
***
Karina terlihat bingung, ia menyandarkan tubuhnya di pintu apartemen. pandangan Karina sama sekali tidak terkontrol. wanita itu terus berpikir sambil bertanya-tanya.
"Ahhh, aku bahkan tidak tahu dimana kamar apartemennya." lirih Karina prustasi.
Karina mengalihkan sorot matanya pada seorang nenek tua yang beberapa waktu lalu sempat menyaksikan pertengkaran dirinya dan juga Nicko.
"Kau terlihat gelisah? apa kau masih bertengkar dengan suamimu?"
Karina mengangguk cepat, ia sama sekali tak menampik anggapan nenek tua tersebut.
"Pantas saja, suami mu sampai menyewa kamar lain. apa kau sudah mengusirnya?"
"Kau melihatnya?" seketika Karina langsung meraih tangan nenek tua itu, memperlihatkan ekspresi penuh sesalnya. "Dimana dia? aku ingin menemuinya."
"Aku melihatnya di lorong blok f. jika tida salah, nomor kamarnya adalah 107." sahut wanita tua itu memberi tahu.
Karina mengangguk, dengan tergesa-gesa ia berlalu kemudian berkata. "Terima kasih, aku akan memperbaiki hubunganku!"
__ADS_1
Nenek tersebut hanya tersenyum tipis. dalam hidup, tentu ia sudah sangat berpengalaman. terlebih, yang ia ketahui adalah, Nicko dan Karina adalah pasangan suami istri. berselisih paham lantaran kehilangan anak dalam kandungan. secara keseluruhan itu semua memang benar. Namun, Nicko dan Karina bukanlah pasangan suami istri seperti yang nenek itu bayangkan.
Karina mengetuk pintu dengan cukup keras, ia menekan bel berulang-ulang apartemen Nicko. wanita cantik itu terlihat sangat tidak sabaran, "Nicko, Buka..." pekik Karina memelas.
Ekspresi wajah Karina berubah seketika. saat pintu terbuka. sejenak Karina menelan salivanya, lalu memundurkan langkah dan berkata. "Kau..."
"Ada apa?"
Deg... senyuman santai yang Nicko berikan justru terasa begitu menyakitkan. Karina sadar, jika pria itu sedang menyembunyikan kekecewaannya.
"Kakakku mengatakan jika kau... jika kau... jika aku, kau," Karina menghentikan ucapan yang meracau. kegugupan dan rasa sesalnya berhasil membuat wanita tersebut tak berdaya. "Kau datang?" imbuh Karina menyusutkan bahunya.
Karina menghela menghembuskan nafasnya kasar, tanpa mengalihkan tatapan pria itupun menjawab. "Ya, tapi anak kecil itu sudah mengatakan segalanya." ujar Nicko penuh luka.
"Nicko aku," setetes air mata Karina mengalir.
"Kau benar, aku terlalu menganggap remeh sakit hatimu. aku benar-benar sangat egois, sudah melukai tapi tak mau pergi." Sejenak Nicko membuka lebar pintu apartemennya, untuk membawa Karina masuk kedalam. "Tapi bukankah kita masih bisa menjadi teman?"
Deg... Karina tertegun. ia semakin menajamkan tatapannya kearah Nicko tanpa mengedip, "Te... teman?" tanya Karina memastikan, jika wanita tersebut tidak salah dengar.
"Ya," Nicko menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Apa kau masih akan menolak? hanya seorang teman. aku akan menjaga batasan ku." imbuh pria itu mencairkan suasana.
Karina memalingkan wajahnya, ia mumutar badan guna menyembunyikan kenyataan pahit yang berhasil memancing air matanya.
"Karina kau baik-baik saja?" tanya Nicko memastikan.
"Ya," Karina menghela nafas panjang, sejenak ia mengerjap lalu berkata. "Aku akan pergi ke kamarku." ucap Karina dingin berpamitan.
Apa lagi yang Karina inginkan? kenapa ia merasa semakin sesak. bukankah semua ini adalah keinginannya, melihat Nicko menyerah dan tak lagi mengejarnya.
LIKE KOMEN DAN VOTE...
__ADS_1